Hubungan Kebiasaan Makan Junk Food dengan Obesitas

Posted on November 22, 2009. Filed under: Uncategorized |

1. Junk Food

Junk food adalah istilah yang mendeskripsikan makanan yang tidak sehat atau memiliki sedikit kandungan nutrisi. Junk food mengandung jumlah lemak yang besar. Makanan cepat saji seperti hamburger, kentang goreng dari McDonald, KFC dan Pizza Hut sering dianggap sebagai junk food.

Junk food termasuk kedalamnya jenis makanan yang tinggi kandungan garam, gula, lemak dan tinggi kalori serta rendah nutrisi. Makanan bergaram, permen, permen karet, makanan penutup yang mengandung gula, makanan cepat saji gorengan, dan minuman yang berkarbonasi adalah jenis junk food yang utama. Umumnya, junk food menawarkan sedikit protein, vitamin dan mineral dan tinggi kalori yang berasal dari gula atau lemak. Istilah nol kalori mencerminkan sedikit nutrisi pada junk food ini.

Junk food juga dapat diartikan secara harfiah menjadi “makanan rongsokan” atau bisa disebut juga “makanan tak berguna”. Makanan yang dijadikan sebagai perilaku gaya hidup yang muncul karena globalisasi dan modernisasi ini ternyata tidak memiliki nilai-nilai nutrisi yang baik untuk kesehatan tubuh kita, sehingga sebutan junk food ini benar-benar sesuai untuk disandangnya.

Makanan-makanan yang disebut sebagai junk food yaitu makanan-makanan cepat saji (fast food) yang mengandung kadar lemak tinggi, contohnya pizza, hamburger, ayam goreng, keripik kentang berkeju, cemilan-cemilan lainnya seperti kentang goreng bermentega, sampai merambah ke minuman bersoda. Makanan-makanan ini jika kita konsumsi secara berlebihan akan mengganggu kesehatan kita, seperti kegemukan (obesitas), kencing manis (diabetes), tekanan darah tinggi (hipertensi), kanker, stroke, dan lain sebagainya.

Masyarakat di era modern ini ternyata terlalu berlebihan mengonsumsi junk food, bahkan dijadikan sebagai makanan favoritnya. Tidak aneh juga, karena iklan-iklan yang digencarkannya melalui televisi dan media cetak dapat memberikan pengaruh besar dalam mempromosikan junk food ini.

Gaya hidup berlebihan dalam mengonsumsi makanan ini dapat menyebabkan kegemukan yang akan memberikan pengaruh buruk bagi kita, terutama anak-anak. Salah satu dampak buruknya seperti timbulnya masalah dalam berperilaku sosial serta dapat menumbuhkan sifat yang cenderung emosional.

Bumi akan sehat kembali jika terciptanya lingkungan yang sehat, dan lingkungan yang sehat dapat tercipta dari gaya hidup yang sehat pula. Maka kesehatan kita sebagai manusia tidak akan terlepas dengan kesehatan lingkungan, begitu juga sebaliknya.

Sedikit demi sedikit kita bisa mencoba mengurangi makanan-makanan yang memang kurang bermanfaat bagi tubuh kita, mulai memperhatikan makanan yang dikonsumsi, sehat itu mahal sebenarnya, karena jika kita sekarang dalam kondisi sakit, kita tidak bisa mengerjakan aktivitas-aktivitas yang selalu dilakukan dalam keseharian kita.

Umumnya anak dan remaja merupakan golongan yang sering memakan junk food. Seorang ahli menyatakan bahwa terlalu banyak memakan junk food merupakan salah satu faktor yang mengkontribusi terjadinya obesitas pada anak. Orang tua biasanya mengenali kebanyakan junk food seperti permen, biscuit, donat, sereal, es krim, soda, dan minuman buah, namun biasanya orangtua tak terlalu memperhatikannya.

Sebagai tambahan, junk food tidak hanya makanan yang mengandung banyak gula, tetapi juga yang mengandung tinggi garam, atau tinggi kalori yang tidak mengandung nilai kalori seperti serat, vitamin dan mineral. Juga perlu diingat bahwa junk food bisa mengandung banyak kalori yang berasal dari gula atau lemak. Contoh junk food selain permen dan snack antara lain : hamburger daging, hamburger keju, tacos, roti lapis ayam, kentang goreng, nugget, nachos, keripik kentang, pizza.

2. Sejarah Junk Food

Sejarah fast food sudah ada sejak abad ke-19, saat dimulainya era indusri di Amerika Serikat. Saat itu, masyarakat memasuki dunia kerja ndustry dengan kebiasaan yang baru pula. Mereka harus bekerja 8-10 jam sehari, dengan waktu istirahat yang pendek, sehingga harus efisien dalam memanfaatkan waktu makannya.

Fast food saat itu hanya berupa snack bar yang dijual di kios-kios. Memasuki abad ke-20, mulai muncul restoran-restoran fast food seperti yang ada sekarang, disusul dengan era waralaba (franchise) sejak tahun 1950-an.

Kehadiran fast food langsung disukai oleh masyarakat karena cocok untuk gaya hidup orang modern. Cara penyajiannya cepat sehingga semua orang bisa menyantapnya sambil berdiri atau berjalan, bahkan jalan-jalan di taman kota. Bertahun-tahun gaya hidup serba instan itu berjalan, sampai akhirnya mereka tersadar bahwa maraknya fast food telah membuat jumlah orang gemuk di AS juga meningkat tajam. Tak hanya itu, obesitas juga menjadi masalah nasional yang sangat serius, karena banyak kasus kematian menimpa orang AS, terkait dengan masalah kelebihan berat badan.

