Tadalafil pada Disfungsi Ereksi

Disfungsi Ereksi atau erectile dysfunction adalah disfungsi sexual (sexual dysfunction) yang ditandai dengan ketidak mampuan mencapai dan mempertahankan ereksi untuk memperoleh hubungan seksual yang memuaskan. Dalam keadaan normal, ereksi biasanya terjadi saat tidur malam atau bangun pagi.

Pada disfungsi ereksi, tanda-tandanya adalah sebagai berikut :

Tidak mampu mencapai ereksi yang konsisten.

Tidak mampu ereksi sama sekali atau tidak mampu mempertahankan ereksi secara berulang ( paling tidak selama 3 bulan ).

Mampu ereksi namun hanya sesaat.

Pengobatan pada disfungsi ereksi tergantung pada penyebab primernya dan bertujuan untuk memperbaiki fungsi ereksi. Obat-obat yang sering dipakai untuk terapi disfungsi ereksi antara lain Phosphodiesterase Inhibitor (PDE), Alprostadil dan Phentolamine. Dan beberapa terapi lain yang dapat dilakukan bila penggunaan obat tidak dapat mengatasi disfungsi ereksi seperti Vacuum Constriction, Revaskularisasi dan Protesis Penis (Penis Tiruan ).1

Pada makalah ini kami membahas tentang pengobatan disfungsi ereksi dengan menggunakan TADALAFIL, yaitu obat penghambat enzim phosphodiesterase (phosphodiesterase inhibitor), karena enzim phosphodiesterase (PDE) mencegah terjadinya relaksasi pembuluh darah di penis sehingga aliran darah yang seharusnya lebih banyak mengalir ke penis untuk terjadinya ereksi menjadi berkurang.2

Disfungsi Ereksi

Definisi dan Patofisiologi Disfungsi Ereksi

Seperti kita ketahui sebelumnya, definisi disfungsi ereksi atau erectile dysfunction adalah salah satu bentuk disfungsi sexual (sexual dysfunction) yang ditandai dengan ketidak mampuan mencapai mempertahankan ereksi untuk mencapai hubungan seksual yang memuaskan.1

Sebelum membahas mengenai mekanisme terjadinya disfungsi ereksi, kita harus megetahui mekanisme singkat terjadinya ereksi. Seperti terlihat pada gambar 2.1, terjadinya ereksi diawali dengan relaksasi otot polos corpus cavernosum  pada penis, lalu dilanjutkan dengan dilatasi dinding cavernosa dan arteri helisine yang menyebabkan darah mengalir memasuki ruang-ruang lakuna (rongga–rongga atau spongelike yang terbentuk dari tunika albugenia). Selanjutnya diikuti dengan relaksasi otot polos trabekulum penis yang akan memperluas ruangan lakuna sehingga darah yang masuk ke penis menjadi lebih banyak dan menyebabkan penis menjadi membesar.3 Relaksasi otot polos yang terjadi pada corpus cavernosum  penis karena adanya cyclic guanosine 3,5 monophospahate (cGMP) yang mempengaruhi cGMP ion channel, cGMP binding protein dan protein kinase G, kemudian menyebabkan terbentuknya phosphorylated protein yang akan mengurangi konsentrasi Ca2+ dan menyebabkan relaksasi dari otot polos.

Pada difungsi ereksi terjadi gangguan pada cGMP, yaitu dengan adanya enzim phosphodiesterase-5 (PDE5) yang menghidrolisa cGMP sehingga relaksasi dari otot polos corpus kavernosum  penis terhambat dan penambahan aliran darah untuk proses terjadinya ereksi tidak tercapai.4

 

Penatalaksanaan Disfungsi Ereksi

Dalam penatalaksanaannya, kalangan internasional mengenal tiga tahapan pengobatan disfungsi ereksi :

Tahap pertama adalah memberi obat oral pada pasien disfungsi ereksi. Untuk tahap ini, secara resmi Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) telah mengizinkan tiga jenis obat beredar di Indonesia yaitu sildenafil, tadalafil, dan vardenafil. Ketiganya memiliki periode efektivitas yang berbeda, mulai dari 4 hingga 36 jam, tentunya setelah didahului adanya rangsangan seksual. Tingkat keberhasilan obat-obat tersebut mencapai 90%.

Tahap kedua merupakan penyuntikan secara intrakavernosa dan pengobatan secara intraurethra dengan memasukkan gel ke dalam urethra, misalnya intraurethral alprostadil.5 Pada tahap ini, pasien dapat melakukannya sendiri setelah dilatih.

Ketiga adalah tahap operasi dengan pemasangan prostesis penis.

Dari ketiga tahap di atas, tujuan utama pengobatan disfungsi ereksi adalah menghilangkan faktor penyebab.6

Penggunaan phosphodiesterase-5 inhibitor (PDE5 inhibitor) temasuk dalam tahap pertama dalam penatalaksanaan disfungsi ereksi. Obat phosphodiesterase-5 inhibitor (PDE5 inhibitor) bekerja dengan menghambat kerja dari enzim phosphodiesterase-5 (PDE5) yang dapat menghidrolisa cyclic guanosine 3,5-monophospahate (cGMP) menjadi GMP, sehingga relaksasi otot polos corpus cavernosum  penis bisa terjadi dan aliran darah menuju penis menjadi lebih banyak yang menyebabkan penis menjadi lebih besar dan ereksi tercapai.

Tadalafil dalam Penatalaksanaan Disfungsi Ereksi

Definisi dan Sifat Fisikokimia

Tadalafil adalah inhibitor selektif terhadap enzim phosphodiesterase (PDE), terutama enzim phosphodiesterase tipe 5 (PDE5). Phosphodiesterase memiliki beberapa isoenzim. Isoenzim phosphodiesterase tersebut berperan dalam proses metabolisme cyclic guanosine monophosphate (cGMP) menjadi GMP di corpus cavernosum penis.7 Distribusi sitemik dari isoenzim phosphodiesterase tersebut dapat dilihat pada tabel 2.1

Isoenzim PDE

Distribusi

PDE1

Otak, jantung, ginjal, hati, otot polos dan otot skeletal

PDE2*

Korteks adrenal, otak, jantung, ginjal, otot polos dan otot skeletal

PDE3*

Hati, ginjal, otot polos, platelet, jantung

PDE4*

Ginjal, sel mast, jantung, paru, limfosit, otot polos dan otot skeletal

PDE5*

Platelet, otot skeletal, otot polos visceral dan pembuluh darah

PDE6

Photoreceptor retina

*PDE2, 3, 4 dan 5 ditemukan pada otot polos corpus cavernosum.

Tabel 2.1 Distribusi sistemik dari isoenzim phosphodiesterase (PDE)8

 

Rumus empiris dari tadalafil adalah C22H19N3O4 dengan berat molekul 389,404 g/mol. Tadalafil merupakan kristal solid yang tidak larut dalam air dan sangat larut dalam ethanol. Titik lebur tadalafil sebesar 301-302ºC.

Nama IUPAC dari Tadalafil adalah (6R-trans)-6-(1,3-benzodioxol-5-yl)-2,3,6,7,12,12a-hexahydro-2-methyl-pyrazino[1′,2′:1,6]pyrido[3,4-b]indole-1,4-dione.9

Farmakokinetik

Absorpsi

Tadalafil cepat diabsorbsi dengan pemberian oral. Setelah pemberian oral dosis tunggal, konsentrasi plasma maksimal dari tadalafil tercapai antara 30 menit sampai 6 jam (rata-rata 2 jam).10 Absorpsinya tidak dipengaruhi oleh makanan, oleh karena itu tadalafil dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan walaupun makanan tinggi lemak dapat memperlama timbulnya respon.11

Distribusi

Pada konsentrasi terapeutik, tadalafil berikatan kuat dengan protein plasma sebesar 94%. Kurang dari 0,0005% dosis yang diberikan terdapat dalam semen pada subjek yang sehat.10

Metabolisme

Tadalafil dimetabolisme di hepar terutama oleh enzym cytochrome P450 3A4 (CYP3A4). Tadalafil dimetabolisme menjadi metabolit catechol. Metabolit catechol mengalami metilasi dan glukoronidasi menjadi methylcathecol dan konjugat glukoronik methylcatechol. Metabolit utama yang terdapat di sirkulasi adalah methylcatechol glucoronic. Sedangkan konsentrasi methylcatechol kurang dari 10% dari konsentrasi glukoronid. Metabolit tersebut tidak memiliki sifat aktif untuk menimbulkan efek farmakologi..10

Ekskresi

Rata-rata oral clearance dari tadalafil adalah sebesar 2,5 L/jam dan rata-rata waktu paruh tadalafil adalah selama 17,5 jam. Tadalafil diekskresikan terutama dalam bentuk metabolit, paling banyak di feces (61% dari dosis) dan lebih sedikit di urin (36% dari dosis).10

Farmakokinetik pada Populasi Khusus

Pada populasi khusus misalnya geriatrik, pediatrik, pasien dengan gangguan hati, gangguan ginjal dan diabetes melitus terdapat perbedaan farmakokinetik dari tadalafil yang perlu diperhatikan, terutama dalam menentukan dosis tadalafil yang dapat diberikan pada populasi tersebut.

