Orientasi Seksual

Posted on September 6, 2008. Filed under: Uncategorized |

Orientasi sexual meupakan imajinasi akan personal yang sempurna dalam hubungan romantis dan sexual yang kita jalin dengan individu lainnya.

Ada beberapa orientasi sexual yang kita kenal yaitu :

Heterosexual, merupakan ketertarikan akan personal yang berlawanan jenis.
Homosexual, merupakan ketertarikan akan personal yang sejenis.
Homosexual pria lebih umum menggunakan istilah Gay dan homosexual wanita menggunakan istilah Lesbian.
Bisexuality, merupakan ketertarikan akan personal yang berlawanan jenis maupun yang sejenis.

Berdasarkan survey nasional dari 3000 orang dewasa di America (Michael, Gagnon, Lumann, & Kolata, 1994) bahwa 9 % dewasa pria pernah berhubungan sex dengan pria lainnya sejak masa pubertas. Dan sekitar separuh (4 %) dari pria yang memiliki pengalaman tersebut berlanjut menjadi homosexual sampai usia diatas 18 tahun. Dan 2,8 % pria mengidentifikasi diri mereka sebagai bisexual. Sedangkan pada wanita 4 % memiliki pengalaman berhubungan sex dengan wanita lainnya sejak masa pubertas dan selalu berlanjut hingga usia diatas 18 tahun. Dan 1,4 % wanita mengidentifikasi diri mereka sebagai bisexual.

Mengapa seseorang bisa menjadi homosexual?

Beberapa studi membahas hipotesis sebagai berikut :
1. Anak kembar memiliki faktor genetik yang bisa membuatnya menjadi homosexual. Apabila mereka kembar identik dan salah satunya homosexual maka kemungkinan kembarannya bisa homosexual juga lebih besar dari pada yang kembar tidak identik atau fraternal (Eckert dkk, 1986; Keadler dkk, 2000).
2. Atypical level hormon pada masa prenatal meningkatkan sikap seperti homosexual (Meyer-Blauberg dkk, 1995).
3. Pria Gay lebih menyukai pria yang lebih tua karena pria yang lebih muda memiliki level prenatal testosteron yang lebih rendah (Blanchard dkk, 1955). Hal ini mempengaruhi dan homoseksualitas pria. Sedangkan pada wanita perbedaan usia tidak berkaitan dengan prilaku homosexual.
4. Terdapat perbedaan bagian hypothalamus dan struktur otak lainnya antara heterosexual dan homoseksual (Allen dan Gorski, 1992; LeVay, 1991; Swaab & Hofman, 1990, 1995).

Psikolog John Morey (197b,1988) mengemukakan hipotesa bahwa pembelajaran sosial dan kombinasi dengan faktor biologis memiliki peranan dalam membetuk homosexualitas. Faktor-faktor biologi tidak bekerja sendirian karena banyak individu dengan faktor biologi diatas namun tidak menjadi homosexual. Hanya orang-orang yang memiliki pengalaman spesifik yang dapat menimbulkan orientasi homosexual.

Psikolog Daryl Bern (1996) percaya bahwa faktor predisposisi yang medorong prilaku sexual anak untuk lebih memilih bermain dengan lawan jenisnya menimbulkan prilaku sex yang tidak sesuai dengan gendernya dan memberi kesempatan pengalaman pembelajaran yang menggiring ke arah homosexualitas. Seorang homosexual yang pada saat mereka kanak-kanak bermain dengan lawan jenis mereka menjadi sangat familiar dengan lawan jenis tersebut sehingga mebangun ketertarikan sexual pada mereka. Hal ini dapat kita lihat dalam prilaku anak tersebut yang tdak sesuai dengan gendernya seperti emosi, rasa takut dan sebagainya. Namun demikian, berdasarkan penelitian, separuh dari pria gay (bahkan proporsinya lebih besar pada wanita lesbian) ternyata tidak menunjukkan prilaku sex yang tidak sesuai pada masa kanak-kanak.

So… Beware lah… Jangan ampe keturunan anak cucu ada penyimpangan orientasi seksualnya….

About these ads

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,086 other followers

%d bloggers like this: