Faktor Kesehatan Meningkatkan Angka Kematian di Indonesia

Indonesia menempati posisi ke 143 dari urutan negara-negara didunia dengan tingkat kematian tertinggi. Angka kematian di Indonesia pada September 2005 berdasarkan The World Fact Book, adalah sebesar 6,25 kematian/1000 populasi. Sedangkan Botswana menempati urutan pertama yaitu sebesar 29,36 kematian/1000 populasi. Rata-rata tingkat kematian di dunia yatiu sebesar 8,87 kematian/1000 populasi.

Meskipun berdasarkan data ini, angka kematian di Indonesia tidak memberi sumbangan yang berarti terhadap data angka kematian dunia, ada baiknya kita tetap menelaah penyebab dari tingginya angka kematian ini agar dapat mengantisipasinya di masa yang akan datang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sejalan dengan perkembangan zaman, berbagai masalah kesehatan dan kriminalitas menjadi faktor yang utama dalam meningkatkan angka kematian di Indonesia.

Usaha untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia masih dalam proses dan belum mencapai hasil yang maksimal. Berbagai penyakit yang menyebabkan angka kematian tertinggi seperti penyakit infeksi, jantung koroner dan stroke, masih saja menjangkiti masyarakat Indonesia. Pelayanan kesehatan yang buruk, pemamfaatan sarana dan prasarana kesehatan yang belum optimal, rendahnya kesadaran masyarakat untuk berperilaku sehat serta persepsi masyarakat tentang sehat dan sakit itu sendiri, turut memicu rendahnya derajat kesehatan masyarakat tersebut. Dalam pembahasan selanjutnya, penulis telah memaparkan mengenai masalah ini dengan lebih jelas serta memberikan solusi yang kiranya dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sehingga menurunkan angka kematian di Indonesia akibat faktor kesehatan.

Dan seperti semboyan Ilmu Kedokteran yang menyatakan: ‘Mencegah lebih baik daripada mengobati’, perlu untuk diterapkan dalam usaha menanggulanginya.

MASALAH

Adapun batasan masalah yang kami buat dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :

 

  1. Faktor apa sajakah yang mempengaruhi kesehatan seseorang ?
  2. Mengapa masalah kesehatan meningkatkan angka kematian di Indonesia ?
  3. Bagaimana solusi untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mengurangi angka kematian tersebut ?
  4. Mengapa seseorang melakukan tindakan kriminal ?
  5. Bagaimana penanggulangan kriminalitas dalam rangka mengurangi angka kematian di Indonesia ?

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN MASYARAKAT

Tingkat kesehatan dalam waktu tertentu dapat berubah dari satu titik kondisi tertentu ke titik yang lain, dan bahwa kualitas dan kuantitas kesehatan turut berubah mengikuti perubahan tingkat ini. 4 Faktor yang menyebabkan tingkat kesehatan individu menurun atau meningkat : (1) eksogen, (2) endogen, (3) perilaku manusia dan 4) kepadatan penduduk.

Faktor eksogen adalah merupakan sumber-sumber penyakit di luar individu atau penduduk manusia yang mencakup : (a) agen-agen penyakit baik berupa biotik maupun nonbiotik, (b) bentuk-bentuk transmisi,dan (c) reservior (‘lubuk’) penyakit. Tabel 1 merinci ketiga aspek dari faktor eksogen.

Perlu dinyatakan bahwa faktor eksogen itu sendiri harus dilihat sebagai suatu jaringan yang kompleks yang mencakup organisme, penyakit, vektor, dan lubuk penyakit. Kehidupan dan pembiakan organisme-organisme ini berlangsung dalam dan tergantung pada ekosistem. Faktor-faktor lingkungan alam, seperti iklim, curah hujan, struktur tanah, biomasa flora dan fauna mempengaruhi manusia sebagai host dan faktor endogen atau kerentaan terhadap penyakit.

Faktor – faktor Eksogen Yang Membahayakan

Kesehatan Manusia

 

Agen

Transmisi

Reservoir

Arthopoda

Bakteria

Chlamydia

Fungi

Helmith

Predator

Protosoa

Ricketsia

Toxin

Virus

Udara

Kontak

Vektor

Ingesti

Injeksi

Mamalia

Burung dan vertebrata lain

Manusia

Invertebrata

Tanah

Air

 

Faktor endogen, yaitu mencakup gejala-gejala penyakit pada tubuh seperti Polimorfisme darah yang terwujud secara genetik dalam suatu populasi manusia karena mengalami atau terbuka terhadap suatu organisme penyakit tertentu untuk massa yang sangat lama (adaptasi genetik) misalnya gejala sickling trait, thalassemia dan kekurangan glucose-6-phosphate dehydrogenase ( Motulsky 1960 ). Penyakit endemik dapat pula merupakan faktor endogen yang mengganggu pertumbuhan tubuh di populasi. Contohnya penyakit endemik malaria yang umum terdapat di banyak populasi di daerah tropis merupakan suatu penyebab dari kematian bayi.

Faktor kepadatan penduduk dan struktur penduduk turut mempengaruhi pola-pola penyakit. Bagi penyakit yang ditransmisikan oleh vektor yang lubuknya adalah non – manusia, kepadatan penduduk yang tinggi bukan merupakan syarat karena ia dapat bertahan hidup dalam sejumlah populasi manusia yang kecil dan terpencar. Sebaliknya, penyakit yang proses infeksinya memerlukan waktu yang singkat serta berkembang melalui transmisi yang cepat dari seorang ke orang lain, memerlukan sejumlah populasi manusia yang cukup besar untuk memungkinkan organisme penyakit dapat mempertahankan kehidupannya dalam host manusia, dengan demikian rantai transmisi dapat terpelihara ( Cockburn 1971 ). Kepadatan penduduk yang tinggi memperlancar penyebarannya, apalagi kalau cara-cara dan pengetahuan medis ( modern maupun tradisional ) untuk mencegah penyebarannya dalam masyarakat dan perkembangannya dalam tubuh manusia, belum berkembang. Selain itu, kita juga mengetahui masalah-masalah kesehatan lainnya yang parah seperti sanitasi lingkungan yang tidak sehat, perumahan yang tidak layak, kekurangan makanan, dan berbagai patologi sosial yang berderajat tinggi sebagai akibat dari kehidupan dalam lingkungan fisik yang penuh sesak.