Sebenarnya fast food tidak sama dengan junk food (makanan sampah yang hanya padat kalori). Bahan penyusun fast food termasuk golongan pangan bergizi. Yang penting dilakukan adalah bagaimana mengatur frekuensi makan fast food agar tidak dikonsumsi secara berlebihan. Junk food adalah kata lain untuk makanan yang jumlah kandungan nutrisinya terbatas. Umumnya yang termasuk dalam golongan junk food adalah makanan yang kandungan garam, gula, lemak, dan kalorinya tinggi, tetapi kandungan gizinya sedikit. Yang paling gampang masuk dalam jenis ini adalah keripik kentang yang mengandung garam, permen, semua dessert manis, makanan fast food yang digoreng, dan minuman soda atau minuman berkarbonasi. Pada makanan yang mempunyai label junk food biasanya kandungan vitamin, protein, atau mineralnya sangat sedikit. Junk food mengandung banyak sodium, lemak jenuh, dan kolesterol. Bila jumlah ini terlalu banyak di dalam tubuh, maka akan menimbulkan banyak penyakit. Dari penyakit ringan sampai penyakit berat macam darah tinggi, stroke, jantung, dan kanker.

Sodium tidak boleh kebanyakan terdapat di dalam tubuh kita. Untuk ukuran orang dewasa, sodium yang aman jumlahnya tidak boleh lebih dari 3300 miligram. Ini sama dengan 1 3/5 sendok the. Bila sodium terlalu banyak, maka dapat meningkatkan aliran dan tekanan darah sehingga bisa membuat tekanan darah tinggi. Tekanan darah yang tinggi juga akan berpengaruh munculnya gangguan ginjal, penyakit jantung, dan stroke.

Lemak jenuh berbahaya bagi tubuh karena zat tersebut merangsang organ hati untuk memproduksi banyak kolesterol. Kolesterol sendiri didapat dengan dua cara, yaitu oleh tubuh itu sendiri dan ada juga yang berasal dari produk hewani yang kita makan. Kolesterol banyak terdapat dalam daging, ayam, ikan, telur, mentega, susu, dan keju. Bila jumlahnya banyak, kolesterol dapat menutup saluran darah dan oksigen yang seharusnya mengalir ke seluruh tubuh. Tingginya jumlah lemak jenuh akan menimbulkan kanker, terutama kanker usus dan kanker payudara. Kanker payudara merupakan pembunuh terbesar setelah kanker usus. Lemak dari daging, susu, dan produk-produk susu merupakan sumber utama dari lemak jenuh.

Selain itu, beberapa junk food juga mengandung banyak gula. Gula, terutama gula buatan, tidak baik untuk kesehatan karena dapat menyebabkan penyakit gula atau diabetes, kerusakan gigi, dan obesitas. Minuman bersoda, cake, dan cookies mengandung banyak gula dan sangat sedikit vitamin serta mineralnya. Minuman bersoda mengandung paling banyak gula, sedangkan kebutuhan gula dalam tubuh tidak boleh lebih dari 4 gram atau satu sendok the sehari.

3.  Cara Mengenali Junk  Food

Dengan melihat label makanan maka dapat lebih mudah mengenali junk food, termasuk makanan yang mengandung sedikit nutrisi :

  • Lebih dari 35% kalori dari lemak ( kecuali untuk susu rendah lemak )
  • Lebih dari 10% kalori dari lemak jenuh
  • Mengandung lemak trans
    • Lebih dari 35% kalori dari gula, kecuali jika terbuat 100% dari buah-buahan dan tidak ada tambahan gula
    • Lebih dari 200 kalori per sajian makanan untuk snack
    • Lebih dari 200mg per sajian untuk sodium (garam) untuk snack

4. Menghindari Junk Food

Untuk menghindari junk food maka kita harus membiasakan memakan makanan yang sehat, seperti :

  • Makanan yang rendah lemak, lemak jenuh dan kolesterol
  • Makanan berserat tinggi, termasuk biji-bijian, sayur-sayuran dan buah-buahan
  • Makanan yang mengandung sedikit gula dan garam
  • Makanan tinggi kalsium
  • Makanan tinggi zat besi

Dengan memperhatikan komposisi nutrisi makanan pada label bungkus makanan, maka akan diketahui jumlah kalori per sajian, jumlah lemak, sodium, kolesterol, serat dan gula pada makanan tersebut.

Jumlah kalori yang diperbolehkan per sajian adalah 300 kalori. Jumlah lemak yang diperbolehkan adalah 30% dari total kalori sehari. Sodium per sajian tidak boleh lebih dari 2300mg perhari. Jumlah kolesterol juga tidak boleh lebih dari 300mg perhari. Serat dalam makanan juga harus ada dan jumlahnya boleh lebih dari 2g persajian makanan.

Kadar gula dalam sereal yang dibolehkan adalah sampai 4g, tetapi bila sereal mengandung buah-buahan kadar gula boleh sampai 8g.

5. Bahaya Junk Food

Junk food mengandung banyak sodium, lemak jenuh, dan kolesterol. Bila zat-zat itu tertimbun banyak di tubuh, dapat menimbulkan banyak penyakit. Dari penyakit ringan sampai penyakit berat,seperti darah tinggi, gangguan jantung, dan kanker.

Sodium adalah bagian dari garam. Dalam tubuh, jumlahnya tidak boleh lebih dari 3300 miligram. Kebanyakan sodium dapat meningkatkan aliran dan tekanan darah sehingga dapat menyebabkan tekanan darah tinggi yang dapat merembet ke gangguan ginjal, penyakit jantung, dan stroke.

Lemak jenuh adalah jenis lemak yang merangsang hati kita untuk memproduksi banyak kolesterol. Kolesterol sendiri didapat dengan dua cara. Pertama, dihasilkan oleh tubuh. Kedua, berasal dari produk hewan yang kita makan. Sebenarnya, kita tidak perlu menambahkan kolesterol masuk dalam tubuh karena tubuh kita sudah menghasilkan kolesterol.

