Khasiat Obat Mahal dan Obat Murah

Tidak selamanya obat mahal itu obat bagus. Semuanya itu tergantung dari jenis penyakit dan diagnosa yang tepat. Sebagai contoh orang yang menderita penyakit flu  mendapat obat dengan harga sebesar Rp.500.000,  yang terdiri dari antibiotika generasi terakhir dan obat yang lain. Ternyata orang tersebut tidak segera sembuh walaupun obatnya mahal dan kita katahui bahwasanya penyakit flu itu disebabkan oleh virus yang bisa sembuh sendiri (self limited) dengan kondisi tubuh yang prima. Misalnya dengan penggunaan vitamin C yang meningkatkan daya tahan tubuh dan gizi yang baik serta istirahat yang cukup.

Yang dimaksud obat bagus adalah obat yang mempunyai efek terapi. Untuk mendapatkan efek terapi yang tepat haruslah dengan diagnosa yang tepat, dosis yang tepat, waktu yang tepat, artinya menggunakan obat secara rasional; tidak harus obat yang mahal-mahal.

Pemakaian obat dikatakan tidak rasional jika tidak tepat secara medik. Artinya tidak sesuai dengan indikasi, diberikan dalam dosis yang tidak tepat, cara dan lama pemberian yang keliru hingga kurang tepatnya informasi yang diberikan dengan pengobatan yang diberikan. Beberapa ciri ketidak-rasionalan pemberian obat dalam praktek sehari-hari beragam dan beberapa diantaranya adalah pemberian obat untuk penderita yang tidak memerlukan terapi obat contohnya pemberian obat-obat perangsang nafsu makan pada anak-anak. Padahal intervensi gizi jauh lebih bermanfaat. Contoh lain pemberian obat yang harganya mahal-mahal sementara obat sejenis dengan mutu yang sama dan harga lebih murah tersedia di apotik yaitu obat generik. Ketidak-rasionalan pemakaian obat merupakan masalah kesehatan yang cukup serius, tidak saja dalam skala individu tetapi juga dalam skala populasi yang lebih luas.

Peresepan berlebih (over prescribing), peresepan yang kurang (under prescribing), peresepan tidak tepat (incorect prescribing), peresepan yang boros (extravagant prescribing), serta peresepan dalam jumlah dan jenis yang banyak (multiple prescribing) merupakan ciri-ciri dari pemakaian obat yang tidak rasional.

Dampak negative pemberian obat yang tidak rasional sangat beragam dan bervariasi tergantung dari jenis ketidak rasional pemakaiannya. Dampak negative ini dapat saja hanya dialami oleh pasien (efek samping obat dan biaya yang mahal) maupun oleh populasi yang lebih luas (kuman kebal terhadap antibiotika tertentu) dan mutu pengobatan secara umum.

Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya pemakaian obat yang tidak rasional sangat beragam antara lain aktivitas promosi oleh industri farmasi melalui duta-duta farmasinya  yang umumnya memberikan informasi yang sering bias banyak sekali dijumpai. Hal ini jika tidak disaring secara seksama oleh praktisi medik akan berakibat timbulnya peresepan obat-obat yang belum tentu terbukti manfaatnya secara ilmiah disamping obat-obatnya mahal, yang uniknya lagi adanya tekanan dari pasien  dalam bentuk  permintaan untuk meresepkan obat-obat tertentu berdasarkan pilihan pasien sendiri. Hal ini sering terjadi pada masyarakat perkotaan dan hidupnya yang sudah mapan.

Obat memiliki 3 macam nama sangat berbeda antara satu dengan lainnya, yaitu nama kimia (rumus kimiawi), nama generik (nama yang dikenal di kalangan medis umum, sama di seluruh dunia) dan nama paten/ dagang (nama yang diberikan dari perusahaan obat yang memproduksi). Sebagai contoh panadol (nama dagang-paten) memiliki nama generik paracetamol serta nama kimia acetaminophen. Mendapatkan resep generik parasetamol sama aja dengan mendapat panadol tanpa merk yang harganya jauh lebih murah (sebagai perbandingan, sebutir panadol harganya Rp.400-an, sedangkan paracetamol Rp.90-an). Khasiat, efek, dan efek samping kedua obat tersebut sama.