Masalah-masalah dari faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan yang baru saja dikemukakan, bukan hanya merupakan lapangan penelitian dengan penggunaan pendekatan biologis tetapi juga biobudaya dan sosiobudaya.

Kondisi sehat dan sakit bukan hanya dipengaruhi oleh ketiga faktor yang baru saja dikemukakan di atas, tetapi juga oleh faktor perilaku. Secara epidemiologis, keempat faktor ini menentukan insidensi, prevalensi, dan distribusi penyakit dan gangguan kesehatan lainnya. Semua faktor ini, seperti yang dikemukakan pada Gambar I, satu dengan lainnya terkait dan membentuk suatu jaringan kausalitas.

Faktor – faktor perilaku manusia yang mempengaruhi kesehatan dapat digolongkan dalam dua dua kategori, yaitu : 1) perilaku yang terwujud secara sengaja dan sadar, dan 2) perilaku yang terwujud secara tidak sengaja atau tidak sadar. Ada perilaku-perilaku yang disengaja atau tidak disengaja membawa manfaat bagi keseahatan individu atau kelompok kemasyarakatan sebaliknya ada yang disengaja atau tidak disengaja berdampak merugikan kesehatan.

a. Perilaku sadar yang menguntungkan kesehatan.

Mencakup perilaku perilaku yang secara sadar oleh seseorang yang berdampak menguntungkan kesehatan. Golongan perilaku ini langsung berhubungan dengan kegiatan-kegiatan pencegahan penyakit serta penyembuhan dari penyakit yang dijalankan dengan sengaja atas dasar pengetahuan dan kepercayaan bagi diri yang bersangkutan, atau orang-orang lain, atau suatu kelompok sosial. Sehubungan dengan ini, kebutuhan-kebutuhan pelayanan dan perawatan medis dipenuhi melalui fasilitas- fasilitas yang tersediayang mencakup; (1) sistem perawatan rumah tangga, (2) sistem perawatan tradisional yang diberikan oleh Prametra (pemraktek atau praktisi medis tradisional), dan (3) sistem perawatan formal (biomedis atau kedokteran).

b. Perilaku sadar yang merugikan kesehatan

Perilaku sadar yang dijalankan secara sadar atau diketahui tetapi tidak menguntungkan kesehatan terdapat pula di kalangan orang berpendidikan atau profesional, atau secara umum pada masyarakat-masyarakat yang sudah maju. Kebiasaan merokok (termasuk kalangan ibu hamil), pengabaian pola makanan sehat sesuai dengan kondisi biomedis, ketidakteraturan dalam pemeriksanaan kondisi kehamilan, alkoholisme, pencemaran lingkungan, suisida, infantisida, pengguguran kandungan, perkelahian, peperangan dan sebagainya.

c. Perilaku tidak sadar yang merugikan kesehatan

Golongan masalah ini paling banyak dipelajari, terutama karena penanggulangannya merupakan salah satu tujuan utama berbagai program pembangunan kesehatan masyarakat, misalnya pencegahan penyakit dan promosi kesehatan kalangan pasangan usia subur, pada ibu hamil, dan anak-anak Balita pada berbagai masyarakat pedesaan dan lapisan sosial bawah di kota-kota.

d. Perilaku tidak tidak sadar yang menguntungkan kesehatan.

Golongan perilaku ini menunjukkan bahwa tanpa dasar pengetahuan manfaat biomedis umum yang terkait, seseorang atau sekelompok orang dapat menjalankan kegiatan-kegiatan tertentu yang secara langsung atau tidak langsung memberi dampak positif terhadap derajat kesehatan mereka.

 

Dalam berbagai model penyakit, faktor sosial berperan menghasilkan unsur penyebab peyakit atau memperbesar peluang orang untuk kontak dengan kuman (agen) penyakit.

· Faktor sosial dapat mempengaruhi konsumsi alkohol, kebiasaan merokok dan perilaku seksual. Namun faktor sosial tersebut tidak berperan dalam etiologi penyakit karena timbulnya penyakit pada seseorang ada mekanismenya tersendiri.

· Stres atau ketegangan sosial mengakibatkan reaksi tubuh tidak dapat menyesuaikan sehingga menimbulkan penyakit.

· Bagi orang yang berpendidikan rendah maka peningkatan penghasilan bekaitan dengan kemungkinan menderita rematik arthritis. Akan tetapi angka rematik lebih tinggi pada mereka yang berpenghasilan rendah di antara mereka yang berpendidikan tinggi (King dan Cobb,1958:474)

· Status perkawinan memberi penjelasan tentang angka kematian. Tingginya angka bunuh diri pada bujangan , janda dan duda dibandingkan dengan orang yang sedang menikah menunjukkan bahwa mereka lebih rawan untuk melakukan perbuatan tersebut, dan bila angka bunuh diri pada kedua kelompok jenis kelamin dijadikan standar maka pria bujangan atau duda lebih rawan dibandingkan dengan para gadis dan janda (Durkheim,1952:197-198)

· Status sosial ekonomi merupakan ukuran yang penting. Dengan melihat pekerjaan orang tua maka proporsi orang yang mendapat gangguan jiwa mulai dari status teringgi hingga terendah adalah 17,5%; 16,4%; 20,9%; 24,5%; 29,4% dan 32,7% (Srolle dkk.,1962)

Disintegrasi sosial memiliki 10 indikator yaitu: kesulitan ekonomi, kekacauan budaya, sekularisasi, lemahnya asosiasi, lemahnya kepemimpinan, sedikitnya pola rekreasi, tingginya angka kejahatan dan pelanggaran, tingginya angka perceraian, tingginya permusuhan dan lemahnya jaringan komunikasi (Leighton dkk.,1963:26)

 

FAKTOR KESEHATAN MENINGKATKAN ANGKA KEMATIAN DI INDONESIA

Angka kematian di Indonesia berdasarkan The World Factbook pada bulan September tahun 2005 diperoleh sebear 6,25 kematian / 1000 populasi. Indonesia menempati urutan ke 143 dalam urutan negara-negara dengan tingkat kematian tertinggi. Sedangkan negara dengan tingkat kematian tertinggi di dunia adalah Bostwana yaitu sebesar 29,36 kematian / 1000 populasi. Rata-rata angka kematian dunia dari 181 negara yang berhasil di data adalah sebesar 8,87 kematian / 1000 populasi. Berikut ini adalah hal-hal yang menyebabkan tingginya angka kematian di Indonesia yang terkait dengan masalah kesehatan:

A. Perubahan-Perubahan di Dalam Masyarakat

a. Revolusi Pertanian dan perkembangannya.

