Dokter Keluarga

Posted on February 14, 2010. Filed under: Uncategorized |

Sejak dahulu ilmu kedokteran telah berkembang dengan pesat dan telah banyak dihasilkan dokter terutama di Indonesia. Tetapi, kenyataannya hal tersebut tidak memicu masyarakat Indonesia untuk berobat kepada dokter di Indonesia. Hal ini sangat mengecewakan karena melihat banyaknya bangsa Indonesia berobat ke luar negeri dan jumlahnya pun semakin meningkat tiap tahun.  Banyaknya penduduk Indonesia berobat keluar negeri dikarenakan pelayanan kesehatan yang belum komunikatif antara dokter dan pasien. Berdasarkan hal itu, maka sistem pelayanan kesehatan di Indonesia perlu dibenahi. Hal ini dimulai dengan memasukkan mata kuliah Ilmu Kedokteran Keluarga kedalam kurikulum pendidikan kedokteran.

Ilmu Kedokteran Keluarga adalah ilmu yang mempelajari dinamika kehidupan keluarga dalam lingkungannya, pengaruh penyakit dan keturunan terhadap fungsi keluarga, pengaruh fungsi keluarga terhadap timbul dan berkembangnya penyakit serta permasalahan kesehatan keluarga, dan berbagai cara pendekatan kesehatan untuk mengembalikan fungsi keluarga dalam keadaan normal. Dengan memasukkan Ilmu Kedokteran Keluarga kedalam kurikulum pendidikan kedokteran, diharapkan akan dihasilkan dokter-dokter yang mengabdikan dirinya kedalam bidang profesi kedokteran yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan untuk menjalankan praktik dokter keluarga sehingga masalah kesehata keluarga akan terselesaikan dan terciptanya keluarga yang partisipatif, sehat sejahtera badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap anggota keluarga hidup rpoduktif secara sosial dan ekonomi.

Adapun dalam makalah ini, kami membahas tentang keterlibatan dokter keluarga dalam hubungannya dengan keluarga pasien untuk mengatasi masalah/penyakit pasien dengan melibatkan keluarga pasien tersebut.

1. Peran Dokter Keluarga

Dokter keluarga memiliki peran yang unik dalam pelayanan pasien. Dalam hal ini seorang dokter keluarga dalam pelayanannya terampil dalam menggabungkan keahlian biomedisnya dengan keahlian dalam menangani bagian psikososial pasien yang berhubungan dengan masalah biomedisnya. Karena pelayanan dokter keluarga tidak dibatasi oleh umur, jenis kelamin, dan jenis penyakit yang dihadapinya maka seorang dokter keluarga dapat memberi pelayanan kesehatan bagi seluruh anggota keluarga.

Pelayanan dokter keluarga mempunyai posisi yang strategis dalam keberhasilan penatalaksanaan pembangunan kesehatan karena perannya dalam penatalaksanaan sub sistem pelayanan kesehatan dari orientasi kuratif ke orientasi komprehensif dengan mengedepankan aspek promotif-preventif seimbang dengan kuratif-rehabilitatif, pelayanan yang fragmentatif ke pelayanan yang integratif berjenjang, dengan tingkat primer sebagai ujung tombak, serta perannya dalam penatalaksanaan sub sistem pembiayaan kesehatan yakni kesediaannya untuk menerima pembayaran secara prospektif yang juga bermakna pengendalian biaya pelayanan kesehatan. Konsep ini meletakkan peran dokter keluarga yang sangat penting sebagai PPK JPKM yang sadar mutu dan sadar biaya pelayanan kesehatan.
Dalam hubungan itulah pemerintah telah mengeluarkan beberapa peraturan yang memberi peran penting terhadap pengembangan dokter keluarga yakni Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 56/Menkes/SK/I/1996 mengatur Dokter Keluarga dalam pengelolaan JPKM serta Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 916/Menkes RI/Per/VII/1997 yang mengatur agar praktek dokter umum dan dokter gigi diarahkan ke dokter keluarga.

Konsep keluarga sebagai suatu sistem membatu kita dalam pelayanan pasien. Konsep tersebut membantu ita untuk menjelaskan cara para anggota keluarga dalam sebuah keluarga saling berinteraksi. Ada beberapa teori dalam keluarga sebagai suatu sistem :

  • Saling Ketergantungan ( Interdependence)

Interaksi keluarga cenderung diulangi (repetisi) yang akan membentuk pola dari keluarga tersebut. Keluarga mempunyai aturan-aturan yang akan mendukung terbentuknya pola ini. Umumnya ini adalah peraturan tak tertulis, yang tidak boleh dipertanyakan, oleh sebab itu yang akan membentuk pola tersebut.

Bagi dokter keluarga, keberhasilan kita dalam mencoba merubah keluarga tersebut sangat tergantung kepada kemampuan kita dalam melihat interdependence ini. Jauh lebih efektif apabila kita langsung pada interaksi ini dan peraturan yang mengikat mereka.