Obat generik adalah obat yang merupakan tanggung jawab pemerintah dalam mengupayakan kesehatan masyarakat, oleh karena itu bahan baku obat generik itu sebagian disubsidi anggaran pemerintah sehingga harganya jauh lebih murah. Obat generik berbahan baku sama dengan obat paten terkait. Obat generik di produksi oleh pabrik yang telah ditunjuk pemerintah dan terdapat harga eceran tertinggi sehingga apotek tidak dapat menjual dengan harga seenaknya. Saat ini sudah sekitar 90% jenis obat paten yang diminum sudah diupayakan generik tandingannya oleh pemerintah sebagai upaya meningkatkan akses masyarakat akan kesehatan.

Namun, tidak semua obat ada generiknya. Terutama obat-obat dengan struktur kimia yang lebih baru, tentunya itu adalah hasil penelitian yang bertahun-tahun dan menghabiskan banyak dari perusahaan farmasi terkait, sehingga biasanya mereka mematenkan produk itu. Paten itu bertahan secara hukum selama 20 tahun, jadi untuk obat baru tentu saja tidak akan pernah ada generik selama sampai 20 tahun setelahnya.

Oleh karena itu perlu upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi  masalah tersebut antara lain pemerintah harus membuat regulasi obat-obat generik yang bermutu digunakan pelayanan kesehatan baik tingkat pusat sampai kecamatan dan desa. Sedangkan dalam hal penetapan harga obat, ada beberapa hal yang seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah. Seperti memperhatikan keamanan dan mutu dalam evaluasi manfaat risiko dengan memperhatikan aspek ekonomi obat atau farmakoekonomi.

Kewenangan pemerintah dalam pengaturan harga obat sebenarnya sangat kecil. Dibandingkan dengan ribuan jenis obat yang beredar, pemerintah hanya mempunyai kewenangan mengatur harga obat yang masuk dalam kategori Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang diperbarui setiap dua tahun sekali. Dari 232 jenis obat generik yang ada di Indonesia, yang masuk dalam DOEN hanya 153 jenis. Sisanya tidak termasuk dalam kategori obat esensial sehingga harganya ditentukan mekanisme pasar bersama dengan obat bebas, obat branded generic dan obat paten.

Penelitian WHO menunjukkan perbandingan harga antara satu nama dagang dengan nama dagang yang lain untuk obat yang sama, berkisar 1:2 sampai 1:5. Artinya, harga obat generik bermerk dapat mencapai 5 kali harga obat generiknya. Penelitian di atas juga membandingkan harga obat dengan nama dagang dan obat generik menunjukkan obat generik bukan yang termurah. Keadaan ini antara lain menggambarkan betapa pentingnya kebijakan pemerintah mengenai penetapan harga obat (pricing policy).

Penelitian Departemen Kesehatan pada tahun 2005 juga menunjukkan hal yang menarik, dimana mereka menilai bahwa harga obat di Indonesia saat ini sangat bervariasi. Harga di apotek berdasarkan pengamatan cenderung beragam antar apotek satu dengan apotek lainnya. Sebagai contoh, Amoxyl 250 gram, yang perbedaan harganya berkisar antara Rp 1720 hingga Rp 2994 per butir. Kemudian Baquinor 500 produksi Sanbe Farma, harga yang diberikan di berbagai apotek dan rumah sakit juga sangat bervariasi.

Secara keseluruhan, pemerintah menyimpulkan bahwa terlihat perbedaan harga yang sangat signifikan antar berbagai merek obat, dimana  perbedaan antara harga minimal dan maksimal cukup beragam. Secara rata-rata, perbedaan harga tersebut mencapai 44,25%. Namun apabila diperhatikan secara individual, terlihat bahwa ada rentang yang sempit dan yang sangat besar antar berbagai jenis obat. Sebagai contoh, Losartan 500, perbedaan harganya cukup sempit yaitu antara Rp 7700 dan Rp 9305 atau 20,84%.  Disisi lain, Siprofloxacin 500, perbedaan harganya sangat besar yaitu antara Rp 340 dan Rp 2142 atau sebesar 530,56%.

Perbedaan harga yang tinggi inilah yang dijadikan landasan bagi pemerintah untuk memangkas harga obat ditingkat apotek melalui aturan/kebijakan pencantuman harga eceran tertinggi (HET). Kebijakan ini mewajibkan pabrik obat untuk mencantumkan HET pada label obat. HET ini dihitung berdasarkan Harga Netto Apotik (HNA) ditambah PPN 10% dan margin apotik sebesar 25%. Berdasarkan kebijakan ini, HET dicantumkan pada label obat sampai pada satuan kemasan terkecil dan berlaku pada obat bebas dan obat ethical (obat yang hanya dapat diperoleh dengan resep dokter).

Lebih lanjut pencantuman HET ini dilakukan dengan ukuran yang cukup besar dan warna yang jelas serta tempat yang mudah terlihat sehingga mudah dibaca konsumen. Pencetakan dilakukan dengan menggunakan cap dengan tinta permanen yang tidak dapat dihapus ataupun dicetak langsung pada kemasan. Kebijakan ini mulai diberlakukan 6 (enam) bulan semenjak ditetapkannya kebijakan ini, yaitu pada tanggal 7 Februari 2006.

Pemerintah bedasarkan SK Menkes No 720 Tahun 2006 secara serius juga merasionalkan harga obat dengan cara menurunkan harganya secara general. Mereka menghitung dengan cermat berapa harga obat yang rasional, dengan memperhatikan segala aspek dari pembuatan obat. Penetapan harga obat bertujuan agar masyarakat dapat membeli obat dengan nilai wajar. Namun, ada kekhawatiran bila pemerintah menetapkan harga terlalu rendah maka produsen akan enggan memproduksi. Berdasarkan SK Menkes No 720 Tahun 2006 tersebut, sedikitnya terdapat 40 jenis obat yang harganya ditetapkan jauh di bawah harga produksi. Bila harga obat terlalu rendah, dapat menyebabkan produsen tidak mampu berproduksi sehingga dia akan berhenti memproduksi obat tersebut. Kekosongan pasar ini kemungkinan akan diisi oleh obat impor yang berujung pada ketergantungan sehingga membahayakan ketersediaan obat generik di dalam negeri.

Agar harga obat turun, langkah lain yang dapat dilakukan pemerintah adalah dengan menurunkan atau menghilangkan pajak atas obat dan bahan baku obat. Selain itu, pemerintah dapat membatasi penulisan merek dalam resep, memberikan akses yang lebih banyak bagi masyarakat mengenai harga obat dan fungsi detailer harus menjelaskan khasiat obat, tidak berupa promosi penjualan. Pemerintah harus memberikan penjelasan yang cukup pada masyarakat bahwa informasi dan promosi obat generik bagi konsumen bahwa perbedaan harga tidak selalu mencerminkan perbedaan kualitas. Juga memberlakukan bahwa kewajiban menulis nama generik tidak hanya berlaku di rumah sakit pemerintah, tetapi juga sarana pelayanan kesehatan lain.

Disamping itu praktisi medik harus memperdalam ilmu farmakologi obat dan memberikan obat berdasarkan Evidense Based Medicine dari penyakit pasien. Pendidikan masyarakat tentang kesehatan juga harus ditingkatkan melalui pendidikan formal maupun informal, dan menghilangkan pandangan masyarakat bahwa obat yang mahal belum tentu bagus. Obat yang rasional adalah obat yang murah tetapi tepat untuk penyakitnya. Semuanya itu untuk penghematan biaya pengobatan yang mahal dan penggunaan obat yang rasional untuk menunju Indonesia sehat 2020.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s