Geriatrik

Laki-laki dengan usia lebih dari 65 tahun memiliki oral clearance tadalafil yang lebih rendah, sehingga paparan terhadap tadalafil meningkat 2 %. Tidak diperlukan penyesuaian dosis. Meskipun demikian perlu diperhatikan karena ada sebagian orang yang lebih sensitif .

Pediatrik

Tidak dilakukan evaluasi terhadap tadalafil pada usia kurang dari 18 tahun.

Gangguan Hati

Paparan tadalafil pada pasien dengan gangguan hati yang ringan sampai sedang (kelas A dab B) sama dengan paparan tadalafil pada orang yang sehat pada pemberian dosis 10 mg per hari.

Gangguan Ginjal

Dengan pemberian dosis 5-10 mg, paparan tadalafil meningkat dua kali lipat pada pasien dengan gangguan ginjal yang ringan (creatinin clearance 51-80 mL/menit) atau sedang (creatinin clearance 31-50 mL/menit). Pada pasien dengan gangguan ginjal yang berat (creatinin clearance kurang dari 30 mL/menit) Cmax meningkat 2 kali lipat dan paparan tadalafil meningkat 2,7-4,1 kali lipat dengan pemberian dosis tadalafil 10-20 mg. Paparan total methylcathecol meningkat 2-4 kali lipat pada pasien dengan gangguan ginjal.

Diabetes Mellitus

Paparan tadalafil menurun sekitar 19% dan Cmax menurun sekitar 5% pada pasien dengan diabetes mellitus. Tidak diperlukan penyesuaian dosis.10

 

Walaupun farmakologinya tidak jauh berbeda dengan PDE 5 inhibitor lainnya (sildenafil dan vardenafil), tadalafil memiliki struktur yang berbeda sehingga memiliki waktu paruh dan duration of action yang lebih lama.7 Seperti terlihat pada tabel 2.1, duration of action dari sildenafil dan vardenafil adalah sekitar 4 jam sedangkan tadalafil masih bertahan efeknya dalam 24 sampai 36 jam.

 

 

Viagra (sildenafil)

Levitra (vardenafil)

Cialis (tadalafil)

Usual dose

50 milligrams (mg) a day

10 mg a day

10 mg a day

Maximum doses

100 mg a day

20 mg a day

20 mg a day

Available as

20 mg, 25 mg, 50 mg and 100 mg tablets

2.5 mg, 5 mg, 10 mg and 20 mg tablets

5 mg, 10 mg and 20 mg tablets

How to take

Without food

Without food

With or without food

When to take

30 to 60 minutes before sexual activity

30 to 60 minutes before sexual activity

30 minutes before sexual activity

Duration of effects

Up to four hours

Up to four hours

24 to 36 hours

How often to use

Up to once a day

Up to once a day

Up to once a day

Side effects

Headache, flushing, indigestion, stuffy or runny nose, upset stomach, diarrhea

Headache, flushing, indigestion, stuffy or runny nose, upset stomach, dizziness

Headache, indigestion, back pain, muscle aches, flushing, stuffy or runny nose

Warnings

Do not take with nitrates (Nitro-Dur, others), or if you have certain heart valve problems. Should be used with caution or not used at all with alpha blockers. Should not be used with some antibiotic, antiviral or antifungal medications

Do not take with nitrates (Nitro-Dur, others) or alpha blockers (Hytrin, Cardura, others), or if you have certain heart valve problems. Should be used with caution or not used at all with alpha blockers. Should not be used with some antibiotic, antiviral or antifungal medications.

Do not take with nitrates (Nitro-Dur, others) or alpha blockers (Hytrin, Cardura, others), or if you have certain heart valve problems. Should be used with caution or not used at all with alpha blockers. Should not be used with some antibiotic, antiviral or antifungal medications.