  • Ikatan (Boundaries)

Boundaries didefenisikan sebagai hal-hal atau kebiasaan dari para anggota keluarga, yang dapat diterima dan tidak dapat diterima dalam keluarga tersebut. Boundaries seperti pagar yang akan melindungi para anggota keluarga dari pihak lain.

  • Triangulasi

Sebagai dokter keluarga penting sekali mengetahui adanya triangulasi dalam keluarga. Kebanyakan interaksi dalam keluarga melibatkan 2 individu. Pada saat stress atau masalah muncul pada kedua orang tersebut biasanya ada kecenderungan keterlibatan pihak ketiga. Peran dari orang ketiga ini adalah untuk menyelamatkan pasangan tersebut. Karena triangulasi muncul untuk menenangkan masalah maka biasanya triangulasi ini terjadi berulang-ulang dengan harapan ini akan membuat  keluarga tersebut tetap bersatu. Padahal triangulasi ini bukanlah hal efektif dalam menghilangkan masalah sesungguhnya yang tidak terselesaikan.

Contoh yang paling sering adalah school phobia pada anak-anak yang orang tuanya mempunyai masalah dalam perkawinan mereka. Dalam kasus ini, anak tersebut dating menyelamatkan hubungan pasangan tersebut dengan menolak pergi sekolah. Ini akan mengalihkan perhatian orang tua dari masalah mereka kemasalah anaknya yang takut meninggalkan rumah.

2. Keterlibatan Dokter Keluarga dengan Pasiennya

Untuk memberikan pelayanan yang komphrensif, sebagai dokter keluarga kita akan memandang masalah pasien dalam konteks sosialnya juga, dan keterlibatan dokter keluarga sangat bervariasi.

Setiap dokter keluarga harus memutuskan sejauh mana keterlibatannya dengan  keluarga pasien. Ada 5 tipe atau tingkatan dari keterlibatan dokter dalam keluarga pasiennya, yaitu:

1. Keterlibatan Minimal dalam Keluarga (Minimal Emphasis on Family)

Dasar pemikiran dokter adalah komunikasi dengan keluarga pasien hanya untuk praktek atau keperluan legal medis aja.

Perilaku dokter adalah, bertemu dengan keluarga pasien hanya untuk mendiskusikan masalah-masalah medis saja.

2. Informasi Medis dan Nasehat (Medical Information and Advice)

Dasar pemikiran dokter adalah bahwa keluarga itu penting dalam diagnosa dan membuat keputusan pengobatan pasien, keterbukaan perlu untuk melibatkan keluarga.

3. Perasaan dan Dukungan (Feelings and Support)

Dasar pemikiran dokter adalah perasaan dan dukungan dan timbal  balik antara pasien. Keluarga dan dokter sangat penting dalam diagnosa dan pengobatan pasien.

4. Penilaian dan Intervensi (Assessment and Intervention)

Dasar pemikiran dokter adalah sistem keluarga, dinamika keluarga, dan perkembangan keluarga penting dalam diagnosa dan pengobatan pasien.

Perilaku dokter adalah bertemu dengan keluarga dan membantu mereka untuk merubah peran dan interaksi satu sama lain agar lebih efektif dengan menghadapai masalah penyakit dan pengobatan pasien.

5. Terapi Keluarga (Family Therapy)

Dasar pemikiran dokter adalah dinamika keluarga dan kesehatan pasien saling mempengaruhi satu sama lainnya dan pola ini perlu dirubah.

Perilaku dokter adalah bertemu secara teratur dengan keluarga pasien dan berusaha merubah dinamika keluarga peraturan-peraturan yang tak tertulis dalam keluarga tersebut yang berhubungan dengan perkembangan fisik dan mental pasien.

Sebagai seorang dokter umummnya kita akan telibat hingga level 4, level ini biasanya dibutuhkan kemampuan dalam konseling. Sedangkan untuk melakukan peran hingga level 5 dibutuhkan satu pelatihan khusus.

3. Keluarga sebagai Unit Pelayanan Kesehatan

3.1. Pengertian Keluarga

Menurut UU RI 1992, yang dimaksud dengan keluarga adalah pasangan suami istri dengan anggota keluarga lainnya, yaitu setiap orang yang tinggal srumah baik yang mempunyai hubungan darah atau tidak.

Peran keluarga sangat besar terhadap upaya dalam mengoptimalkan pelayanan kesehatan. Oleh sebab itu perlunya suatu tindakan dokter keluarga dalam serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang terencana dan terarah untuk menggali, meningkatkan dan mengarahkan peran serta keluarga agar dapat memecahkan masalah kesehatan keluarga yang mereka hadapi.