Kolesterol banyak terdapat dalam daging, ikan, telur, butter, susu, dan keju. Bila jumlahnya banyak, kolesterol dapat menutup saluran darah. Tersumbatnya saluran tersebut mengakibatkan pasokan darah dan oksigen dalam darah tidak lancar ke seluruh tubuh, termasuk ke otak. Terhambatnya pasokan darah dan oksigen ke otak dapat menyebabkan stroke.

Satu lagi, tingginya jumlah lemak jenuh dapat menimbulkan kanker, terutama kanker usus dan kanker payudara. Fast food dan soft drink mengandung kadar gula yang tinggi. Konsumsi berlebihan, mengakibatkan peningkatan kadar gula dalam darah. Penumpukan gula ini merangsang tubuh untuk memproduksi insulin lebih banyak sehingga terjadi sindrom kadar gula di dalam darah. Akibatnya, badan jadi lesu, sulit konsentrasi, dan mudah marah. Lebih parah lagi, kadar gula tersebut diikuti peningkatan produksi hormon adrenalin yang mendorong remaja bersikap agresif.

Gula terutama gula buatan, tidak baik untuk kesehatan karena dapat menyebabkan kelebihan berat badan dan kegemukan atau obesitas, penyakit gula atau diabetes, kerusakan gigi, mengurangi kolesterol yang berguna, meningkatkan kadar lemak dalam darah. Makanan atau minuman yang mengandung banyak gula, antara lain cake, cookies, dan minuman bersoda (soft drink). Di antara semua di atas, minuman bersoda mengandung paling banyak gula. Pada satu kaleng minuman bersoda, mengandung sedikitnya sembilan sendok teh gula. Padahal, seharinya tubuh butuh empat gram atau satu sendok teh dan tidak boleh lebih.

Perlu juga diketahui, minuman bersoda tidak hanya mengandung banyak gula, tetapi juga mengandung kafein dan zat-zat adiktif lainnya. Sebagian orang biasanya sensitif dengan makanan yang mengandung additive. Gejalanya bisa seperti diare atau mencret, dan skin rashes atau ruam pada kulit. Selain itu, satu penelitian juga menyatakan bahwa junk food dapat membuat lemah otak dan menurunkan kecerdasan.

Junk food berakibat buruk buat tubuh. Junk food adalah makanan yang mengandung banyak lemak, gula, dan berkalori tinggi dengan nutrisi rendah serta sedikit serat.

Gabungan semua itu sangat “mematikan”, karena jika dikonsumsi berlebih menyebabkan penyakit menyeramkan bernama diabetes, sakit jantung, stroke, darah tinggi, kanker usus, kanker payudara, bahkan penuaan dini!

Tidak hanya penyakit-penyakit ’tingkat tinggi’ seperti itu, penyakit ringan semisal karies (gigi berlubang), batuk-batuk, dan obesitas pun bisa menjangkiti kita.

Tidak semua fast food berarti junk food. Makanan Jepang seperti sushi, sashimi, juga salad dan sandwich, dengan berbagai macam sayuran yang bisa divariasikan, malah bermanfaat.

Anak muda perkotaan sudah tidak asing dengan jajanan seperti fried chicken, french fries, hamburger, pizza dan sejenisnya. Termasuk juga donat impor yang berukuran besar dengan macam-macam citarasa, cemilan ekstruksi (semacam chiki), minuman bersoda, minuman kola, es krim, milkshake, minuman kopi dengan “float” krim, coklat dan sebagainya. Makanan minuman keren tersebut memang sangat mudah ditemui di mall-mall, plaza dan pertokoan besar di pusat dan pinggiran kota. Dan agaknya telah membudaya dan menjadi santapan elit, terutama bagi kaum muda perkotaan.  Budaya konsumtif perkotaan diakui atau tidak telah melanda juga anak-anak muda, termasuk bagaimana mereka memilih jajanannya. Siapa yang tidak merasa wah dan “gaul” jika makan siang atau makan malam di McDonalds atau  KFC atau Pizza Hut atau Dunkin’ Donuts ? Biasanya tidak ada yang menolak. Selain rasanya yang nikmat, suasana restorannya juga menyenangkan dan bergengsi. Tapi tahukah kita bahwa jenis-jenis jajanan yang ditawarkan restoran-restoran di atas termasuk atau sangat berpotensi sebagai junk-food? Alias makanan sampah? Mengapa makanan sampah? Produk pangan disebut junk-food jika kandungan nutrisinya sangat rendah atau kalorinya terlalu tinggi dan hanya mengandalkan rasanya yang enak. Umumnya yang termasuk dalam golongan junk-food adalah makanan berkadar garam tinggi, bergula tinggi, berlemak tinggi, namun kandungan nutrisi lainnya tipis, seperti protein, vitamin danmmineral. Salah satu ciri junk food antara lain mengandung banyak sodium
(garam-garaman), lemak jenuh dan kolesterol. Junk food mengutamakan citarasa, penampilan luar yang wah dan secara ekonomi menguntungkan karena populer, sedangkan nilai gizinya prioritas ke sekian.

Akibat mengutamakan citarasa tersebut junk-food mengandung banyak lemak, garam dan gula, termasuk bahan tambahan pangan atau aditif sintetik untuk menimbulkan citarasa (seperti MSG). Maka junk-food berpotensi menimbulkan banyak penyakit, dari yang ringan sampai berat, seperti obesitas, rematik akibat penimbunan asam urat, tekanan darah tinggi,
serangan jantung koroner, stroke dan kanker.

Saat ini penyakit-penyakit degeneratif tersebut tidak hanya monopoli diderita orang tua yang berumur, tetapi juga anak muda. Berdasarkan data survai WHO umur rata-rata orang yang terjangkit jantung koroner di dunia telah menurun dari 46 tahun ke 35 tahun. Suatu hal yang sangat memprihatinkan.