Tabel 2.1 Perbandingan antara sildenafil, vardenafil dan tadalafil12

Farmakodinamik

Ereksi penis sewaktu terjadi rangsangan seksual adalah akibat meningkatnya aliran darah penis karena terjadinya relaksasi arteri penis dan otot polos corpus cavernosum. Respon ini diperantarai oleh nitic oxide (NO) dari ujung saraf dan sel endotel, yang merangsang sintesis cGMP di sel otot polos. Cyclic GMP menyebabkan relaksasi otot polos dan meningkatkan aliran darah menuju corpus cavernosum. Inhibisi PDE5 akan meingkatkan jumlah cGMP sehingga memaksimalkan fungsi ereksi. Tadalafil bekerja dengan menginhibisi phosphodiesterase tipe 5 (PDE5) tersebut. Namun, karena pelepasan nitric oxide di daerah penis membutuhkan adanya rangsangan seksual, inhibisi PDE5 oleh tadalafil tidak akan memberikan efek apabila tidak ada rangsangan seksual.10

 

Tadalafil adalah selektif inhibitor dari phosphodiesterase tipe 5 (PDE5). PDE5 dapat ditemukan di otot polos corpus cavernoum, pembuluh darah dan otot polos visceral, otot skeletal, platelets, ginjal, paru, cerebellum dan pankreas.10 Berikut adalah beberapa efek tadalalafil pada tubuh, yaitu:

Efek terhadap tekanan darah.

Dosis 20 mg tadalafil pada pria yang sehat menurunkan tekanan darah sistolik/diastolik saat berbaring sebesar 1,6/0,8 mmHg. Dan menurukan tekanan darah sistolik/diastolik saat berdiri sebesar 0,2/4,6 mmHg.

Efek terhadap Heart Rate.

Tidak ada efek yang signifikan terhadap heart rate.

Efek pada penglihatan.

Pemberian dosis tunggal phosphodiesterase inhibitor dapat menyebabkan gangguan penglihatan yaitu gangguan untuk membedakan wara biru dan hijau. Hal ini berhubungan dengan inhibisi dari PDE6 yang melibatkan proses phototransduksi di retina. Tadalafil bersifat selektif pada PDE5 sehingga efeknya pada perubahan penglihatan minimal dan jarang terjadi. (<0,1% dari pasien). Pada studi dilakukan pemberian dosis tunggal tadalafil 40mg, tidak terjadi efek pada aktivitas visual, tekanan intraocular atau pupillometry.

Efek pada karakteristik sperma.

Tiga studi telah dilakukan untuk mengetahui efek tadalafil pada perubahan karakteristik sperma. Yaitu dengan pemberian tadalafil 10 mg (diberikan setiap hari selama 6 bulan) dan tadalafil 20 mg (diberikan setiap hari selama 6 bulan dan 9 bulan). Tidak ada efek pada morfologi dan motilitas sperma pada ketiga studi tersebut. Terjadi penurunan konsentrasi sperma yang tidak berarti secara klinik pada studi 10 mg tadalafil selama 6 bulan dan 20 mg tadalafil selama 9 bulan. Tidak ada efek yang terlihat pada studi 20 mg tadalafil selama 6 bulan. Tidak terdapat efek pada hormon testosteron.10

Studi in vitro menunjukkan tadalafil >10.000 kali lebih potent terhadap PDE5 dibandingkan PDE1, PDE2, PDE4, dan PDE7 yang terdapat di jantung, otak, pembuluh darah, hati, leukosit, otot skeletal dan organ lainnya. Tadalafil >10.000 kali lebih potent terhadap PDE5 dibandingkan PDE3 yang terdapat di jantung dan pembuluh darah. Tadalafil 700 kali lebih potent terhadap PDE5 dibandingkan PDE6 yang terdapat di retina dan berperan pada proses phototransduksi. Tadalafil >9.000 kali lebih potent terhadap PDE5 dibandingkan PDE8, PDE9 dan PDE10. Tadalafil 14 kali lebih potent terhadap PDE5 dibandingkan PDE11A1 dan 40 kali lebih potent terhadap PDE5 dibandingkan PDE11A4. PDE11 adalah enzim yang ditemukan pada prostat, testes, otot skeletal dan jaringan lainnya. Dalam studi in vitro, tadalafil menginhibisi rekombinan PDE11A1 manusia menjadi tingkat yang lebih rendah dan aktivitas PDE11A4 pada konsentrasi terapeutik. Namun, konsekuensi klinis inhibisi PDE11 ini belum diketahui.10

 

Indikasi

Tadalafil diindikasikan untuk disfungsi ereksi dengan bermacam-macam etiologi.11

Kontraindikasi

Tadalafil dikontraindikasikan terhadap keadaan berikut:

Hearth attack, hearth failure atau stroke kurang dari 6 bulan terakhir.

Hipertensi yang tidak terkontrol (>170/100 mmHg)

Hipotensi yang signifikan (<90/50 mmHg)

Unstable angina atau angina pada saat melakukan hubungan seksual

Retinitis pigmentosa

Gangguan fungsi renal dan hepar

Blood disorders (leukimia, multiple myeloma, sickle cell anemia) karena dapat menigkatkan resiko terjadinya priapism.

Riwayat reaksi alergi terhadap tadalafil atau PDE5 inhibitor lainnya

Sedang mendapatkan pengobatan dengan preparat nitrat atau nitric oxide misalnya glyceryl trinitrate karena dapat meningkatkan efek hipotensinya.

Sedang mendapatkan pengobatan dengan preparat alpha blocker karena dapat mengakibatkan hipotensi.11

Riwayat non arteritic anterior ischemic optic neuropathy (NAION). Kondisi ini dapat mengurangi penglihatan atau kebutaan akibat pengrusakan saraf optik.

Tidak digunakan untuk wanita, dan anak-anak dibawah 18 tahun.13

Efek Samping

Efek samping yang dapat terjadi dengan penggunaan tadalafil adalah sebagai berikut:

Seluruh tubuh: asthenia, face edema, fatigue, pain

Cardiovascular: angina pectoris, chest pain, hypotension, hypertension, myocardial infarction, postural hypotension, palpitations, syncope, tachycardia

Digestive: abnormal liver function tests, diarrhea, dry mouth, dysphagia, esophagitis, gastroesophageal reflux, gastritis, GGTP increased, loose stools, nausea, upper abdominal pain, vomiting

Musculoskeletal: arthralgia, neck pain

Nervous: dizziness, hypesthesia, insomnia, paresthesia, somnolence, vertigo, migraine

Respiratory: dyspnea, epistaxis, pharyngitis

Skin and Appendages: pruritus, rash, sweating, hypersensitivity reactions including urticaria, Stevens-Johnson syndrome, and exfoliative dermatitis

Ophthalmologic: blurred vision, changes in color vision, conjunctivitis (including conjunctival hyperemia), eye pain, lacrimation increase, swelling of eyelids, visual field defect, retinal vein occlusion, retinal artery occlusion

Urogenital: erection increased, spontaneous penile erection, prolonged erection.10

Dosis dan Posologi

Dosis awal tadalafil adalah 10 mg per hari. Dikonsumsi secara oral 30 menit sampai 1 jam sebelum melakukan aktivitas seksual. Efektifitasnya tercapai dalam 15 sampai 30 menit dan dapat bertahan sampai 36 jam. Tidak diperlukan konsumsi lagi sealama 24 jam setelah pemberian satu tablet. 11

Tergantung pada respon tehadap efek sampingnya, dosis tadalafil dapat ditingkatkan menjadi 20 mg atau dikurangi menjadi 5 mg per hari. Tadalafil dapat dikonsumsi sebelum atau sesudah makan.10

Untuk mendapatkan efek yang diinginkan dan aman dikonsumsi, maka pada pasien dengan keadaan tertentu perlu dilakukan penyesuaian dosis yaitu:

Pasien dengan gangguan hati.

Dosis maksimal tadalafl pada pasien dengan gangguan hati yang ringan sampai sedang (kelas A dan B) adalah 10 mg per hari. Sedangkan pada pasien dengan gangguan hati yang berat (kelas C) penggunaan tadalafil tidak direkomendasikan.

Pasien dengan gangguan ginjal.

Tidak ada penyesuaian dosis pada pasien dengan gangguan ginjal yang ringan (creatinin clearance 51-80 mL/menit). Pada pasien dengan gangguan ginjal yang sedang (creatinin clearance 31-50 mL/menit) dosisnya 5 mg dalam 1 hari dan maksimal 10 mg diberikan setelah 48 jam. Pada pasien dengan gangguan ginjal yang berat (creatinin clearance kurang dari 30 mL/menit) dosis maksimal tadalafil hanya 5 mg per hari.