Secara keseluruhan, perubahan-perubahan lingkungan untuk pertanian, peternakan dan pemukiman telah menyebabkan binatang pengerat (terutama tikus) dan jenis insekta berdiam di dalam dan di sekitar rumah petani. Konsekuensi perubahan ini dari segi kesehatan tentu tidak menguntungkan.

Akibat lain dari revolusi pertanian adalah pertambahan penduduk yang lebih cepat daripada penduduk pemburu dan peramu. Oleh karena itu, sekalipun hasil pertanian dan peternakan dapat lebih menjamin persediaan makanan, namun demikian penduduk yang banyak ini dapat mengalami bahaya kekurangan makanan atau kelaparan kalau panen kurang berhasil atau gagal, atau kalau ternak terserang penyakit. Angka kematian bayi dan anak seperti pula di kalangan petani pedesaan masa kini, disebabkan oleh suatu gabungan faktor, yaitu gizi buruk, parasit intestinal, dan malaria.

b. Lingkungan kota pra industri

Kota praindustri adalah lingkungan hidup buatan yang merupakan suatu cipta budaya manusia (peradaban) sekaligus merupakan tipe budaya tersendiri mendampingi tipe budaya pendesaan. Pada tingkat ini tidak banyak masyarakat yang mengalami perubahan sedemikian, namun pertumbuhan dan perkembangannya kemudian makin lama makin pesat dngan segala konsekuensinya. Salah satu konsekuensi yang tidak dapat disangkal telah terjadi pada tahap kebudayaan ini ialah penderitaan yang paling besar waktu itu yang belum pernah terjadi sebelumnya sebagai akibat meluasnya epidemi-epidemi penyakit infeksi, bukan hanya di kalangan penduduk kota praindustri tetapi juga menyebar pada komunitas-komunitas pedesaan di sekitarnya.

Dari segi epidemiologi, kausalitas bencana ini dapat dijelaskan. Pemusatan jumlah penduduk yang besar ke dalam lingkungan yang relatif sempit mengakibatkan beberapa dampak masalah penyediaan kebutuhan masalahan dan air dalam jumlah besar, pembuangan sampah / kotoran, dan rekuensi kontak yang meningkat di kalangan penduduk yang jumlahnya besar telah memungkinkan berkembangnya penyakit-penyakit yang menyebar secara langsung dari individu ke individu. Karena seringnya sumber air tercemar, misalnya sungai yang juga dijadikan tempat pembuangan kotoran, telah mengakibatkan berkembangnya berbagai bahaya kesehatan bagi penduduk.

Kolera tersebar melalui air yang tercemar seperti itu. Tipus mudah tersebar karena frekuensi kontak yang tinggi. Wabah pes yang sebelumnya disebarkan oleh binatang pengerat, telah dapat pula dijangkitkan oleh udara. Hal ini mungkin terjadi karena padatnya penduduk. Karna kontak-kontak yang dimaksud jenis-jenis penyakit yang disebabkan oleh virus seperti campak, gondong, cacar air, dan cacar mudah mewabah. Perubahan sosial dan kepadatan penduduk menyebabkan sipilis dan gonorea menjadi terkenal secara umum sebagai penyakit kelamin. Pada pihak lain, penggunaan air dalam rangka kegiatan pertanian mungkin merupakan sebab utama terjadinya perubahan-perubahan frekuensi penyakit yang merugikan kesehatan masyarakat yang bersangkutan.

Rupanya sehubungan dengan peningkatan produksi pertanian telah terjadi suatu konsekuensi, yaitu berkurangnya jenis tanaman dan binatang liar yang dimakan. Dengan kata lain, jenis-jenis makanan terbatas jumlahnya sesuai dengan, atau bahkan lebih kurang dari, jenis-jenis yang didomestikasi. Beberapa bukti kekurangan vitamin telah ditemukan, seperti rabun senja dan beri-beri.

Bahaya-bahaya sehubungan dengan pemasokan bahan makanan secara besar-besaran bagi komunitas-komunitas kota adalah kemungkinan tersebarnya secara luas organismeo-rganisme penyebab pencemaran makanan. Wabah-wabah ergotis (penyakit gandum yang disebabkan oleh sejenis jamur) timbul saat jenis-jenis tanaman biji-bijian mulai ditanam secara besar-besaran (Brothwell 1972).

Cara-cara menyimpan makanan mulai menjadi masalah penting dalam rangka ekonomi pertanian, terutama yang berhubungan dengan kemungkinan-kemungkinan terjadinya kontaminasi, seperti keracunan aflotoxin akibat fungus yang berasal dari kacang tanah..

Dalam lingkungan kota tidak jarang pula terjadi kelaparan yang dengan sendirinya diikuti oleh epidemi-epidemi penyakit infeksi. Segi lainnya menunjukan pula bahwa ada hubungan antara prevalensi penyakit dengan tingkat-tingkat atau masa-masa kehidupan sosial ekonomi dan politik yang baik maupun yang buruk.

c. Kota Industri

Dengan kondisi kepadatan penduduk yang tinggi di daerah kumuh, panjangnya waktu kerja harian, penggunaan materi-materi baru, menjadikan tuberkulosis menduduki tempat yang paling umum di kota – kota industri. Lahirnya penyakit-penyakit lain seperti pneunomia, bronchitis, radang tenggorokan streptococcal, dan kadang – paru – paru karena keracunan bersumber pun dari kondisi yang dimaksud.

Mortalitas bayi dan anak adalah tinggi karena pengaruh kondisi seperti tersebut di atas dan faktor malnutrisi di tambah dengan dampak penggunaan anak sebagai buruh pabrik. Perilaku penyimpangan kalangan orang tua, kenakanal anak, alkoholisme, dan kejahatan terorganisasi merupakan pula gejala-gejala yang mewabah. Kondisi-kondisi dan penyakit-penyakit ini bersama dengan tuberkulosis dan penyakit kelamin, dikenal sebagai “penyakit-penyakit sosial”. Dengan berkembangnya industrialisasi, kolonialisme makin ditingkatkan terutama dngna tujuan menjadikan daerah-daerah jajahan sebagai tempat menjual produksi dan sumber tenaga dan bahan-bahan mentah yang murah. Kolonialisme telah menyebabkan penduduk daerah-daerah jajahan mengenal ekonomi uang serta mengubah subsistennsi menjadi pertanian penghasil komoditi-komoditi pasar, yang seringkali mengakibatkan pula terjadinya perubahan-perubahan pola makanan yang merugikan penduduk pribumi (Polgar 1964).

Dari segi kesehatan, perkembangan kolonialisme telah mengakibatkan tersebarnya penyakit-penyakit epidemik kota dimana hidup komunitas-komunitas petani menetap, komunitas-komunitas petani berpindah-pindah maupun komunitas-komunitas pemburu dan peramu, serta kerajaan-kerajaan dan kesultanan-kesultanan pribumi. Khususnya campak, cacar dan tuberkulosis yang telah menyerang masyarakat-masyarkat ini dan memperkecil jumlah penduduk bahkan menghabiskannya, seperti yang terjadi di antara suku-suku bangsa pribumi seperti di Amerika, Paisifik termasuk di Indonesia.

d. Masa kini, peradaban dan masalah kesehatan

Di tepian berbagai segi dan bentuk kemajuan yang menjulang tinggi hasil imu pengetahuan dan tekonolgoi biomedis, ktia masih sangat mudah menyaksikan adanya berbagai masalah kesehtan (fisik, jiwa, maupun psilosomatis dan sosial) dari segi perorangan sebagai kasus penderita serta dari segi kelompok sosial. Peradaban modern belum berhasil menanggulangi masalah-masalah ini. Bahkan adanya pandangan yang bertujuan untuk membebaskan manusia dari hari depan dari penyakit sebenarnya tidaklah realistis, seperti yang dikemukakan oleh Rene Dubos (1959) kalau demikian berbagai jenis penyakit akan tetap menyertai manusia sepanjang sejarahnya.

Perubahan pola penyakit pada suatu masyarakat dapat terjadi, seperti di negara negara maju di Barat. Penyakit-penyakit infeksi dan berjangkit telah sngat berkurang namun prevalensi penyakit-penyakit psilosomatis, kronis, jiwa, degeneratif, dan kriminalitas maupun penyakit-penyakit sosial lainnya tidak menunjukkan angka penurunan. Misalnya, masyarakat-masyarakat ini sedang dilanda masalah penyakit baru yang sangat menakutkan, yaitu AIDS akibat perilaku seksual yang menyimpang, suatu bentuk penyakit sosial lainnya. Dan saat ini, masalah medis yang berat tersebut tersebut sudah menjadi hal yang tidak asing di negara-negara berkembang di Afrika dan Asia seperti Indonesia.

Kemajuan ilmu kedokteran diperhadapkan dengan kenyataan masalah-masalah yang sangat rumit disebabkan oleh antara lain, factor-faktor sosiobudaya, psikologis, lingkungan hidup dan kemiskinan dan kesemuanya berada di luar model biomedik dan premis-premis ekonomi. Sementara ahli-ahli kedokteran merawat pasien-pasien yang menderita tuberkulosis, perilaku pasien sendiri tidak menunjang perawatan seperti merokok, tidak memperhatikan ketentuan-ketentuan nutrisi atau berbagai perilaku ketidaktaatan dalam perawatan medis, sadar dan sengaja atau tidak sadar dan tidak sengaja. Sementara itu pula pasien-pasien dan penduduk umumnya sedang menghirup udara tercemar yang berasal dari pabrik-pabrik dan kendaraan-kendaraan bermotor yang justru akan turut merusak paru – paru. Pengobatan dengan antibiotik, imunisasi dan pembedahan merupakan jalan keluar mutakhir yang terus dikembangkan yang telah berhasil menyelamatkan sejumlah orang yang tidak terbilang banyaknya. Namun demikian, hasil teknologi kedokteran ini tidak bebas dan kelemahan-kelemahan, seperti kekebalan staphylococcic terhadap antibiotik sendiri yang telah mewabah. Penggunaan vitamin yang berlebih-lebihan telah menyebabkan banyak anak-anak yang mengalami masalah medis hypercalcemia. Sementara itu pula tak terbilang julah penduduk di negara-negara berkembang yang tidak dapat menikmati vitamin dan mineral, bahkan sangat kekurangan makanan karena miskin. Fasilitas kesehatan yang tersedia bagi mereka tergolong paling rendah dan serta kekurangan.

Disisi lain kemakmuran telah menyebabkan lahirnya kebiasaan makan secara berlebih-lebihan, mengakibatkan penyakit-penyakit jantung, obesitas, diabetes dan gangguan ginjal juga mewabah. Ahli-ahli teknologi kedokteran dapat secara berhasil merawat penyakit gentis seperti phenylketonuria, tetapi ahli-ahli teknologi canggih telah pula menyebabkan lahirnya bahaya-bahaya akbiat penggunaan secara berlebih – lebihan alat-alat sinar X serta percobaan-percobaan bom nuklir (Polgar 1964) dan penggunaan bom kimia.

Sementara itu, berbagai perawatan medis yang diberikan oleh para dokter telah menyebabkan pula lahirnya berbagai penyakit lagtrogenik sebagai efek-efek sampingan perawatan. Perang yang mudah meledak dan dapat berkepanjangan, serta peningkatan penumpulan berbagai jenis sejantara konvensional dan nuklir merupakan kebijaksanaan politik negara-negara maju yang memakan anggaran yang tidak terbilang besarnya, kematian dan penyakit, kehancuran lingkungan hidup. Sedangkan di pihak lain, banyak negara-negara berkembang, seperti negara kita khususnya di daerah-daerah yang kurang mendapat perhatian pemerintah seperi Papua, yang tampaknya tidak dapat lagi mengatasi sendiri bencara kelaparan yang mengakibatkan busung lapar sampai menimbulkan korban jiwa karena, antara lain, lumpuhnya pertanian akibat musim kemarau panjang maupun karena kerusakan lingkungan alam.

Tidak dapat disangkal bahwa penanggulangan masalah-masalah kesehatan tidak hanya melalui upaya-upaya teknologi medis, penciptaan prasadaran dan saran biomedis serta pendidikan berbagai jenis personalia medis, tetapi juga mencakup upaya-upaya inovasi kesehatan yang bertujuan untuk merubah perilaku kesehatan masyarakat melalui komunikasi gagasan-gagasan dan praktek-praktek baru (terutama yang berhubungan dengan sistem prevensi penyakit). Selain itu, penting pula diperhatikan kehendak dan keputusan politik dari suatu pemerintah apakah kebijakan pembangunan kesehatan diarahkan kepada kepentingan penduduk terbanyak dan yang terpadu dengan sector-sektor lain atau diarahkan kepada rencana lainnya. Upaya-upaya ini dikenal dengan pembangunan kesehatan masyarakat dengan mengintegrasikan pendekatan sosiobudaya, suatu dimensi lain dalam meningkatkan kualitas hidup penduduk terbanyak di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

 

B. Penyakit-Penyakit Penyebab Kematian

1. Penyakit Jantung dan Pembuluh darah (PJP)

Penyakit jantung dan pembuluh darah (PJP) masih menjadi penyakit mematikan nomor satu di dunia. Namun, masyarakat Indonesia yang memiliki gaya hidup pemicu PJP sepertinya mengabaikan fakta ini. Berdasarkan survei yang dilakukan Yayasan Jantung Indonesia (YJI), dari 2500 respoden yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia terbukti sudah mengetahui bahwa PJP disebabkan oleh merokok, stres serta pola makan yang salah. Dari data yang dihimpun Departemen Kesehatan (Depkes), peningkatan mortalitas akibat PJP di Indonesia terlihat jelas. Dari hanya 5,9% pada tahun 1975 menjadi 9,1% pada tahun 1981, berkembang menjadi 16% pada tahun 1986, dan terakhir sebesar 19,0% pada tahun 1995. Data ini justru kebalikan dari data yang dikeluarkan World Heart Federation yang merekam adanya penurunan kematian karena PJPdi negara-negara maju. Dari angka yang cukup tinggi yakni 5,1% pada tahun 1985 menjadi 48% pada tahun 1990 dan 46,55% pada tahun 1997.

Penurunan mortalitas akibat PJP di negara maju ini disebabkan kesadaran masyarakatnya untuk menghindari PJP dan sudah diikuti dengan perubahan pola hidup. Namun, kesadaran macam ini belum menyentuh masyarakat awam di Indonesia. Hal ini terbukti dengan jumlah perokok yang tidak pernah menurun dari tahun ke tahun. Padahal, cukup dengan berhenti merokok, maka risiko terkena PJP bisa menurun sampai 24,4%. Dan jika diikuti dengan olah raga akan bisa menurun lagi sampai 54%.

Kebiasaan yang tidak kalah buruk selain merokok adalah pola makan yang dapat memicu PJP. Prof.Dr.Ir.Ali Khomsan, pakar gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menyoroti bahwa pola makan orang Indonesia mempunyai pengaruh pada PJP. Kebiasaan pola makan di suatu daerah terbukti memiliki peran terhadap pada perkembangan PJP. Di daerah di mana penduduknya banyak mengonsumsi ikan seperti Maluku dan Sulawesi Utara angka penderita PJP-nya relatif rendah.

Merebaknya restoran Fast Food di banyak kota besar di Indonesia telah menyumbang peningkatan PJP. Restoran Fast Food jarang menyajikan makanan berserat. Menu yang tersaji cenderung mengandung banyak garam, lemak dan kolesterol. Berdasarkan penelitian, di dalam satu potong double cheeseburger terkandung 13,34 gram lemak dan 118 miligram kolesterol. Sedangkan pada sepotong dada ayam siap saji terkandung 13,73 gram lemak serta 581 miligram kolesterol. Pada satu potong paha ayam ada kandungan 10,16 gram lemak dan 306 miligram kolesterol. Orang Indonesia tidak cukup hanya memakan daging ayam saja, masih ditambah dengan nasi putih atau kentang goreng, bahkan juga es krim. Bayangkan berapa lemak dan kolesterol yang masuk ke dalam tubuh kita sekali ”mampir” ke sebuah restoran Fast Food. Hal ini tentu meningkatkan resiko terkena PJP bagi masyarakat Indonesia.

2. Penyakit Infeksi

Infeksi atau penyakit yang disebabkna oleh berbagai mikroorganisme dan parasit dari segi epidemiologi dapat digolongkan : (1) “infeksi aseksual” melalui organisme – organisme yang berkembang biak secara aseksual, dan (2) “infeksi seksual” melalui organisme yang berkembang biak secara seksual. Setiap golongan in iterbagi lagi k edalam kategori “langsung” dan “tidak langsung”. Suatu infeksi tidak langsung dalam transmisi normal memerlukan perkembangan di luar host. Karnea itu jenis infeksi ini sebagian perkembangannya tergantung pada kondisi suhu dan kelembaban lingkungan. Banyak jenis infeksi ini terdapat dalam wilayah tropis termasuk Indonesia.

Berdasarkan informasi WHO, urutan penyakit infeksi yang menyebakan kematian pada tahun 1993 dan 2002 diperoleh sebagai berikut.

 

2002 1993

World population 6.2 billion 5.5 billion

Total deaths from all causes 57 million 100% 51 million

Rank Cause of death Number Percentage of total Number 1993 Rank

1 Lower respiratory infections 3.9 million 6.8% 4.1 million 1

2 HIV/AIDS 2.8 million 4.9% 0.7 million 7

3 Diarrheal diseases 1.8 million 3.2% 3.0 million 2

4 Tuberculosis (TB) 1.6 million 2.7% 2.7 million 3

5 Malaria 1.3 million 2.2% 2.0 million 4

6 Measles 0.6 million 1.1% 1.1 million 5

7 Pertussis 0.30 million 0.5% 0.36 million 7

8 Tetanus 0.21 million 0.4% 0.15 million 12

9 Meningitis 0.17 million 0.3% 0.25 million 8

10 Syphilis 0.16 million 0.3% 0.19 million 11

11 Hepatitis B 0.10 million 0.2% 0.93 million 6

Tropical diseases (6) 0.13 million 0.2% 0.53 million 9, 10, 16,

17,18

 

3. Stroke

Stroke adalah serangan mendadak pada otak akibat pembuluh otak tersumbat atau pecah. Biasanya kondisi ini akan diikuti dengan gejala seperti nyeri kepala hebat, penurunan kesadaran dan kejang mendadak. Juga terjadi gangguan daya ingat, keseimbangan dan gangguan orientasi tempat, waktu dan orang.

Banyak masyarakat awam yang tidak menyadari bahwa stroke sangat berbahaya. Informasi ini sering tidak didapat oleh masyarakat kalangan menengah ke bawah. Yang perlu diketahui adalah sesungguhnya stroke merupakan keadaan gawat darurat. Stroke membutuhkan penanganan segera, sama halnya dengan jantung. Jika pada jantung disebut serangan jantung, maka stroke bisa disebut sebagai serangan otak.

Jumlah penderita stroke di Indonesia kian meningkat dari tahun ke tahun. Jangan disepelekan, sebab penyakit ini sudah menjadi pembunuh nomor tiga di Indonesia setelah penyakit infeksi dan jantung koroner. Sekitar 28,5% penderita penyakit stroke di Indonesia meninggal dunia.

Di Eropa, stroke merupakan penyakit berbahaya kedua setelah penyakit jantung koroner. Di antara 100 pasien rumah sakit, sedikitnya dua orang merupakan penderita stroke. Jika tidak ditangani dengan segera maka penderita stroke bisa berakhir dengan kematian atau kecacatan, yakni lumpuh dimensial atau pikun dan gangguan lain seperti sulit bicara dan melakukan kegiatan lainnya.

Untuk mencegah “the silent killer” ini maka seseorang dianjurkan untuk mengurangi rokok, melakukan olah raga teratur, membatasi minuman beralkohol, dan menghindari stres berlebihan. Mereka yang berpotensi tinggi terkena stroke adalah penderita hipertensi, kencing manis, pecandu rokok dan alkohol, serta penderita stres berat.

 

C. Pelayanan Kesehatan yang Buruk

1. Masalah tenaga kesehatan

a. Dalam menetukan kebutuhan tenaga kesehatan belum dilaksanakan berdasarkan hasil analisis jabatan sehingga informasi tentang jabatan yang diharapkan seperti informasi tentang nama jabatan, persyaratan jabatan dan uraian tugas dan lain-lain belum dapat dipergunakan didalam menentukan jenis tenaga yang dibutuhkan.

b. Penyusunan tenaga kesehatan belum terlaksana secara mantap karena belum tersedianya dana, sarana/ prasara dan tenaga yang memadai.

c. Mutu lulusan pendidikan tenaga kesehatan masih belum memenuhi harapan dari pendaya gunaan tenaga tersebut.

d. Jenis pendidikan tersebut masih belum sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan pembangunan kesehatan secara nasional. Masih ada jenis tenaga yang kenyataannya diperlukan untuk menunjang pembangunan dan pelayanan kesehatan seperti tenaga Terapi Wicara, Ortotik Perotetik, Terapi Okupasi dan pencatatan medik.

e. Pedoman yang telah disusun dalam rangka penjabaran konsep pendidikan tenaga kesehatan masih belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan penyelengaraan pendidikan yang kompleks, masih terdapat perbedaan-perbedaan interpretasi, ketidak mengertian dan kekeliruan-kekeliruan yang dilakukan oleh pelaksana pendidikan.

f. Terjadi ketidak seimbangan antara kebutuhan program dengan formasi yang ditetapkan oleh yang berwenang.

g. Terjadi ketidak seimbangan antara lulusan hasil pendidikan tenaga kesehatan dan rendahnya lapangan kerja yang tersedia untuk berbagai jenis tenaga kesehatan, khususnya dokter ahli dan tenaga paramedis perawatan. Berbagai daerah dan lembaga masih menghadapi kekurangan, sedangkan ditempat-tempat tertentu relatip mengalami kelebihan.

h. Mutu atau kualitas tenaga kesehatan dinegara kita memerlukan perhatian yang lebih besar lagi.

 

4. Malpraktek

Malpraktek adalah pengertian mediko-legal. Artinya isu hukum yang timbul terkait dengan atau sebagai akibat pelayanan medis kepada pasien. Mal berarti buruk atau salah. Jadi, malpraktik medis adalah praktik yang buruk atau salah. Karena ditambah kata medis, lazimnya langsung diartikan masyarakat sebagai kesalahan praktik oleh dokter. Padahal – seperti diterangkan di atas – dokter bukan satu-satunya faktor penentu di rumah sakit tentang outcome pada pasien. Penggunaan langsung istilah malpraktik (misalnya oleh media masa) pada kasus tertentu dengan arahan kepada pemberi layanan kesehatan tertentu adalah melanggar asas hukum praduga tidak bersalah.

Ada tidaknya malpraktik harus dibuktikan dengan empat kriteria hukum berikut ini.

1). Ada duty of care. Artinya, dokter/RS mengaku berkewajiban memberikan asuhan kepada pasien. Ini tidak sukar dibuktikan. Begitu pasien terdaftar dan dokter mulai melakukan tanya-jawab, sudah terjadi kontrak medis atau kontrak pengobatan antara dokter dan pasien, sekalipun tidak tertulis. Kontrak medis berarti dokter / RS berjanji akan berusaha sebaik-baiknya dan pasien berjanji akan mematuhi petunjuk dan pengobatan yang diberikan dokter.

2). Ada breach of duty. Artinya, dokter/RS tidak melakukan kewajiban sebagaimana seharusnya. Wujud breach atau pelanggaran adalah:

a). Kekeliruan/kesalahan (error of commission, medical error) dalam tindakan medis, seperti kekeliruan diagnosis, interpretasi hasil pemeriksaan penunjang, indikasi tindakan, tindakan tidak sesuai standar pelayanan, kesalahan pemberian obat, kekeliruan transfusi, dsb.

b). Kelalaian berat (gross neglicence, error of emission). Tidak melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan menurut asas-asas dan standar praktik kedokteran yang baik

3). Ada cedera (harm, damage) pada pasien, berupa cedera fisik, psikologis, mental, sampai yang terberat jika pasien cacat tetap atau meninggal.

4). Ada hubungan sebab-akibat langsung antara butir 2 dan 3, artinya cedera pada pasien memang akibat breach of duty pada pemberi asuhan kesehatan. Inilah yang paling sukar dibuktikan.

 

VI. SOLUSI

A. Perencanaan Tenaga Kesehatan

a. Meningkatkan kegiatan analisis kebutuhan tenaga berdasarkan hasil analisis jabatan, analisi beban kerja dan kapasitas pegawai.

b. Meningkatkan usaha penyusunan kebutuhan tenaga kesehatan.

 

B. Pengadaan Tenaga Kesehatan

a. Memantapkan konsep pendidikan tenaga kesehatan yang serasi, terarah dan menyeluruh.

b. Meningkatkan jumlah dan kualitas institusi penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan berdasarkan pertimbangan pemerintah, kebutuhan tenaga dan kemampuan penyelengaraan pendidikan termasuk pendidikan swakarsa.

c. Meningkatkan jumlah dan mutu tenaga pendidik sesuai dengan kebutuhan dan memberi kesempatan untuk memberi kesempatan untuk mengembangkan kariernya.

d. Memantapkan kurikulum pendidikan berdasarkan kompentensi yang menjamin lulusan mampu berperan sesuai dengan tugas yang diembannya.

e. Meningkatkan penyediaan sumber daya yang mendukung pendidikan dan mendaya gunakannya secara efektif dan efisien.

f. Meningkatkan manajemen pendidikan termasuk pengembangan organisasi guna mendukung kegiatan proses belajar mengajar sesuai dengan perkembangan upaya kesehatan dan pendidikan, serta peningkatan pengawasan pemantauan dan penilaian terhadap penyelenggaraan dan pencapaian sasaran.

g. Meningkatkan sistem informasi pendidikan tenaga kesehatan dan jaringan informasi IPTEK.

h. Meningkatkan kesempatan dan pengelolaan tugas belajar bagi tenaga kesehatan.

i. Meningkatkan kerjasama dengan masyarakat termasuk swasta, terutama dengan organisasi profesi dan lembaga swadaya masyarakat dalam kegiatan peningkatan penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan.

j. Meningkatkan hubungan lintas program dan lintas sektor dalam upaya pembinaan penyelenggaraan dan peningkatan pendidikan.

 

C. Pengelolaan Tenaga Kesehatan

a. Pemberian Informasi ke Fakultas / Sekolah Tenaga Kesehatan tentang kebutuhan akan tenaga/ formasi kesehatan.

b. Mengutamakan pemenuhan kebutuhan untuk menunjang program kesehatan yang dicanangkan pemerintah.

c. Memantapkan sistem informasi ketenagaan untuk meningkatkan administrasi dan pengelolaan tenaga kesehatan beserta sasarannya dan memanfaatkan kerjasama lintas sektoral dan lintas program serta organisasi profesi kesehatan.

d. Meningkatkan penyebaran tenaga secara merata terutama daerah terpencil, rawan, pemukiman baru dan perbatasan.

e. Peningkatan pembinaan tenaga kesehatan guna lebih meningkatkan prestasi dan kegairahan kerja melalui percepatan pelayanan administrasi kepegawaian.

f. Meningkatkan pelaksanaan pengembangan karir tenaga kesehatan terutama melalui jabatan fungsional dengan menyusun jabatan fungsional tenaga kesehatan masyarakat, penunjang medik, farmasi dan laboratorium.

g. Menyusun ketentuan tentang perizinan bagi tenaga kesehatan lain secara menyeluruh.

h. Mengatur pola pendaya gunaan tenaga kesehatan untuk sektor swasta dan kebutuhan luar negeri.

D. Akreditasi Rumah Sakit (RS)

Akreditasi Rumah Sakit (RS). ”Akreditasi RS adalah suatu pengakuan yang diberikan oleh pemerintah pada rumah sakit karena telah memenuhi standar yang ditentukan.” Sedangkan tujuan utamanya adalah meningkatkan mutu layanan RS. Definisi dari Federasi Akreditasi Internasional (ISQua): ”Akreditasi adalah suatu pengakuan publik melalui suatu badan nasional akreditasi rumah sakit atas prestasi RS dalam memenuhi standar akreditasi yang dibuktikan melalui suatu asesmen pakar setara (peer) eksternal yang independen.”

Dari definisi itu jelas bahwa RS perlu mempelajari apa saja standar-standar yang berlaku baik untuk tingkat RS maupun untuk masing-masing pelayanan misalnya: Pelayanan (Yan) Medis, Yan Keperawatan, Administrasi & Manajemen, Rekam Medis, Yan Gawat Darurat, dsb. Standar-standar ini terdiri dari elemen struktur, proses dan hasil (outcome).

Struktur adalah fasilitas fisik, organisasi, sumber daya manusianya, sistem keuangan, peralatan medis dan non-medis, AD/ART, kebijakan, SOP/Protap, program, dsb. Proses adalah semua pelaksanaan operasional dari staf/unit/bagian RS kepada pasien/keluarga/masyarakat pengguna jasa RS tersebut. Hasil (outcome) adalah perubahan status kesehatan pasien, perubahan pengetahuan/pemahaman serta perilaku yang mempengaruhi status kesehatannya di masa depan, dan kepuasan pasien. Hasil biasanya diukur dengan indikator RS atau indikator klinis. Hasil (outcome) berbeda dengan luaran (output), contoh jumlah pasien operasi (PO) adalah luaran, sedangkan hasil adalah jumlah pasien operasi yang ada Infeksi Luka Operasi (PILO) dibagi jumlah pasien yang dioperasi (PILO/PO kali 100%). Tentu yang lebih penting adalah hasil/outcome, karena menentukan mutu suatu layanan.
Menerapkan standar-standar ini bukan merupakan suatu upaya jangka pendek, tapi upaya jangka panjang dan sepanjang masa. Akreditasi pada dasarnya adalah proses menilai RS sejauh mana telah menerapkan standar. Di Indonesia Akreditasi RS dilakukan oleh KARS (Komite Akreditasi Rumah Sakit) Departemen Kesehatan.

Berdasarkan literatur luar negeri dan juga pengalaman KARS di Indonesia, manfaat yang diperoleh RS karena akreditasi adalah sebagai berikut:

1. Peningkatan pelayanan (diukur dengan clinical indicator),

2. Peningkatan administrasi & perencanaan,

3. Peningkatan koordinasi asuhan pasien,

4. Peningkatan koordinasi pelayanan,

5. Peningkatan komunikasi antara staf,

6. Peningkatan sistem & prosedur,

7. Lingkungan yang lebih aman,

8. Minimalisasi risiko,

9. Penggunaan sumber daya yang lebih efisien,

10. Kerjasama yang lebih kuat dari semua bagian dari organisasi,

11. Penurunan keluhan pasien & staf,

12. Meningkatnya kesadaran staf akan tanggung jawabnya,

13. Peningkatan moril dan motivasi,

14. Re-energized organization,

15. Kepuasan pemangku kepentingan (stakeholder).

E. Pendidikan Kesehatan

Beberapa studi menunjukkan bahwa puskesmas dan posyandu di daerah-daerah tertentu tidak dimanfaatkan secara optimal (Ministry of Health, 1987; Rasyid, dkk, 1988; Sihotang & Adi). Oleh seabab itu jika kita menginnginkan peningkatan derajat kesehatan masyarakat maka kita harus bersedia dan mampu mengubah perilaku masyarakat, tugas ini merupakan tugas utama dari para pendidik atau penyuluh kesehatan (health educator). Pendidikan kesehatan itu mencakup kegiatan peningkatan kesadaran dan kesehatan (health promotion), pencegahan penyakit, penyembuhan dan rehabilitasi.

Pendidikan kesehatan pada dasarnya adalah suatu proses mendidik individu atau masyarakat supaya mereka dapat memecahkan masalah-masalah kesehatan yang dihadapinya. Seperti halnya proses pendidikan lainnya, pendidikan kesehatan mempunyai unsure masukan atau input yaitu perilaku pemakai sarana kesehatan dan petugas kesehatan yang setelah diolah dengan tekhnik-tekhnik pendidikan tertentu akan menghasilkan keluaran atau output yaitu perubahan perilaku kesehatan masyarakat sasaran yang sesuai dengan harapan tujuan kegiatan tersebut. Dengan demikian pendidikan kesehatan merupakan kegiatan yang dinamis.

 

F. Penerapan Sosiologi di Bidang Kesehatan

Tujuan penerapan sosiologi dalam bidang kedokteran dan kesehatan antara lain untuk menambah kemampuan para dokter dalam melakukan penilaian klinis secara lebih rasional , menambah kemampuan untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dialami di dalam praktek, mampu memahami dan menghargai perilaku pasien, kolega serta organiasi, dan menambah kemampuan dan keyakinan dokter dalam menangani kebutuhan sosial dan emosional pasien, sebaik kemampuan mereka dalam menangani gangguan penyakit yang diderita pasien.

 

 

G. Mencanangkan Pekan kesehatan Nasional

Pemerintah telah mencanangkan Pekan Kesehatan Nasional (PKN) mulai Agustus 2005 berisi gerakan kebersihan, pekan imunisasi nasional (PIN) berbagai penyakit guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, mewujudkan masyarakat sehat terhindar wabah penyakit dan kekurangan gizi (busung lapar). PKN merupakan gerakan kebersihan mulai lingkungan keluarga, RT/RW, desa/kelurahan seminggu sekali untuk mencegah penyakit demam berdarah, malaria, TBC, polio dan diare serta kampanye pola hidup sehat seperti, berolahraga cukup, makan gizi seimbang serta tidak merokok dan minum alkohol. PKN juga diisi PIN bagi balita seperti polio mencegah penyakit polio, BCG untuk mencegah TBC, imunisasi campak, hepatists B dan imunisasi DPT untuk mencegah batuk, pernafasan dan tetatus. Imunisasi mencegah penyakit menular dan pemberian makanan tambahan bergizi akan diteruskan oleh ibu-ibu dalam kegiatan mingguan PKK dan Posyandu sepanjang tahun, agar kasus busung lapar balita, kematian bayi dan ibu melahirkan dapat dicegah. Peningkatan derajat kesehatan melalui PKN dan pemberian asuransi kesehatan gratis bagi 60 juta jiwa penduduk miskin mulai 2005 akan berjalan dengan didukung dana kompensasi kenaikan BBM (bahan bakar minyak) senilai Rp3 triliun lebih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s