Bagaimana mengatasi akibat dari junk-food tanpa kita harus meninggalkan sama sekali makanan-makanan trendy tersebut ? Ada banyak macam cara, antara lain :

Jika makan fried chicken (tidak digunakan istilah ayam goreng karena konotasi yang ditangkap akan sangat berbeda, fried chicken alias ayam goreng impor menggunakan teknik penggorengan deep frying dimana kandungan lemak bahan yang digoreng jauh lebih besar dibandingkan dengan bahan yang digoreng dengan teknik penggorengan biasa) sebaiknya buang bagiannkulitnya. Kulit ayam, apalagi ayam ras, adalah sumber lemak jenuh dan
kolesterol. Jangan ganti nasi dengan french fries. Kandungan lemak dan sodium french fries sangat tinggi, mengkonsumsi nasi lebih baik. Kalau beli burger, cari pilihan jenis burger yang lebih banyak mengandung bahan nabati dibandingkan hewani. Jika memungkinkan perbanyak isi sayurnya, seperti selada, tomat, mentimun dan sebagainya. Sekarang mulai ngetrend coffee float, cola float dansebagainya. Ingat float banyak mengandung lemak dan gula. Sebaiknya beli minuman tanpa embel-embel float. Es krim kadang-kadang dipakai sebagai hidangan penutup, selayaknya dihindari karena kandungan gula dan lemaknya cukup tinggi. Sebaiknya ganti dengan yoghurt, puding atau jus buah. Jika tidak tersedia, minum teh jauh lebih baik. Junk Food adalah makanan yang tinggi kalori, lemak, sodium, gula, namun rendah di protein, vitamin, mineral seperti contohnya beef burger protein cukup, kalori cukup namun rendah di vitamin dan mineral, tinggi di sodium, gula, lemak.

Lemak ada lemak tidak jenuh, lemak jenuh, dan trans fat. Lemak Monounsaturated (canola, olive dan peanut oil, and alpukat) dan lemak polyunsaturated (safflower, wijen, biji bunga matahari, dan banyak kacang-kacangan dan biji-bijian) tidak menaikkan kadar LDL (kolesterol buruk) tapi dapat menaikkan tingkat HDL (kolesterol baik). Yang terbaik adalah untuk memilih makanan dengan jenis lemak ini untuk menjaga kesehatan anda.

Saturated fat atau lemak jenuh, trans fatty acid dan dietary cholesterol akan meningkatkan kadar kolesterol buruk dalam tubuh anda dan dapat mengakibatkan masalah jantung. Lemak jenuh banyak ditemukan dalam makanan yang berasal dari hewani seperti daging sapi, domba, babi, minyak babi, butter, cream, produk susu whole milk, keju, dan beberapa jenis tumbuhan seperti minyak kelapa, dan minyak sawit yang banyak ditemukan dalam kue tart, cookies, dan cemilan yang mengandung garam.  Tidak seperti minyak tumbuhan yang lain, minyak ini banyak mengandung asam lemak jenuh.  Beberapa makanan yang diproses (makanan siap saji yang dibekukan dan makanan kalengan) dapat mengandung lemak jenuh yang tinggi.  Sebaiknya anda mengecek label di kemasan sebelum anda membeli makanan jenis ini.

Trans fatty acids (TFAs) terbentuk selama proses pembuatan minyak goreng, margarin, dan shortening dan banyak ditemukan dalam makanan yang dijual secara komersil seperti gorengan, roti, cookies dan crackers.  Beberapa ditemukan secara alami dalam jumlah  yang kecil dalam makanan yang berasal dari hewani seperti daging sapi, babi dan domba dan butter fat di dalam butter dan produk susu.  Berdasarka penelitian, TFA akan meningkatkan total kolesterol dalam darah.  TFA cenderung meningkatkan kadar kolesterol buruk (LDL) dan menurunkan kadar kolesterol yang baik (HDL).  Sebuah penelitian menemukan empat sumber utama TFA dalam pola makan / diet seorang wanita berasal dari margarin, daging (sapi, babi, domba), cookies dan roti putih.  Sampai saat ini TFA tidak dicantumkan dalam label nutrisi tapi hal ini akan segera berubah.  Beberapa produsen makanan bahkan telah mengumumkan bahwa mereka telah menghilangkan TFA dari makanan yang mereka produksi.

Asam Lemak Trans dalam Makanan.

Hasil hidrolisis lemak yang secara kimia dikenal sebagai trigliserida akan diperoleh asam lemak dan gliserol atau gliserin. Asam lemak dapat digolongkan atas asam lemak jenuh dan tak jenuh berdasarkan ada tidaknya ikatan rangkap di dalam molekulnya.

Asam lemak tidak jenuh (memiliki ikatan rangkap) yang terdapat di dalam minyak (lemak cair) dapat berada dalam dua bentuk yakni isomer cis dan trans. Asam lemak tak jenuh alami biasanya berada sebagai asam lemak cis, hanya sedikit bentuk trans. Jumlah asam lemak trans (trans fatty acids= TFA) dapat meningkat di dalam makanan berlemak terutama margarin akibat dari proses pengolahan yang diterapkan.

Ternyata keberadaan TFA di dalam makanan menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan yakni sebagai pemicu penyakit jantung koroner (PJK) yang tidak boleh dianggap sebagai penyakit yang ringan. Bahkan, menurut hasil-hasil penelitian dua tahun terakhir bahwa pengaruh TFA lebih buruk daripada efek negatif asam lemak jenuh dan kolesterol. Pengaruh negatif dari TFA terjadi dengan mempengaruhi kadar low density lipoprotein (LDL)-juga disebut kolesterol jahat-dan high density lipoprotein (HDL)-juga dikenal sebagai kolesterol baik.

Ratio dari LDL/HDL merupakan faktor risiko PJK yang lebih relevan dibandingkan dengan faktor risiko lainnya seperti kadar total kolesterol yang tinggi; makin besar ratio LDL/ HDL di atas nilai ideal empat makin besar risiko PJK. Konsumsi TFA menimbulkan pengaruh negatif karena menaikkan kadar LDL, sama seperti pengaruh dari asam lemak jenuh. Akan tetapi, disamping menaikkan LDL, TFA juga akan menurunkan HDL sedangkan asam lemak jenuh tidak akan mempengaruhi kadar HDL. Jadi pengaruh TFA dibandingkan dengan asam lemak jenuh, maka efek negatif dari TFA dapat menjadi dua kali lipat. Asupan TFA selama kehamilan diduga juga akan mengganggu metabolisme asam lemak esensial sehingga dengan demikian akan mempengaruhi perkembangan janin.

Pengaruh TFA sangat tergantung pada kadar asupan; kadar yang yang tinggi (di atas enam persen dari energi total) jelas akan berbahaya tetapi kadar yang rendah (dua persen dari energi total) dan kadar sedang (4,5 persen dari energi total) tidak akan berbahaya jika dikonsumsi bersamaan dengan asam lemak tak jenuh ganda, tetapi pengaruh positif dari asam lemak tak jenuh akan ditiadakan oleh adanya TFA di dalam makanan.  Jadi pengaruh negatif dari TFA meningkat jika asupan asam lemak esensial linoleat (juga termasuk asam lemak tak jenuh ganda) rendah karena TFA menghambat biosintesa asam lemak arahidonat yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan jaringan.

Oleh karena itu, asupan TFA bagi anak-anak terutama dari margarin tidak dianjurkan. Tetapi, kandungan TFA yang rendah di dalam margarin (soft margarine) yang juga masih mengandung asam lemak tak jenuh masih jauh lebih baik daripada mentega yang terdiri dari asam lemak jenuh.

TFA dalam makanan.

Pada mulanya mentega dibuat dari lemak susu karena konsistensinya yang setengah padat. Selanjutnya setelah ditemukan proses hidrogenasi, margarin dibuat dari minyak nabati (lemak cair) karena berbagai alasan antara lain;

a) Karena kebutuhan akan lemak tidak sebanding lagi dengan produksi, b) Karena dari aspek nutrisi terutama tentang kandungan kolesterol di dalam lemak hewani, c) Karena adanya efek menurunkan kolesterol dari lemak tak jenuh dari minyak nabati, dan d) Karena alasan religius. Proses hidrogenasi ini terdiri dari pemanasan dengan adanya hidrogen elementer yang dibantu oleh suatu katalisator logam, biasanya menggunakan nikel. Hasil hidrogenasi parsial ialah a). Terjadinya penjenuhan dari asam lemak tak jenuh, b) isomerisasi ikatan rangkap bentuk cis (alami) menjadi bentuk isomer trans, dan c) perubahan posisi ikatan rangkap. Perubahan ini terutama akan menaikkan titik leleh, berarti mengubah minyak cair menjadi lemak setengah padat yang sesuai dengan kebutuhan. Pada awalnya, keberadaan TFA di dalam lemak terhidrogenasi di dalam margarin dianggap menguntungkan karena mempunyai titik leleh yang lebih tinggi (sama dengan titik leleh asam lemak jenuh) daripada bentuk cis, lebih stabil, lebih tahan terhadap pengaruh oksidasi. Selain daripada proses hidrogenasi, pemanasan selama pengolahan minyak (refinery), menggoreng (deep frying), dan TFA dalam jumlah kecil juga terdapat secara alami di dalam lemak susu. Perubahan cis menjadi trans mulai terjadi selama pemanasan pada temperatur 180⁰C dan meningkat sebanding dengan kenaikan temperatur. Produk biskuit, donat dan produk lain yang menggunakan lemak pelembut (shortening) akan menjadi sumber TFA di dalam makanan sehari-hari.

Pada saat ini asupan TFA di negara-negara Eropa Barat adalah antara 0,5 samapi 2,1 persen dari total energi, dan di Amerika berkisar dua persen. Di negeri Belanda, karena adanya publikasi yang intensif tentang pengaruh negatif dari TFA maka asupan TFA menurun secara drastis dengan mengurangi konsumsi makanan berlemak khususnya margarin batangan (stick margarine). Selain daripada itu, kandungan TFA di dalam produk margarin menurun dari 50 persen pada tahun 1985 menjadi sekitar satu-dua persen pada saat ini, sehingga asupan TFA menurun tajam di negeri Belanda. Diperkirakan, orang Amerika mengonsumsi TFA sebanyak 10 persen dari total asam lemak, dan bahkan di daerah tertentu mencapai 25 persen dari total asam lemak di dalam makanan. Sumber utama TFA dalam diet orang Amerika adalah margarin (sekitar 35 persen), makanan yang digoreng siap saji (fried fast foods) dan makanan olahan lainnya. Asupan TFA di Indonesia tampaknya belum pernah diteliti. Tetapi, dengan mengetahui kandungan rata-rata dari jenis makanan yang dikonsumsi terutama bahan makanan yang digoreng, asupan TFA mungkin termasuk tinggi, karena orang Indonesia banyak mengonsumsi makanan yang digoreng pada hampir semua lapisan masyarakat dan termasuk margarin pada masyarakat menengah ke atas. Asupan TFA di Indonesia dapat ditentukan setelah terlebih dahulu diketahui kadar TFA dalam makanan yang dikonsumsi. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk memperoleh produk margarin tanpa TFA dan mengurangi kandungan TFA di dalam makanan berlemak. Dengan mencampurkan (blending) lemak padat dengan minyak cair untuk memperoleh lemak setengah padat sesuai dengan lemak margarin. Dalam hal ini minyak kelapa sawit mempunyai prospek yang baik, karena crude palm oil (CPO) berbentuk setengah padat atau salah satu fraksi stearin dari minyak kelapa sawit dapat digunakan untuk membentuk lemak margarin tanpa hidrogenasi, dan berarti dapat diperoleh margarin tanpa TFA (zero trans margarine). Akhir-akhir ini ditemukan suatu cara untuk memperoleh lemak margarin dari minyak nabati melalui reaksi interesterifikasi. Lemak margarin yang dihasilkan tidak mengalami penjenuhan lemak; perubahan titik lebur terjadi semata karena pertukaran posisi asam lemak di dalam molekul trigliserida tanpa perubahan komposisi asam lemak dan tidak mengandung TFA. Untuk mengurangi kadar TFA di dalam makanan yang digoreng ialah antara lain menghindari penggunaan minyak goreng berulang-ulang dan menghindari suhu yang terlalu tinggi pada saat menggoreng.