Pasien yang mendapatkan pengobatan CYP3A4 inhibitor.

Dosis tadalafil yang diberikan hanya sekali sebesar 10 mg dalam periode 72 jam. Dosis awal tersebut dikurangi menjadi 5 mg.

Pasien yang mendapatkan pengobatan Alpha Blocker.

Dosis tadalafil yang diberikan lebih rendah misalnya 5 mg karena kedua obat tersebut merupakan vasodilator. Apabila dosis normal diberikan akan terjadi penurunan tekanan darah.7

Nama dagang dari Tadalafil adalah Cialis®. Bentuk sediannya tablet salut film, berwarna kuning dan berbentuk seperti almond. Terdiri atas sediaan 5 mg, 10 mg dan 20 mg.14

Interaksi Obat

Berikut adalah obat-obatan yang memiliki interaksi dengan tadalafil:

Cytochrome P3A4 Inhibitors.

Tadalafil terutama dimetabolisme oleh CYP3A4. Obat-obatan yang menghambat CYP3A4 dapat menurunkan metabolisme tadalafil sehingga meningkatkan kadarnya di plasma darah. Contoh: ketoconazole, HIV protease inhibitor (ritonavir), erythromycin, itraconazole, grape juice.

Cytochrome P3A4 Inducers.

Dapat meningkatkan metabolisme tadalafil sehingga efeknya dapat berkurang. Contoh: ripamfin, carbamazine, phenytoin, phenobarbital.

Antacida.

Penggunaan tadalafil dan anatacid (magnesium hydroxide/ alumunium hydroxide) secara bersamaan dapat menurukan absorpsi dari tadalafil.

Alkohol.

Alkohol dan tadalafil merupakan vasodilator yang ringan. Kadar plasma tadalafil tidak dipengaruhi. Namun, apabila dikonsumsi bersamaan dapat menimbulkan penurunan tekanan darah, pusing dan sakit kepala.

Nitrate dan nitric oxide.

Tadalafil sangat potensial meningkatkan efek penurunan tekanan darah oleh nitrate sehingga dikontraindikasikan. Contoh: nitroglycerin, isosorbide dinitrate (Isordil), isosorbide mononitrate (Imdur, Ismo, Monoket), nitroglycerin (Nitro-Dur, Transderm-Nitro) yang biasa digunakan untuk mengobati angina. Pada pasien yang mendapatkan nitrate sebagai pengobatan angina, tadalafil dapat mengakibatkan heart pain atau bahkan heart attack karena memicu peningkatan heart rate dan penurunan tekanan darah.

Alpha Blocker.

Penggunaan tadalafil dan alpha blocker secara bersamaan dapat menimbulkan hipotensi. Contoh: tamsulosin, doxazosin, alfuzosin. Dan obat anti hipertensi lainnya seperti amlodipine, metoprolol, bendrofluzide, enalapril dan angitonsin II receptor blocker juga dapat meningkatkan efek hipotensinya apabila digunakan bersamaan dengan tadalafil.

Teophylline.

Tadalafil tidak menimbulkan efek yang signifikan terhadap farmakokinetik teophylline namun dapat memperbesar efek peningkatan heart rate dari teophylline. 10

Kesimpulan

Disfungsi ereksi atau erectile dysfunction adalah salah satu bentuk disfungsi sexual (sexual dysfunction) yang ditandai dengan ketidak mampuan mencapai mempertahankan ereksi untuk mencapai hubungan seksual yang memuaskan. Tadalafil sebagai salah satu pilihan terapi pada disfungsi ereksi merupakan inhibitor selektif terhadap enzim phosphodiesterase (PDE), terutama enzim phosphodiesterase-5 (PDE5) yang akan meningkatkan aliran darah ke penis.

 

Saran

Pada penggunaan tadalafil dan obat phosphodiesterase-5 (PDE5) inhibitor lainnya, hendaknya diperhatikan dosis pemberiannya, kontraindikasi, efek samping yang mungkin timbul serta interaksi yang mungkin terjadi agar pengobatan disfungsi ereksi dengan tadalafil dapat memberikan hasil yang maksimal.

One thought on “Tadalafil pada Disfungsi Ereksi

  1. Pada pengobatan BPH dengan Alpha blockers dan finasteride/ dutasteride sering ada gangguan ED.
    Kalau menggunakan alpha 1 blocker (Harnal) apa juga merupakan kontraindikasi penggunaan Obat ED?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s