KEPENTINGAN FARMAKOEKONOMI TERHADAP PRIBADI DOKTER

Seiring dengan perkembangan zaman, maka pengetahuan berkaitan dengan penyakit sudah semakin berkembang. Pengetahuan tentang pengobatan terhadap penyakit-penyakit tertentu pun tidak ketinggalan, dimana saat ini untuk suatu penyakit tertentu telah tersedia berbagai macam obat untuk menyembuhkan ataupun sekedar meredakan simptom penyakit tersebut.

Obat sebagai salah satu unsur yang penting dalam upaya kesehatan, mulai dari upaya peningkatan kesehatan, pencegahan, diagnosis, pengobatan dan pemulihan harus diusahakan agar selalu tersedia pada saat dibutuhkan. Disamping merupakan unsur yang penting dalam upaya kesehatan, obat sebagai produk dari industri farmasi dengan sendirinya tidak lepas dari aspek ekonomi dan teknologi. Tekanan aspek teknologi dan ekonomi tersebut semakin besar dengan adanya globalisasi ekonomi, namun tekanan ini pada dasarnya dapat diperkecil sedemikian rupa sehingga kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi sedangkan industri farmasi dapat berkembang secara wajar. Obat juga dapat merugikan kesehatan bila tidak memenuhi persyaratan atau bila digunakan secara tidak tepat atau disalah gunakan.

Didalam makalah ini akan dibahas mengenai peranan dokter yang besar dalam bidang farmakologi serta penerapan farmakoekonomi dalam suatu proses pengobatan serta. Topik ini perlu untuk dibahas karena dengan tersedianya berbagai macam obat memberikan dampak positif yaitu seorang dokter memiliki lebih banyak “senjata” untuk menaklukan penyakit yang dihadapi pasien, dimana jika obat yang satu tidak mempan, maka dokter dapat menggunakan obat dari golongan lain. Tetapi, semakin banyak jumlah obat yang tersedia, akan menimbulkan berbagai permasalahan. Dimulai dari semakin banyak nama serta bentuk sediaan obat yang harus diketahui dokter sehingga kecenderungan bagi dokter untuk menuliskan resep yang salah semakin besar, hingga permasalahan mengenai manakah obat yang terbaik yang dapat diberikan pada pasien.

Maka dari aspek inilah kemudian ilmu farmakoekonomi semakin berkembang pada tahun-tahun terakhir. Dimana pada ilmu farmakoekonomi, akan dibahas tentang cost dan price dari suatu regimen terapi dengan juga menimbang efek yang ditimbulkan dari masing-masing obat. Dengan demikian, dokter dapat memberikan pengobatan dengan pertimbangan bahwa obat yang akan diberikannya merupakan obat yang paling efektif dengan harga termurah.

 

Pengertian Farmakoekonomi

Farmakoekonomi (pharmacoeconomics) adalah suatu metoda baru untuk mendapatkan pengobatan dengan biaya yang lebih efisien dan serendah mungkin tetapi efektif dalam merawat penderita untuk mendapatkan hasil klinik yang baik (cost effective with best clinical outcome).

Biaya yang dimaksud efisien dan serendah mungkin maksudnya ialah biaya yang dibutuhkan semenjak pasien mulai menerima terapi sampai pasien sembuh (cost) dan bukan hanya dilihat dari biaya per item obat yang dikonsumsi pasien (price). Atau dengan kata lain, metoda ini tidak hanya berhubungan dengan upaya mendapatkan biaya obat yang murah, tetapi juga berhubungan dengan efisiensi obat, efisiensi peralatan, penyediaan dan monitoring obat ataupun proses yang berhubungan dengan pemberian obat-obatan.

Farmakoekonomi merupakan suatu analisa ekonomi terhadap upaya pelayanan kesehatan yaitu dalam penggunaan obat, dengan meninjau dari segi biaya versus dampak. Dampak yang dapat muncul akibat dari penggunaan obat-obatan dalam proses terapi antara lain adanya perubahan fisik, emosi, spiritual, finansial dan status sosial pada penderita, masyarakat, unit pelayanan kesehatan atau penyandang dana (keluarga penderita, pemerintah, kantor, asuransi).

Farmakoekonomi adalah ilmu yang mengukur biaya dan hasil yang diperoleh dihubungkan dengan pengunaan obat dalam perawatan kesehatan. Analisis farmakoekonomi menggambarkan dan menganalisa biaya obat untuk sistem perawatan kesehatan. Studi farmakoekonomi dirancang untuk menjamin bahwa bahan-bahan perawatan kesehatan digunakan paling efisien dan ekonomis.

Farmakoekonomi di defenisikan juga sebagai deskripsi dan analisis dari biaya terapi dalam suatu sistem pelayanan kesehatan, lebih spesifik lagi adalah sebuah penelitian tentang proses identifikasi, mengukur dan membandingkan biaya, resiko dan keuntungan dari suatu program, pelayanan dan terapi serta determinasi suatu alternatif terbaik. Evaluasi farmakoekonomi memperkirakan harga dari produk atau pelayanan berdasarkan satu atau lebih sudut pandang.

Tujuan dari farmakoekonomi diantaranya membandingkan obat yang berbeda untuk pengobatan pada kondisi yang sama selain itu juga dapat membandingkan pengobatan (treatment) yang berbeda untuk kondisi yang berbeda). Adapun prinsip farmakoekonomi sebagai berikut yaitu menetapkan masalah, identifikasi alternatif intervensi, menentukan hubungan antara income dan outcome sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat, identifikasi dan mengukur outcome dari alternatif intervensi, menilai biaya dan efektivitas, dan langkah terakhir adalah interpretasi dan pengambilan kesimpulan.

Farmakoekonomi diperlukan karena adanya sumber daya terbatas misalnya pada RS pemerintah dengan dana terbatas dimana hal yang terpenting adalah bagaimana memberikan obat yang efektif dengan dana yang tersedia, pengalokasian sumber daya yang tersedia secara efisien, kebutuhan pasien, profesi pada pelayanan kesehatan (Dokter, Farmasis, Perawat) dan administrator tidak sama dimana dari sudut pandang pasien adalah biaya yang seminimal mungkin.

 

Terminologi dalam Farmakoekonomi

Dalam bidang farmakoekonomi terdapat beberapa terminologi yang penting untuk kita ketahui antara lain biaya (cost) dan harga (price). Biaya (Cost) adalah biaya yang dibutuhkan semenjak pasien mulai menerima terapi sampai pasien sembuh. Sedangkan harga (Price) yaitu biaya per item obat yang dikonsumsi pasien.

Selain itu tedapat terminologi yang berkaitan dengan kegiatan dan evaluasi yang dilakukan dalam farmakoekonomi. Kegiatan dalam farmakoekonomi meliputi survei berdasarkan farmakoepidemologi, studi dan analisa, penggambaran trend/ prediksi/ model, kebijakan dan regulasi, pelaksanaan kebijakan dan regulasi, evaluasi, dan pengulangan siklus PDCA (Plan, Do, Check and Action).

Sedangkan evaluasi dalam farmakoekonomi meliputi Cost-Minimization Analysis (CMA), Cost-Effectiveness Analysis (CEA), Cost-Benefit Analysis (CBA), dan Cost-Utility Analysis (CUA).

 

1. Cost-Minimization Analysis

Cost-Minimization Analysis adalah tipe analisis yang menentukan biaya program terendah dengan asumsi besarnya manfaat yang diperoleh sama. Analisis ini digunakan untuk menguji biaya relatif yang dihubungkan dengan intervensi yang sama dalam bentuk hasil yang diperoleh. Suatu kekurangan yang nyata dari analisis cost-minimization yang mendasari sebuah analisis adalah pada asumsi pengobatan dengan hasil yang ekivalen. Jika asumsi tidak benar dapat menjadi tidak akurat, pada akhirnya studi menjadi tidak bernilai. Pendapat kritis analisis cost-minimization hanya digunakan untuk prosedur hasil pengobatan yang sama.

Contoh dari analisis cost-minimization adalah terapi dengan antibiotika generik dengan paten, outcome klinik (efek samping dan efikasi sama), yang berbeda adalah onset dan durasinya. Maka pemilihan obat difokuskan pada obat yang biaya per harinya lebih murah.

Cost minimisasi adalah yang paling simpel dari semua perangkat farmakoekonomi yang mana membandingkan dua jenis obat yang sama efikasi dan toleransinya terhadap satu pasien. Ekivalen terapeutik harus direferensikan oleh peneliti dalam melaksanakan studi ini, yang mana harus dilampirkan sebelum cost minimisasi itu diterapkan. Oleh karena efikasi dan toleransi adalah sama, maka tidak diperlukan efikasi umum sebagai titik tolak pertimbangan (yang mana biasa sering dipakai dalam studi cost effectiveness). Peneliti disini boleh mengesampingkan harga/kesembuhan ataupun harga/tahun karena hal ini tidak begitu berpengaruh. Yang penting dalam studi cost minimisasi ini adalah menghitung semua harga termasuk penelitian dan penelusuran yang berhubungan dalam pengantaran intervensi terapeutik itu. Dan yang terpenting yang berelevan dengan sisi pandang farmakoekonomi.

 

2. Cost-Benefit Analysis

Analisis Cost-Benefit adalah tipe analisis yang mengukur biaya dan manfaat suatu intervensi dengan beberapa ukuran moneter dan pengaruhnya terhadap hasil perawatan kesehatan. Tipe analisis ini sangat cocok untuk alokasi bahan-bahan jika keuntungan ditinjau dari perspektif masyarakat. Analisis ini sangat bermanfaat pada kondisi antara manfaat dan biaya mudah dikonversi ke dalam bentuk rupiah.

Merupakan tipe analisis yang mengukur biaya dan manfaat suatu intervensi dengan beberapa ukuran moneter, dan pengaruhnya terhadap hasil perawatan kesehatan. Dapat digunakan untuk membandingkan perlakuan yang berbeda untuk kondisi yang berbeda. Merupakan tipe penelitian farmakoekonomi yang kompreherensif dan sulit dilakukan karena mengkonversi benefit kedalam nilai uang.

Pertanyaan yang harus dijawab dalam cost-benefit analysis adalah alternatif mana yang harus dipilih diantara alternatif-alternatif yang dapat memberikan manfaat atau benefit yang paling besar.

Cost benefit adalah bagian dari formal disiplin yang digunakan untuk mendukung kasus dari projek atau proposal yang mana akan meningkatkan nilai projek tersebut. Dengan kata lain, ini merupakan pendekatan tidak resmi yang digunakan untuk menetapkan keputusan apapun.

Cost benefit ini adalah perangkat ekonomi yang digunakan untuk menentukan keinginan atau preferensi akan dua jenis pilihan obat. Hal ini adalah menghitung kerelaan masyarakat dalalm membayar sejumlah uang demi mendapatkan efek atau keuntungan dari suatu intervensi

 

3. Cost-Effectiveness Analysis

Analisis Cost-Effectiveness adalah tipe analisis yang membandingkan biaya suatu intervensi dengan beberapa ukuran non-moneter, dimana pengaruhnya terhadap hasil perawatan kesehatan. Analisis Cost-Effectiveness merupakan salah satu cara untuk memilih dan menilai program yang terbaik bila terdapat beberapa program yang berbeda dengan tujuan yang sama tersedia untuk dipilih. Kriteria penilaian pogram mana yang akan dipilih adalah berdasarkan discounted unit cost dari masing-masing alternatif program sehingga program yang mempunyai discounted unit cost terendahlah yang akan dipilih oleh para analisis/ pengambil keputusan.

Dalam menganalisis suatu penyakit, analisis cost-effectiveness berdasarkan pada perbandingan antara biaya suatu program pemberantasan tertentu dan akibat dari program tersebut dalam bentuk perkiraan dari kematian dan kasus yang bisa dicegah.

Contoh sederhana, program A dengan biaya US $ 25.000 dapat menyelamatkan 100 orang penderita. Sehingga unit costnya atau CE rationya US $ 250/ life. Sedangkan dengan biaya yang sama, program B hanya dapat menyelamatkan 15 orang penderita, berarti unit costnya atau CE rationya mencapai $ 1,677/ life. Dalam hal ini jelaslah bahwa program A yang akan dipilih karena lebih efektif daripada program B). Aplikasi dari CEA misalnya dua obat atau lebih digunakan untuk mengobati suatu indikasi yang sama tapi cost dan efikasi berbeda. Analisis cost-effectiveness mengkonversi cost dan benefit (efikasi) ke dalam rasio pada obat yang dibandingkan.

Cost efektiveness dari suatu intervensi preventif terapeutik adalah rasio akan harga intervensi yang berhubungan dengan munculnya efek yang dimaksud. Harga ini disebut sebagai sumber-sumber yang dikeluarkan untuk intervensi yang mana dihitung dengan uang. Perhitungan efek ini tergantung dari intervensi yang dilakukan. Misalnya intervensi akan penurunan berat badan maka digunakan penurunan berat badan sebagai unit perhitungan. Jika intervensi untuk penurunan tekanan sistole darah, maka penurunan tiap mmHg itu di anggap sebagai perubahan efek begitu juga untuk penyembuhan penyakit tertentu lainnya.

 

4. Cost-Utility Analysis

Analisis Cost-Utility adalah tipe analisis yang mengukur manfaat dalam utility-beban lama hidup; menghitung biaya per utility; mengukur ratio untuk membandingkan diantara beberapa program. Analisis cost-utility mengukur nilai spesifik kesehatan dalam bentuk pilihan setiap individu atau masyarakat. Seperti analisis cost-effectiveness, cost-utility analysis membandingkan biaya terhadap program kesehatan yang diterima dihubungkan dengan peningkatan kesehatan yang diakibatkan perawatan kesehatan. Dalam cost-utility analysis, peningkatan kesehatan diukur dalam bentuk penyesuaian kualitas hidup (quality adjusted life years, QALYs) dan hasilnya ditunjukan dengan biaya per penyesuaian kualitas hidup. Data kualitas dan kuantitas hidup dapat dikonversi kedalam nilai QALYs, sebagai contoh jika pasien dinyatakan benar-benar sehat, nilai QALYs dinyatakan dengan angka 1 (satu). Keuntungan dari analisis ini dapat ditujukan untuk mengetahui kualitas hidup. Kekurangan analisis ini bergantung pada penentuan QALYs pada status tingkat kesehatan pasien

Cost utility adalah bentuk dari analisa ekonomi yang digunakan untuk membimbing keputusan sebelum tindakan penyembuhan. Cost utility ini diperkirakan antara rasio dari harga yang menyangkut intervensi kesehatan dan keuntungan yang dihasilkan dalam bagian itu yang dihitung dari jumlah orang yang hidup dengan kesehatan penuh sebagai hasil dari penyembuhannya. Hal ini menyebabkan cost utility dan cost effectiveness saling berhubungan dan timbal balik.

 

Manfaat dan Kekurangan Farmakoekonomi

Manfaat yang dapat diperoleh dengan penerapan farmakoekonomi antara lain:

1. Memberikan pelayanan maksimal dengan biaya yang terjangkau.

Seiring dengan perkembangan zaman, maka pengetahuan yang berkaitan dengan penyakit sudah semakin berkembang. Pengetahuan tentang pengobatan terhadap penyakit-penyakit tertentu pun tidak ketinggalan, dimana saat ini untuk suatu penyakit tertentu telah tersedia berbagai macam obat untuk menyembuhkan ataupun sekedar meredakan simptom penyakit tersebut.

Hal ini memberikan manfaat, yaitu terdapat banyak pilihan obat yang dapat diberikan untuk tindakan terapi bagi pasien. Namun, banyaknya pilihan terapi ini tidak akan bermanfaat apabila ternyata pasien tidak sanggup membeli karena harganya yang mahal. Oleh karena itu, pertimbangan farmakoekonomi dalam menentukan terapi yang akan diberikan kepada pasien sangat diperlukan, misalnya dengan penggunaan obat generik. Di Indonesia khususnya, telah terdapat 232 jenis obat generik yang diregulasi dan disubsidi oleh pemerintah dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan obat patennya.

2. Angka kesembuhan meningkat. Angka kesehatan meningkat dan angka kematian menurun.

Terapi yang diberikan oleh dokter akan berhasil apabila pasien patuh terhadap pengobatan penyakitnya. Kepatuhan ini salah satunya dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Misalnya saja harga obat yang diresepkan oleh dokter terlalu mahal maka pasien tidak akan sanggup membeli dan tentu saja tidak dapat mengkonsumsi obatnya. Dan sebaliknya apabila harga obat terjangkau, maka pasien dapat mengkonsumsi obatnya dan mengalami kesembuhan.

Selain itu ketepatan dokter dalam memilih terapi yang tepat untuk penyakit pasien atau berdasarkan Evidense Based Medicine juga berpengaruh. Misalnya saja dokter hanya memberikan obat yang sifatnya simptomatis kepada pasien, tentu saja penyakit pasien tidak sembuh dan harus kembali berobat dan biaya yang dikeluarkan untuk mencapai kesembuhan semakin besar.

3. Menghindari tuntutan dar pihak pasien dan asuransi terhadap dokter dan rumah sakit karena pengobatan yang mahal.

Saat ini telah terjadi perubahan paradigma dalam masyarakat, dimana jasa pelayanan kesehatan tidak berbeda dengan komoditas jasa lain. Perubahan paradigma ini mengubah hubungan antara pasien, dokter, dan lembaga pelayanan kesehatan seperti rumah sakit. Seorang pasien menjadi semakin kritis dan ingin tahu untuk apa saja ia membayar, termasuk dalam hal obat-obatan atau terapi serta pemeriksaan yang dilakukan. Apabila ada kesan kelalaian dokter dan pihak rumah sakit, pasien berhak mengajukan tuntutan ke pengadilan.

Apabila dokter telah memberikan obat-obat generik dengan harga yang murah dengan syarat memang tepat indikasi untuk penyakit pasien, dan rumah sakit selalu menyediakannya, maka dokter dan rumah sakit akan terhindar dari tuntutan pasien dan pihak asuransi atas biaya pengobatan yang mahal.

Sedangkan kekurangan atau kendala yang mungkin dihadapi dalam penerapan farmakoekonomi antara lain:

1. Untuk mendapatkan manfaat dari farmakoekonomi secara maksimal maka diperlukan edukasi yang baik bagi praktisi medik termasuk dokter maupun masyarakat. Dokter harus memperdalam ilmu farmakologi dan memberikan obat berdasarkan Evidence Based Medicine dari penyakit pasien. Pendidikan masyarakat tentang kesehatan harus ditingkatkan melalui pendidikan formal maupun informal, dan menghilangkan pandangan masyarakat bahwa obat yang mahal itu pasti bagus. Hal ini belum tentu karena obat yang rasional adalah obat yang murah tapi tepat untuk penyakitnya.

2. Diperlukan peran pemerintah membuat regulasi obat-obat generik yang bermutu untuk digunakan alam pelayanan kesehatan baik tingkat pusat sampai kecamatan dan desa. Karena dalam banyak kasus, obat-obat non generik yang harganya jauh lebih mahal terpaksa diberikan karena tidak ada pilihan obat lain bagi pasien. Terutama bagi pasien yang menderita penyakit berat, seperti kanker. Seperti contoh obat peningkatan protein jenis albumin dan antibiotik jenis botol ampul yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah.

3. Tidak selamanya ke empat evaluasi farmakoeonomi yang meliputi Cost-Minimization Analysis (CMA), Cost-Effectiveness Analysis (CEA), Cost-Benefit Analysis (CBA), dan Cost-Utility Analysis (CUA) dapat berjalan bersamaan.

 

Kaitan Dokter dan Farmakoekonomi

Seorang dokter diharapkan mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam mendiagnosis penyakit secara individual, kemudian berdasarkan pengetahuan mengenai patofisiologi, etiologi penyakit dan terapetika, mampu memberikan terapi secara tepat dan melakukan upaya-upaya agar pasien patuh terhadap terapi yang diberikan. Di samping itu dalam tingkat populasi pasien atau komunitas, seorang dokter diharapkan mengetahui faktor-faktor risiko dan penyebab penyakit, sehingga mampu untuk menganjurkan upaya-upaya pencegahan penyakit dalam populasi.

Dalam dunia kedokteran terdapat kesenjangan antara pendidikan farmakologi yang lebih banyak menekankan sifat maupun efek obat dan pendidikan klinik yang lebih menekankan mengenai diagnosis, patofisiologi dan penanganan penyakit. Pendidikan Farmakologi Klinik dan Terapetika diberikan untuk menjembatani kesenjangan ini, terutama membahas mengenai pemakaian obat dalam klinik dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan. Dimana salah satu topik bahasannya adalah mengenai penerapan farmakoekonomi.

Dalam sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh WHO pada tahun 1978, para delegasi dari 134 negara dan 67 organisasi PBB menyatakan bahwa kesehatan tidak hanya sekedar bebas dari suatu penyakit, tetapi juga sebuah kesejahteraan yang utuh baik dari segi fisik, mental, maupun sosial. Kesehatan adalah hak asasi manusia yang fundamental.

Selama beberapa waktu lamanya, bahkan hingga kini, konsep medis tradisional masih kerap digunakan oleh masyarakat Timur., dengan silver bullet (peluru ajaib), yakni obat. Satu pil untuk memecahkan satu masalah. Dengan kata lain, untuk setiap gangguan kesehatan, kita berharap pada bidang medis untuk memberikan pengobatan yang sederhana dan tepat. Yang menjadi pertanyaan adalah sejauh manakah bidang medis dapat memenuhi harapan tersebut.

Dari waktu ke waktu, karena perkembangan ilmu dan teknologi dalam bidang kedokteran dan pengobatan, jenis obat yang tersedia dalam praktek semakin banyak. Untuk masing-masing kondisi penyakit tersedia berbagai alternatif obat yang dapat diberikan. Banyaknya jenis obat yang tersedia cenderung mendorong pemakaian obat yang tidak tepat/ tidak rasional, sehingga diperlukan pemahaman prinsip-prinsip pemilihan dan pemakaian obat dalam klinik secara benar.

Salah satu benda yang menakjubkan di dunia ini adalah obat. Meski bentuknya kecil, namun ia berada di antara dua dunia yang besar yaitu ekonomi dan sosial. Hampir setiap orang mengeluhkan biaya pelayanan kesehatan termasuk harga obat yang terus melambung dan mempertanyakan risiko dan manfaat yang ada mengingat ada banyak jenis obat yang beredar untuk satu jenis penyakit. Hal ini membuat pasien semakin bingung. Ada beberapa hal yang menjadi faktor penyebab, diantaranya bertambahnya populasi penduduk usia lanjut, obat-obat baru, serta perubahan pola pengobatan. Ini tidak diimbangi dengan sumberdaya keuangan yang tersedia dan tingginya kebutuhan.

Salah satu cara agar pelayanan kesehatan menjadi lebih efisien dan ekonomis adalah dengan farmakoekonomi, yakni analisa biaya suatu terapi dengan menggunakan obat terhadap sistem kesehatan di suatu populasi. Ada empat tipe analisa yang digunakan, yaitu: Analisa biaya keuntungan (Cost-benefit) yakni perbandingan nilai moneter dari penggunaan sumber daya alternatif, Analisa biaya efektifitas (Cost-effectiveness) dimana nilai moneter diperbandingkan dengan mengukur biaya dalam satuan kesehatan, Analisa biaya minimisasi (Cost-minimization) merupakan perhitungan banyaknya biaya yang dapat disimpan sebagai akibat dari suatu tindakan terapi, serta Analisa biaya utilitas (Cost-utility) yakni pengukuran dari hasil kesehatan di dalam satuan kualitas hidup. Atau biasa disebut QALY (Quality-adjusted life year).

Sabagai contoh, dokter harus memikirkan apakah obat yang diresepkan tersebut sudah Cost-efectiveness atau tidak, terutama ditujukan untuk pasien yang memiliki riwayat atau mengalami penyakit-penyakit yang degeneratif atau progresif.

 

Manfaat Farmakoekonomi dari Sudut Pribadi Dokter

Manfaat yang dapat diperoleh dokter dengan menerapkan farmakoekonomi dalam setiap pengobatan yang dilakukannya adalah sebagai berikut:

1. Pengobatan yang dilakukan memberikan hasil yang maksimal dengan biaya yang terjangkau oleh pasien. Pelayanan kesehatan yang diberikan dokter akan menjadi lebih efisien dan ekonomis dengan penerapan prinsip farmakoekonomi.

Seiring dengan perkembangan zaman, maka pengetahuan yang berkaitan dengan penyakit sudah semakin berkembang. Pengetahuan tentang pengobatan terhadap penyakit-penyakit tertentu pun tidak ketinggalan, dimana saat ini untuk suatu penyakit tertentu telah tersedia berbagai macam obat untuk menyembuhkan ataupun sekedar meredakan simptom penyakit tersebut.

Hal ini memberikan manfaat pada dokter, yaitu dokter mempunyai banyak pilihan obat yang dapat diberikan untuk tindakan terapi. Namun, banyaknya pilihan terapi ini tidak akan bermanfaat apabila ternyata pasien tidak sanggup membeli karena harganya yang mahal. Oleh karena itu, seorang dokter perlu untuk mempertimbangkan farmakoekonomi dalam menentukan terapi yang akan diberikan kepada pasien. Misalnya saja untuk obat-obat yang telah generiknya dapat menjadi pilihan utama bagi dokter untuk diberikan. Di Indonesia khususnya, telah terdapat 232 jenis obat generik yang diregulasi dan disubsidi oleh pemerintah dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan obat patennya. Dokter juga tidak perlu membuat pasien mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk pemeriksaan yang sesungguhnya tidak perlu dilakukan.

2. Dokter terhindar dari tuntutan pasien dan pihak asuransi karena pengobatan yang mahal.

Saat ini telah terjadi perubahan paradigma dalam masyarakat, dimana jasa pelayanan kesehatan tidak berbeda dengan komoditas jasa lain. Perubahan paradigma ini mengubah hubungan antara pasien dan dokter. Seorang pasien ingin tahu untuk apa saja ia membayar, termasuk dalam hal obat-obatan yang diresepkan oleh dokter. Apabila ada kesan kelalaian dokter, pasien berhak mengajukan dokternya ke pengadilan. Begitu pula apabila seorang dokter meresepkan obat-obatan yang harganya mahal dan ternyata pasien atau pihak asuransi mengetahui bahwa obat tersebut bisa saja disubstitusikan dengan obat-obatan yang lebih murah harganya, maka dokter tersebut akan dituntut ke pengadilan. Hal ini bisa juga terjadi karena adanya kecurigaan tentang kolusi yang terjadi antara dokter dengan perusahaan farmasi tertentu.

 

Kesimpulan

Farmakoekonomi (pharmacoeconomics) adalah suatu metoda baru untuk mendapatkan pengobatan dengan biaya yang lebih efisien dan serendah mungkin tetapi efektif dalam merawat penderita untuk mendapatkan hasil klinik yang baik (cost effective with best clinical outcome).

Farmakoekonomi diperlukan karena adanya sumber daya terbatas misalnya pada RS pemerintah dengan dana terbatas dimana hal yang terpenting adalah bagaimana memberikan obat yang efektif dengan dana yang tersedia, pengalokasian sumber daya yang tersedia secara efisien, kebutuhan pasien, profesi pada pelayanan kesehatan (Dokter, Farmasis, Perawat) dan administrator tidak sama dimana dari sudut pandang pasien adalah biaya yang seminimal mungkin.

Manfaat utama yang dapat diperoleh dokter dengan menerapkan farmakoekonomi dalam setiap pengobatan yang dilakukannya adalah dokter terhindar dari tuntutan pasien dan pihak asuransi karena pengobatan yang mahal.

 

 

Saran

Para praktisi medik harus memperdalam ilmu farmakologi dan memberikan obat berdasarkan Evidense Based Medicine dari penyakit pasien serta selalu mempertimbangkan farmakoekonominya sehingga pengobatan yang dilakukan memberikan hasil yang maksimal dengan biaya yang terjangkau oleh pasien.

Pendidikan masyarakat tentang kesehatan juga harus ditingkatkan melalui pendidikan normal maupun informal, dan menghilangkan pandangan masyarakat bahwa obat yang mahal belum tentu bagus. Obat yang rasional adalah obat yang murah tetapi tepat untuk penyakitnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s