3.2. Tujuan

Adapun tujuan dari pendekatan ini yakni agar meningkatkan kemampuan keluarga pasien untuk memahami diagnosis masalah kesehatan keluarga dan merumuskan upaya penanggulangannya, serta mampu mengatasi masalah kesehatan keluarga dengan menggunakan sumber daya keluarga.

Bentuk kegiatan pelayanan kesehatan keluarga yang ditekankan meliputi upaya: perawatan seluruh anggota keluarga dengan prinsip individu per individu, melibatkan keluarga sebagai objek manajemen pelayanan kesehatan, dan melibatkan anggota keluarga dalam merubah faktor-faktor yang akan mempengaruhi kesehatan individu.

4. Kekuatan Keluarga

Dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan dalam tingkat keluarga, maka kelangsungan dari proses tersebut bergantung pada kekuatan sebuah keluarga tersebut. Faktor-faktor yang terdapat dalam kekuatan sebuah keluarga antara lain:

  1. Kemampuan pemenuhan kebutuhan keluarga, baik kebutuhan fisik, emosi, spiritual maupun kultural
  2. Kemampuan membesarkan anak dan mengajarkan disiplin
  3. Kemampuan dalam berkomunikasi dan mengekspresikan emosi dan perasan baik verbal maupun non verbal
  4. Kemampuan dalam memberikan dukungan dan perasaan aman bagi anggota keluarga
  5. Kemampuan dalam menjalin hubungan dan persahabatan dengan para tetanga
  6. Kemampuan dalam tanggung jawab terhadap masyarakat
  7. Kemampuan dalam menolong diri, mencari dan menerima pertolongan
  8. Kemampuan fleksibilitas dalam melakukan fungsi dan peran dalam keluarga
  9. Kemampuan untuk saling bersatu dan saling mendukung dalam mengatasi masalah
  10. Tingkat persatuan dan loyalitas anggota keluarga

5. Fungsi Keluarga

Peran dokter keluarga dalam memahami fungsi keluarga dapat dinilai dari APGAR keluarga, yang menunjukkan lima fungsi dasar keluarga, yaitu:

  1. Peran keluarga dalam pemberian dukungan satu sama lain, dimana dukungan dapat berupa bantuan moril, materil, sosial maupun emosional, yang akhirnya akan mewujudkan kebersamaan dan rasa saling memiliki satu sama lain.
  2. Peran keluarga dalam memberikan kebebasan bagi setiap anggota keluarga yang akan membantu perkembangan pribadi dari setiap anggota keluarga.
  3. Peran keluarga dalam membuat peraturan yang melibatkan seluruh anggota keluarga dan orang-orang yang ada dalam keluarga tersebut.
  4. Peran keluarga dalam beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di lingkunganya.
  5. Peran keluarga dalam berkomunikasi satu sama lain.

6  Contoh kasus

JB, pria 29 tahun dirawat di RS karena thrombophlebitis dengan komplikasi obesitas dan depresi dan dia memiliki riwayat:

  • Ibunya memiliki penyakit Blind Congenital Catarack dan Miokard Infark
  • Ayahnya memiliki arthritis, hipertensi, memiliki ayah dan ibu yang bercerai dan bahkan menikah lagi.
  • Ayah dan ibu JB mempunyai konflik dalam rumah tangga mereka.

Pada kasus ini JB adalah triangulasi dari masalah pernikahan kedua orang tuanya karena masalah yang terjadi JB sulit menjalin hubungan dengan teman sebayanya dan JB juga memiliki masalah dengan pola makannya sehingga dia menjadi obesitas.

Dari hasil anamnese dokter keluarga tersebut didapati bahwa masalah yang dihadapi JB adalah masalah yang kompleks yang menyangkut dinamika keluarganya dalam jangka waktu yang lama dan masalah-masalah lainnya .

Seperti : asal-usul keluarga, kebutaan, miocard infark ayahnya, dan status JB sebagai anak tunggal.

Pengobatan yang tepat dan efektif untuk obesitas dan depresi JB harus memperhitungkan dinamika keluarga dan riwayat keluarganya.

KESIMPULAN

Ilmu Kedokteran Keluarga adalah ilmu yang mempelajari dinamika kehidupan keluarga dalam lingkungannya, pengaruh penyakit dan keturunan terhadap fungsi keluarga, pengaruh fungsi keluarga terhadap timbul dan berkembangnya penyakit serta permasalahan kesehatan keluarga, dan berbagai cara pendekatan kesehatan untuk mengembalikan fungsi keluarga dalam keadaan normal.

Setiap dokter keluarga harus memutuskan sejauh mana keterlibatannya dengan  keluarga pasien. Pada pembahasan di atas, sebagai seorang dokter umummnya kita akan telibat hingga level 4, level ini biasanya dibutuhkan kemampuan dalam konseling. Sedangkan untuk melakukan peran hingga level 5 dibutuhkan satu pelatihan khusus.

About these ads

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,086 other followers

%d bloggers like this: