PERSEPSI TENTANG SEHAT-SAKIT

A. Persepsi Tentang Sehat-Sakit

Secara ilmiah, penyakit (disease) itu diartikan sebagai gangguan fungsi fisiologis dari suatu organisme sebagai akibat dari infeksi atau tekanan dari lingkungan. Jadi, penyakit itu bersifat obyektif. Sebaliknya, sakit (illness) adalah penilaian individu terhadap pengalaman menderita suatu penyakit.

Di negara-negara maju, banyak orang yang sangat tinggi kesadarannya akan kesehatan dan takut terkena penyakit sehingga jika dirasakan sedikit saja kelainan pada tubuhnya, maka dia akan langsung pergi ke dokter, padahal ternyata tidak terdapat gangguan fisik yang nyata (hypochondriacal). Keluhan psikosomatis seperti ini lebih banyak ditemukan di negara maju daripada di kalangan masyarakat tradisional. Umumnya masyarakat tradisional memandang seseorang mengalami sakit apabila orang itu kehilangan nafsu makannya atau gairah kerjanya, tidak dapat lagi menjalankan tugasnya sehari-hari secara optimal atau kehilangan kekuatan sehingga harus tinggal di tempat tidur (Sudarti, 1998). Selama seseorang masih mampu melaksanakan fungsinya seperti biasa maka orang itu masih dikatakan sehat. Batasan “sehat” yang diberikan WHO adalah :

“A state of complete physical, mental and social wellbeing”

Dari batasan ini jelas terlihat bahwa sehat itu tidak hanya menyangkut kondisi fisik, melainkan juga kondisi mental dan sosial seseorang.

Konsep sehat-sakit ini berbeda-beda antara kelompok masyarakat. Oleh sebab itu, petugas kesehatan perlu menyelidiki persepsi masyarakat setempat tentang sehat dan sakit, mencoba mengerti mengapa persepsi tersebut sampai berkembang sedemikian rupa dan setelah itu mengusahakan mengubah persepsi tersebut agar mendekati konsep yang lebih obyektif. Dengan cara ini, penggunaan sarana kesehatan diharapkan dapat lebih ditingkatkan.

 

 

B. Perilaku Sakit

Seorang ahli sosiologi dan psikologi sosial yang lain, Mechanic, mengambangkan teori tentang perilaku sakit yang dinamakannya teori respons bertahan (coping response theory) (Notoatmodjo & Sarwono, 1986). Menurut Mechanic, perilaku sakit adalah reaksi optimal dari individu jika dia terkena suatu penyakit. Dan reaksi ini sangatlah ditentukan oleh sistem sosialnya. Perilaku sakit erat hubungannya dengan konsep diri, penghayatan situasi yang dihadapi pengaruh petugas kesehatan, serta pengaruh birokrasi. Misalnya karyawan yang mendapat jaminan perawatan kesehatan yang baik akan cenderung lebih cepat merasa sakit daripada mereka yang justru kehilangan nafkah hariannya jika tidak masuk kerja karena sakit.

Ada dua faktor utama yang menentukan perilaku sakit : persepsi atau defenisi individu tentang suatu situasi/penyakit, serta kemampuan individu untuk melawan serangan penyakit tersebut. Dengan demikian dapatlah dimengerti mengapa ada orang yang dapat mengatasi ganguan kesehatan yang cukup berat , sedangkan orang lain yang gangguannya lebih ringan malah memperoleh berbagai masalah, bukan saja fisik, melainkan masalah psikis dan sosial.

Banyak faktor yang menyebabkan orang bereaksi terhadap penyakit, antara lain sebagai berikut :

· Dikenalinya atau dirasakannya gejala-gejala / tanda-tanda yang menyimpang dari keadaan biasa.

· Banyaknya gejala yang dianggap serius dan diperkirakan menimbulkan bahaya.

· Dampak gejala itu terhadap hubungan dengan keluarga, hubungan kerja dalam kegiatan sosial lainnya.

· Frekuensi dari gejala dan tanda-tanda yang tampak dan persistensinya.

· Nilai ambang dari mereka yang terkena gejala itu (susceptibility atau kemungkinan individu untuk diserang penyakit itu).

· Informasi, pengetahuan dan asumsi budaya tentang penyakit itu.

· Perbedaan interpretasi terhadap gejala yang dikenalnya.

· Adanya kebutuhan untuk bertindak / berperilaku mengatasi gejala sakit itu.

· Tersedianya sarana kesehatan, kemudahan mencapai sarana tersebut, tersedianya biaya dan kemampuan untuk mengatasi stigma dan jarak sosial (rasa malu, takut, dsb).

Menurut Suchman, terdapat 5 macam reaksi dalam proses mencari pengobatan yaitu sebagai berikut :

1. Shopping adalah proses mencari alternatif sumber pengobatan guna menemukan seseorang yang dapat memberikan diagnosa dan pengobatan sesuai dengan harapan si sakit.

2. Fragmentation adalah proses pengobatan oleh beberapa fasilitas keshatan pada lokasi yang sama. Contoh : berobat ke dokter sekaligus ke sinse atau dukun.

3. Procrastination adalah proses penundaan pencarian pengobatan meskipun gejala penyakitnya sudah dirasakan.

4. Self medication adalah pengobatan sendiri dengan menggunakan berbagai ramuan atau obat-obatan yang dinilainya tepat baginya.

5. Discontinuity adalah penghentian proses pengobatan.

 

PERILAKU KESEHATAN

Masalah kesehatan masyarakat, terutama di negara-negara berkembang, pada dasarnya menyangkut dua aspek utama. Yang pertama ialah aspek fisik, seperti misalnya tersedianya sarana kesehatan dan pengobatan penyakit. Sedangkan yang kedua adalah aspek non fisik yang menyangkut perilaku kesehatan. Faktor perilaku ini mempunyai pengaruh besar terhadap status kesehatan individu maupun masyarakat.

Perilaku manusia merupakan hasil daripada segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku merupakan respons / reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respons ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan : berfikir, berpendapat, bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan). Sesuai dengan batasan ini, perilaku kesehatan dapat dirumuskan sebagai segala bentuk pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungannya, khususnya yang menyangkut pengetahuan dan sikap tentang kesehatan, serta tindakannya yang berhubungan dengan kesehatan.

Biasanya orang terlibat dengan kegiatan medis karena 3 alasan pokok (Kasl dan Cobb,1996), yaitu : (1) Untuk pencegahan penyakit atau pemeriksaan kesehatan pada gejala penyakit belum dirasakan (perilaku sehat) ; (2) untuk mendaptkan diagnosis penyakit dan tindakan yang diperlukan jika ada gejala penyakit yang dirasakan (perilaku sakit) ; (3) untuk mengobati penyakit, jika penyakit tertentu telah dipastikan, agar sembuh dan sehat seperti sediakala, atau agar penyakit tidak bertambah parah (peran sakit – sick role behaviour)

Orang tidak akan mencari pertolongan medis atau pencegahan penyakit bila mereka kurang mempunyai pengetahuan dan motivasi minimal yang relevan dengan kesehatan, bila mereka memandang keadaan tidak cukup berbahaya, bila tidak yakin terhadap keberhasilan suatu intervensi medis, dan bila mereka melihat adanya beberapa kesulitan dalam melaksanakan perilaku kesehatan yang disarankan (Robertsenstock,1974).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s