Dari uraian di atas cukup jelas bahwa keberadaan TFA di dalam makanan menimbulkan efek negatif yang jauh lebih besar dibandingkan dengan dampak negatif dari keberadaan kolesterol dan asam lemak jenuh. Tetapi, sampai sekarang ternyata bahwa pernyataan bebas kolesterol (nonkolesterol) dan pengaruh positif lemak tak jenuh pada brosur produk makanan yang sering ditonjolkan, padahal jauh lebih berarti mencatumkan kandungan TFA dibandingkan dengan pernyataan nonkolesterol. Mungkin sudah saatnya instansi kesehatan untuk mempertimbangkan keberadaan dan kadar TFA di dalam lemak terhidrogenasi terutama margarine.

6. Sepuluh Makanan Sehat Yang Bisa Jadi Junk Food

Semua makanan instan itu adalah makanan sampah (junk food). Itulah yang terpatri di benak kebanyakan orang. Akibat kampanye kesehatan yang dicerna agak miring, otomatis publik menganggap semua makanan instan adalah sampah atau lebih tepatnya merugikan kesehatan kita. Terlebih lagi jika makanan itu berasal dari budaya barat. Iklan memang kadang memberi efek berlebihan pada kehidupan kita. Padahal ada sejumlah makanan yang selintas kita anggap “sampah” justru memiliki kandungan gizi yang masih layak dikonsumsi andai diolah secara baik.

Berikut daftar 10 makanan yang awalnya adalah makanan sehat, tapi setelah terlalu dikomersilkan justru menjadi sampah.

1. Pizza

Bukan hanya kita di Indonesia, bahkan orang Amerika pun menganggap pizza masuk kategori junk food. Padahal di negara asalnya, Italia, ada hukum yang mengatur bagaimana komposisi pizza idealnya dibuat. Ditentukan mulai dari jenis tepungnya, tomat, mozarela, sampai ke minyak zaitunnya. Makanan ini jika diolah sesuai ketentuan merupakan makanan praktis lagi kaya gizi. Sayangnya, mulai banyak pizza yang diolah terlalu komersil sehingga mengandung terlalu banyak lemak, kalori, sodium, namun rendah gizi.

2. Sayuran Organik Komersil.

Awalnya ini adalah ide yang baik. Sejumlah petani memulai gerakan tanaman organik, menghindari pestisida dan pupuk kimia. Mereka menanam dengan cara alamiah.Namun setelah 30 tahun berlalu, produk tanaman organik menjadi kasus. Sejumlah waralaba besar menginginkan profit berlebih. Akibatnya diproduksi makanan sampah organik seperti susu organik, sayuran organik, yang semuanya berlabel. Apakah itu sungguh sehat dikonsumsi, kadang diragukan. Istilah “organik” kerap hanya sebagai label belaka.

3. Sereal.

Di Indonesia kini sarapan pagi yang biasa bermenu nasi uduk atau lontong sayur mulai digeser dengan sereal. Aslinya, sereal yang ideal terbuat atas gandum, oat atau beras. Intinya adalah bahan pangan untuk manusia. Kandungannya adalah protein, lemak sehat dan vitamin. Sayang, mulai marak produsen makanan yang menambah bahan gula, sirup jagung, garam, makanan yang dikeringkan dan sejenisnya. Bahan-bahan inilah yang membuat sereal menjadi sampah di tubuh kita.

4. Roti Tawar.

Roti tawar yang berbahaya bagi kesehatan adalah yang mengandung bahan tak sehat. Dan ini justru yang banyak beredar di negara maju seperti AS. Yakni mengandung tepung dengan gula, sirup jagung, bahkan sejumlah bahan tambahan tak berguna. Kandungannya membuat orang berisiko menderita obesitas dan diabetes sebab sekali dimakan akan langsung dikonversi menjadi gula darah bernama glukosa. Glukosa ini membuat pankreas bekerja keras dan merusak organ sekitar. Roti tawar yang sehat adalah yang terbuat dari tepung dan air dengan sedikit garam dan yeast.

5. Popcorn.

Jangan terlalu ketagihan makan popcorn yang berasa asin dan menggoda. Pada dasarnya bahan jagung itu sehat, mengandung zat besi tinggi, kalori rendah dan sedikit gula, garam dan lemak. Sayang kini justru kandungan gula, lemak dan garamnya sangat luar biasa. Jauh lebih sehat menyiapkan popcorn sendiri di rumah dengan campuran garam dan gula yang terkendali.

6. Kentang Russet.

Ini adalah jenis kentang yang dipakai untuk membuat french fries alias kentang goreng yang kita kenal sebagai camilan lezat. Kentang Russet ukurannya lebih besar dari kentang biasa, juga lebih murah. Setelah dianalisa, kentang ini jika dikonsumsi cepat terkonversi menjadi gula darah dan memicu diabetes dan obesitas. Karena rasanya yang hambar, banyak produsen menambahkan gula dan garam ke bahan ini.

7. Teh Hijau

Dipercaya berkhasiat mencegah kanker, teh hijau banyak dikonsumsi di Asia termasuk Indonesia. Teh ini mengandung antioksidan dan komponen lain yang katanya mengurangi risiko kanker, serangan jantung, bahkan membuat awet muda. Kini teh hijau banyak dijual dalam kemasan botol, ditambah beragam rasa agar menarik. Zat seperti gula, bahan penambah rasa dan pengawet justru membuat teh hijau bukan lagi minuman sehat.

8.Sup Kalengan.

Pada dasarnya sup adalah makanan sehat. Itu jika disajikan dalam keadaan segar dengan kandungan sayuran dan komposisi bumbu seimbang. Namun orang kadang lebih suka yang praktis, sehingga membeli sup kalengan. Awalnya sup kalengan juga masih ideal, sayangnya lama-lama produsen hanya memikirkan profit semata. Satu kaleng sup bisa mengandung 100 miligram sodium dan garam berlebihan, serta lemak dan zat kimia lain. Tentu saja bahan-bahan itu jauh dari definisi sehat.

9. Yogurt.

Betul bahwa yogurt makanan sehat yang terbuat dari proses fermentasi bakteri. Proteinnya tinggi, kalsium dan vitaminnya memberi efek bagus pada tubuh. Kebanyakan di pasar swalayan banyak dijual yogurt kemasan bermerek. Biasanya mengandung banyak gula dan buah yang diproses, lalu menyamar sebagai makanan sehat.

10. Nuget Ikan

Ikan memang sehat. Maka banyak ditawarkan godaan produk ikan dalam bentuk instan dan konon lezat. Nuget ikan atau ikan yang sudah diolah lalu siap saji cukup dengan menggorengnya kini menggoda kita untuk membeli. Memang praktis, tak perlu membersihkan ikan mentah yang bau amis dan kotor. Jangan salah, ikan jenis ini justru lebih banyak kandungan garam dan lemak. Kalau sudah begitu, pastinya nilai positif ikan sudah nyaris tak tersisa lagi.

7. Mengurangi Bahaya Junk Food

Untuk meredam bahaya junk food dapat dilakukan langkah-langkah berikut:

  • Biasakan sarapan dan makan di rumah, karena makanan rumah lebih sehat dan bergizi. Jadi sebelum berangkat sekolah atau jalan-jalan, terutama ke mal, usahakan sarapan. Dijamin, perut kenyang niat jajan pun berkurang.
  • Kalau tidak mampu membendung keinginan untuk makan junk food, beli porsi terkecil. Misalnya, dalam satu paket hemat ada dua potong ayam, lebih baik dibagi dua dengan teman. Saat membeli es krim, minuman soda atau menu lain, pilih ukuran small atau regular. Jangan tergoda dengan topping atau bumbu tambahan. Karena bisa menambah kandungan kalori dalam makanan.
  • Bagi yang merasa kesulitan lepas dari junk food, minum air putih sebanyak-banyaknya. Meski menurut anjuran cukup 8 gelas perhari, minum lebih justru semakin baik. Sebab air putih membantu proses pembuangan semua racun-racun di dalam tubuh. Termasuk zat yang terkandung dalam junk food. Jangan lupa juga untuk berolahraga secara teratur. Paling tidak seminggu tiga kali, setengah sampai satu jam dalam sehari. Dengan berolahraga, maka kalori dalam tubuh akan terbakar. Jenis olahraga yangdilakukan tidak harus berat. Jalan kaki setengah jam, lebih baik dibanding nongkrong di depan tv.
  • Imbangi pula junk food dengan makan sayuran dan buah-buahan. Dua jenis makanan ini tinggi kadar seratnya. Sangat bagus untuk mengimbangi tubuh yang sudah kemasukan junk food. Tiap kali keluar rumah, jangan malu membawa buah-buahan di dalam tas. Pilih buah yang mudah di bawa seperti apel, pir, tomat, pisang, jeruk, anggur, atau strawberry. Begitu rasa lapar menyerang, lahap buah itu. Cara ini lambat laun akan menjadi kebiasaan yang positif. Jika sudah membudaya, asupan junk food berkurang dengan sendirinya. Setelah berhasil mengurangi junk food, tingkatkan konsumsi serat yang terdapat dalam sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian. Usahakan mengonsumsi 3-5 porsi perhari. Hasilnya, tubuh senantiasa bugar dan sehat.

8. Obesitas

Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, sebagai penyekat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya. Rata-rata wanita memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria. Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria. Wanita dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan lemak tubuh lebih dari 25% dianggap mengalami obesitas. Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badannya yang normal dianggap mengalami obesitas. Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok:

Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40%

Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100%

Obesitas berat : kelebihan berat badan >100% (Obesitas berat ditemukan sebanyak 5% dari antara orang-orang yang gemuk).

Perhatian tidak hanya ditujukan kepada jumlah lemak yang ditimbun, tetapi juga kepada lokasi penimbunan lemak tubuh. Pola penyebaran lemak tubuh pada pria dan wanita cenderung berbeda. Wanita cenderung menimbun lemaknya di pinggul dan bokong, sehingga memberikan gambaran seperti buah pir. Sedangkan pada pria biasanya lemak menimbun di sekitar perut, sehingga memberikan gambaran seperti buah apel. Tetapi hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang mutlak, kadang pada beberapa pria tampak seperti buah pir dan beberapa wanita tampak seperti buah apel, terutama setelah masa menopause. Seseorang yang lemaknya banyak tertimbun di perut mungkin akan lebih mudah mengalami berbagai masalah kesehatan yang berhubungan dengan obesitas. Mereka memiliki resiko yang lebih tinggi. Gambaran buah pir lebih baik dibandingkan dengan gambaran buah apel. Untuk membedakan kedua gambaran tersebut, telah ditemukan suatu cara untuk menentukan apakah seseorang berbentuk seperti buah apel atau seperti buah pir, yaitu dengan menghitung rasio pinggang dengan pinggul. Pinggang diukur pada titik yang tersempit, sedangkan pinggul diukur pada titik yang terlebar; lalu ukuran pinggang dibagi dengan ukuran pinggul. Seorang wanita dengan ukuran pinggang 87,5 cm dan ukuran pinggul 115 cm, memiliki rasio pinggang-pinggul sebesar 0,76. Wanita dengan rasio pinggang:pinggul lebih dari 0,8 atau pria dengan rasio pinggang:pinggul lebih dari 1, dikatakan berbentuk apel.

9. Hubungan Kebiasaan Makan Junk Food dengan Obesitas

Junk food  mengandung tinggi garam, gula, lemak dan tinggi kalori serta rendah nutrisi. Junk food mengandung banyak sodium, lemak jenuh, dan kolesterol. Bila jumlah ini terlalu banyak di dalam tubuh, maka akan menimbulkan banyak penyakit. Secara rinci, junk food mengandung:

  • Lebih dari 35% kalori dari lemak ( kecuali untuk susu rendah lemak )
  • Lebih dari 10% kalori dari lemak jenuh
  • Mengandung lemak trans
    • Lebih dari 35% kalori dari gula, kecuali jika terbuat 100% dari buah-buahan dan tidak ada tambahan gula
    • Lebih dari 200 kalori per sajian makanan untuk snack
    • Lebih dari 200mg per sajian untuk sodium (garam) untuk snack.

Makanan junk food banyak mengandung gula. Gula terutama gula buatan, tidak baik untuk kesehatan karena dapat menyebabkan kelebihan berat badan dan kegemukan atau obesitas, penyakit gula atau diabetes, kerusakan gigi, mengurangi kolesterol yang berguna, meningkatkan kadar lemak dalam darah. Makanan atau minuman yang mengandung banyak gula, antara lain cake, cookies, dan minuman bersoda (soft drink). Di antara semua di atas, minuman bersoda mengandung paling banyak gula. Pada satu kaleng minuman bersoda, mengandung sedikitnya sembilan sendok teh gula. Padahal, seharinya tubuh butuh empat gram atau satu sendok teh dan tidak boleh lebih.

Gabungan semua itu sangat “mematikan”, karena jika dikonsumsi berlebih menyebabkan penyakit menyeramkan bernama diabetes, sakit jantung, stroke, darah tinggi, kanker usus, kanker payudara, bahkan penuaan dini!

Tidak hanya penyakit-penyakit ’tingkat tinggi’ seperti itu, penyakit ringan semisal karies (gigi berlubang), batuk-batuk, dan obesitas pun bisa menjangkiti kita.

REFERENSI:

  1. 7 Makanan Junk Food Menyehatkan. Diunduh dari http://yudhim.blogspot.com/2009/07/7-makanan-junk-food-menyehatkan.html
  2. 10 Makanan Sehat yang bisa Jadi Junk Food. Diunduh dari http://rezacore.wordpress.com/2008/10/04/10-makanan-sehat-yang-bisa-jadi-junk-food/
  3. Aneka Tips Dampak Buruk Menyantap Fast Food. Diunduh dari http://anekatipsmenarik.blogspot.com/2009/05/dampak-buruk-menyantap-fast-food.html
  4. Fast Food,Junk Food, Lemak dan Kesehatan. Diunduh dari http://ligagame.com/lg_smf/index.php
  5. Fast Food Membuat Lemah Otak. Diunduh dari http://www.beritajitu.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1320:fast-food-membuat-lemah-otak&catid=39:kesehatan&Itemid=55
  6. Gayatri. Junk Food Berbahaya. Diunduh dari http://gayatriberbagi.blogspot.com/2008/11/junk-food-bahaya-lho.html
  7. Greencent Online Magazine. Gaya hidup metropolitan, akrab dengan makanan rongsokan. Diunduh dari http://smkinfo.school-press.com/2009/01/12/gaya-hidup-metropolitan-akrab-dengan-makanan-rongsokan/
  8. Junk Food. Diunduh dari http://pediatrics.about.com/od/nutrition/a/0308_junk_food.htm
  9. Junk Food dan Soft Drink Penyebab Obesitas Anak. Diunduh dari http://www.kamusilmiah.com/kesehatan/junk-food-soft-drink-penyebab-obesitas-anak/
  10. Junk food Sehatkan Buat Tubuh. Diunduh dari http://www.susukolostrum.com/artikel-terbaru-othermenu-50/artikel-kesehatan-othermenu-66/27-kesehatan-umum/1319-junk-food-sehatkan-buat-tubuh
  11. Kusuma Monte SL. Obesitas. Diunduh dari http://obesitas.pdf
  12. Mengapa Junk Food Membuat Badan Jadi Melar. Diunduh dari http://kotametropolis.com/mengapa-junk-food-membuat-badan-jadi-melar/
  13. Masalah Kegemukan Pada Anak –anak. Diunduh dari http://www.infoibu.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=6
  14. Obesitas Pada Remaja. Diunduh dari http://id.articlesnatch.com/Article/Obesity-in-Teens/527285
  15. Republika Online. Waspadai Mayoritas Anak tak Paham Bahaya Junkfood. Diunduh dari http://www.republika.co.id/berita/79219/Waspadai_Mayoritas_Anak_tak_Paham_Bahaya_Junkfood
  16. Wikipedia. Junk food. Diunduh dari http://id.wikipedia.org/wiki/Junk_food
  17. Wikipedia. Obesitas. Diunduh dari http://id.wikipedia.org/wiki/Obesitas
About these ads

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

2 Responses to “Hubungan Kebiasaan Makan Junk Food dengan Obesitas”

RSS Feed for Somelus Comments RSS Feed

harus hati2 dengan junk food ya,,, thanks

Hati-hati untuk ibu hamil tidak baik makan junk food


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,086 other followers

%d bloggers like this: