SUICIDE

Suicide merupakan salah satu masalah utama dalam kesehatan masyarakat dimana 0,9 persen dari seluruh penyebab kematian adalah akibat suicide. Sekitar 1000 orang mencoba untuk melakukan suicide setiap harinya di seluruh dunia.1

Suicide adalah salah satu kasus yang menjadi bagian dari psikiatri emergensi. Suicide bukanlah suatu tindakan yang dilakukan seseorang tanpa tujuan atau tidak beralasan. Bagi individu tertentu, suicide merupakan salah satu jalan keluar terhadap masalah yang dialaminya atau terhadap krisis yang menyebabkan penderitaan yang hebat baginya. Suicide bisa juga terjadi karena kebutuhan atau keinginan yang dihalangi atau tidak terpenuhi. Selain itu suicide juga berhubungan dengan perasaan keputusasaan dan tidak adanya harapan. Suicide juga timbul  sebagai akibat dari adanya konflik yang ambivalen yaitu antara stress yang survival dan perasaan yang tidak tertahankan terhadap konflik tersebut.2

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami tentang suicide dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan di masyarakat.

1. Definisi

Suicide adalah tindakan seseorang untuk menghukum dirinya sendiri, atau tindakan menghentikan kelangsungan hidupnya sendiri dengan sengaja dan dalam keadaan sadar. Suicide berasal dari kata Sui yang berarti diri sendiri dan Caedere yang berarti membunuh.2

Berikut adalah istilah-istilah lain sehubungan dengan masalah suicide :

  1. Commit Suicide yaitu membiarkan dirinya untuk dibunuh atau dirusak. Misalnya seorang perokok kronis, alkoholism kronik dan demonstran dibarisan depan.
  2. Attempted Suicide yaitu mengusahakan suicide tetapi tidak sepenuhnya mengharapkan kematian, sifatnya mencoba-coba.
  3. Succesful Suicide (Completed Suicide) yaitu mengusahakan suicide dan mengharapkan sepenuhnya suatu kematian.1

2. Epidemiologi

Di Amerika Serikat, setiap tahun didapati sekitar 30.000 kematian yang disebabkan oleh successful suicide. Sedangkan untuk attempted suicide sekitar 8-10 kali dari angka kejadian successful suicide. Saat ini ada 12,5 kematian suicide per 100.000 populasi di Amerika Serikat. Selain itu di Amerika Serikat suicide menduduki peringkat  ke-8 sebagai penyebab kematian setelah penyakit jantung, kanker, cardio vascular disease, kecelakaan, pneumonie, diabetes melitus, dan sirosis hepatis. Dan merupakan peringkat ke dua pada usia populasi 25-34 tahun.3 Terjadi sekitar 75 suicide setiap harinya, atau 1 kali tiap 20 menit.1

Di Inggris, suicide menempati peringkat ke-6 dari penyebab kematian setelah penyakit jantung, kanker, penyakit saluran nafas, stroke dan kecelakaan. Dan merupakan peringkat ke-3 penyebab kematian pada usia 15-44 tahun. Tiap tahun di Inggris dan Wales terjadi 4000-5000 suicide dan 400-500 diantaranya akibat overdosis dari obat anti depresan.3 Di Inggris, Angka kejadian suicide mencapai laki-laki sebanyak 9,7 dari 100.000 populasi dan wanita sebanyak 6,2 dari 100.000 populasi.1

Penelitian lain melaporkan bahwa prevalensi suicide untuk setiap negara berbeda. Yang tertinggi adalah di Eropa timur (Hungaria dan Austria) sebanyak 40 dari 100.000 populasi per tahun dan terendah di Yunani dan Malta yaitu  2,8 dari 100.000 populasi per tahun. Sedangkan di Malaysia adalah sebanyak 10 dari 100.000 populasi per tahun.2

3. Faktor Resiko

Suicide merupakan akibat dari multideterminan faktor. Faktor resiko tersebut meliputi gangguan psikiatri. faktor sosial, faktor psikologis, faktor biologis, faktor genetik dan faktor fisik.1 Berikut adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan epidemiologi suicide:

a. Usia

Angka Suicide meningkat seiring dengan pertambahan usia. Pada kedua jenis kelamin, pada usia pertengahan dan usia lanjut lebih banyak beresiko untuk melakukan suicide. Untuk pria, puncak angka suicide adalah setelah usia 45 tahun, sedangkan pada wanita jumlah terbesar terutama pada completed suicide terjadi setalah usia 55 tahun. Hal ini karena pada usia ini besar kemungkinan seseorang itu mengalami depresi, faktor kehilangan, penyakit kronik dan lain sebagainya. Namun ada pula penelitian melaporkan bahwa saat ini tindakan suicide lebih banyak terjadi pada usia 15-44 tahun. Selain itu menurut suatu penelitian pada usia 15-24 tahun suicide menduduki peringkat ke-3 sebagai penyebab kematian setelah kecelakaan.1

b. Jenis Kelamin

Suicide merupakan 0,5 persen dari semua penyebab kematian pada perempuan, 1,5 persen dari semua penyebab kematian pada laki-laki. Studi lain melaporkan bahwa untuk insidens Attempted Suicide memiliki rasio antara perempuan : laki-laki adalah sebesar 4 : 1 hingga 5 : 1. Untuk Commited Suicide rasio antara laki-laki : perempuan adalah 3 : 1. Sedangkan untuk Successful Suicide rasio antara laki-laki : perempuan adalah 3 : 1. Dan 1-2 persen dari attempted suicide melakukan completed suicide. Attempted Suicide terjadi 10-20 kali lebih banyak atau lebih sering dari completed suicide.1

c. Pekerjaan

Menurut suatu studi makin tinggi status sosial seseorang  makin besar resikonya  untuk melakukan suicide. Dari segi profesi, urutan peringkat tertinggi adalah dokter karena tingginya tuntutan dan tanggung jawabnya, dokter gigi, farmasis karena kesempatan berhubungan dengan bahan toksik lebih besar. Suicide pada pengangguran lebih besar dari pada orang yang bekerja.1

d. Status Marital

Angka kejadian suicide pada orang yang menikah lebih rendah dan 2 kali lipat lebih besar pada orang yang tidak menikah. Sedangkan pada orang yang bercerai, berpisah maupun janda mencapai 4 hingga lima kali lipat lebih tinggi. Angka kejadian suicide pada janda mencapai 24 dari 100.000 populasi, pada orang bercerai mencapai 40 dari 100.000 populasi. Hal ini kemungkinan karena tidak adanya sokongan sosial. Dibandingkan dari segi jenis kelamin, pasangan yang telah bercerai, yang lebih  banyak melakukan suicide adalah pada laki-laki dengan ratio laki-laki : perempuan adalah sebesar 23 : 6.1

e. Kesehatan Fisik

Hubungan suicide dengan penyakit fisik adalah signifikan. Suicide lebih sering terjadi pada penderita penyakit kronis, ini terjadi oleh karena tidak adanya lagi harapan pasien untuk sembuh, atau oleh karena rasa sakit yang hebat. Suatu studi post mortem menunjukkan bahwa suatu penyakit fisik diderita oleh 25-75 persen  korban suicide. Terdapat tujuh jenis penyakit pada susunan saraf pusat yang meningkatkan resiko terjadinya suicide yaitu epilepsi, multiple sclerosis, trauma kepala, cardiovascular disease, Huntington’s Disease, Dementia dan AIDS. Semua penyakit tersebut berhubungan dengan Gangguan Mood. Beberapa kondisi endokrin juga berhubungan dengan resiko suicide, misalnya Cushing’s disease, Klinefelter’s syndrome, Porphyria, Prostat hypertropi dan gagal ginjal kronis dengan hemodialisis. Dalam hal ini semua kondisi tersebut juga berhubungan dengan gangguan mood. Resiko suiside juga meningkat pada penderita Peptic Ulcer dan Cirrhosis Hepatis dimana kedua penyakit ini dijumpai diantara orang-orang yang menderita ketergantungan alkohol. Selain itu juga terdapat beberapa obat yang mempunyai efek samping timbulnya depresi sehingga pemakaian yang berlama-lama bisa menimbulkan suicide misalnya pada pemakaian Reserpine, kortikosteroid dan beberapa obat anti kanker.4

f. Kelas Sosial

Di Inggris, masyarakat dengan kelas sosial atas meiliki insidens suicide yang tinggi. Di Amerika Serikat, masyarakat dengan sosio ekonomi yang tinggi sering mengalami kebangkrutan sehingga insidens suicide nya tinggi.1

g. Cuaca

Suicide lebih sering terjadi pada musim semi dan permulaan musim panas.1

h. Agama dan Kultur

Di Amerika Serikat dan Eropa,  insidens suicide pada pengikut Katolik lebih rendah. Di Singapura, insidens suicide tinggi pada etnik Cina dan India. Di Amerika Serikat, warga kulit putih insidens suicide nya lebih tinggi dibandingkan dengan kulit berwarna, rationya adalah 2:1. Insidens suicide pada imigran lebih besar dibandingkan pada pribumi dengan rasio 2:1.1

i. Pemukiman

Suicide lebih banyak terjadi pada daerah urban, terutama pada pusat-pusat kota.1

j. Hubungan Antar Relasi

Insidens suicide lebih tinggi pada orang yang memiliki teman intim daripada individu yang kurang mempunyai teman intim.1

k. Kesehatan Mental

Gangguan Psikiatrik yang mempunyai hubungan signifikan untuk suicide adalah gangguan afektif, terutama depresi, ketergantungan alkohol, dementia dan delirium serta skizofrenia. Dari kelompok, yang paling tinggi adalah depresi delusional. Penelitian lain melaporkan bahwa 25 persen dari semua pasien yang mempunyai riwayat perilaku impulsif atau tindakan merusak juga mempunyai resiko untuk suicide. Suatu studi di San Diego menunjukkan bahwa pasien dengan penyalahgunaan zat dan gangguan kepribadian anti sosial dijumpai paling sering diantara korban suicide dibawah usia 30 tahun, pasien gangguan mood dan gangguan kognitif dijumpai paling sering diantara korban suicide yang berusia diatas 30 tahun. Faktor stressor sehubungan dengan suicide pada mereka yang berusia dibawah 30 tahun adalah perpisahan, penolakan, pengangguran dan masalah hukum. Sedangkan untuk korban suicide yang berusia diatas 30 tahun faktor stressornya yang paling sering disebabkan oleh penyakit fisik. Studi lain melaporkan bahwa resiko pasien psikiatrik untuk suicide adalah : 3-12 kali lebih besar daripada yang bukan pasien psikiatrik. Derajad resiko ini bervariasi menurut usia, jenis kelamin, diagnosis, dan status pasien apakah dia di opname atau tidak. Diagnosis psikiatrik yang membawa resiko yang paling besar bagi kedua jenis kelamin adalah Gangguan Mood. Penelitian lain juga melaporkan bahwa pasien psikiatrik yang melakukan suicide lebih banyak pada usia rata-rata laki-laki adalah 29,5 tahun dan perempuan 38,4 tahun. Hal ini terutama pada kasus skizofrenia dan gangguan depresif berat. 1

4. Gangguan Psikiatri yang Berhubungan dengan Suicide

a. Gangguan Depresif

Gangguan mood terutama depresif adalah diagnosis yang paling umum yang berhubungan dengan suicide. Tindakan suicide pada gangguan depresif lebih banyak dilakukan pada permulaan perjalanan penyakit dan pada akhir dari satu episode depresif dan lebih banyak pada pasien pria. Sedangkan pasien gagguan depresif yag tidak diopname lebih banyak melakukan suicide pada usia pertengahan dan usia lanjut. Juga lebih sering suicide dilakukan beberapa bulan setelah pasien keluar dari rumah sakit.1

b. Skizofrenia

Lebih dari 10 persen pasien skizofrenia mengalami kematian oleh tindakan suicide. Di Amerika Serikat dilaporkan lebih dari 4000 pasien skizofrenia melakukan commit suicide tiap tahun. Biasanya lebih banyak pada pasien skizofrenia usia remaja, dewasa muda serta paling sering terjadi pada tahun pertama serangan. Skizofrenik suicide relatif terjadi pada usia muda dan 75 persen diantaranya merupakan pria yang tidak menikah dan sekitar 50 persen diantaranya pernah melakukan attempt suicide sebelumnya. Simptom depresif sangat berhubungan dengan suicide yang mereka lakukan. Hanya sebagian kecil yang dilakukan akibat instruksi halusinasi maupun keinginan untuk melepaskan diri dari delusi persekutorik.1

c. Ketergantungan Alkohol

Lebih dari 15 persen pasien alkoholism melakukan commit suicide. Kebanyakan yang melakukan suicide ini adalah  pria yang mengalami depresi. Resiko suicide meningkat pada seorang alkoholik sekitar 2,2 sampai 2,4 persen. Suicide lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan alkoholik. Biasanya dilakukan setelah bertahun-tahun melakukan penyalahgunaan alkohol. Comorbid dengan gangguan depresif meningkatkan resiko terjadinya suicide pada alkoholik. Putus hubungan lebih sering menjadi presipitasi stressor, selain itu juga termasuk masalah pekerjaan, kesulitan keuangan dan masalah hukum. Hanya 1 dari 50 korban suicide yang tidak dapat teridentifikasi presipitasi stressor nya.1

d. Ketergantungan Zat Lain

Terdapat peningkatan resiko suicide pada penderita penyalahgunaan zat. Sebagai contoh angka suicide pada kecanduan heroin 20 kali lebih besar dibandingkan pada populasi umum. Kemampuan obat-obatan untuk menimbulkan kematian, penggunaan intravena, gangguan kepribadian antisocial, pola hidup chaotic dan impulsifitas adalah faktor-faktor predisposisi bagi penderita ketergantungan obat untuk perilaku suicide, terutama pada saat mereka mengalami disforia, depresi atau intoksikasi. Comorbid antara gangguan mood dan penyalahgunaan zat sering terjadi diantara kejadian suicide. Diantara pelaku suicide dengan penyalahgunaan zat, usia tua diprediksi juga mengalami gangguan depresif berat, dan diantara pelaku suicide dengan gangguan mood, usia muda diprediksi comorbid dengan penyalahgunaan zat.1

e. Gangguan Kepribadian

Ada sekitar 5 persen pasien dengan gangguan kepribadian anti sosial melakukan commit suicide. 95 persen dari korban suicide  dengan gangguan kepribadian sangat berhubungan dengan gangguan depresi. gangguan penyalahgunaan zat atau keduanya.1

5. Etiologi

a. Faktor Sosiologik

Konsep adanya hubungan antara faktor sosial dan suicide pertama kali dikemukakan oleh Emile Durkheim. Berdasarkan konsep ini suicide tersebut ada 3 jenis yaitu Egoistic Suicide, Altruistic Suicide dan Anomic Suicide. Egoistic Suicide terjadi karena orang tersebut  menilai bahwa ikatan yang bersifat khusus misalnya masalah kesehatan, hubungan suami-isteri yang melebihi dari ikatan sosial. Karena itu mempunyai resiko yang tinggi bila terjadi kehilangan akan hal tersebut. Alturistic Suicide hanya dapat terjadi bila ikatan antara individu dengan masyarakatnya demikian kuat. Dalam hal ini nilai untuk mempertahankan hidup individu tersebut diperlemah dan individu tersebut merelakan dirinya untuk mati bagi hal-hal yang diyakininya. Menurut individu tersebut keadaan yang demikian adalah sesuatu yang lebih agung. Banyak kematian dalam peperangan dan sikap heroisme yang termasuk dalam golongan ini. Anomic Suicide adalah suatu bentuk suicide dimana tindakan tersebut merupakan hal yang sekunder terhadap suatu penghancuran yang tiba-tiba dari sebahagian atau semua dari keterikatan individu tersebut dengan masyarakatnya. Misalnya kehilangan status sosial, dan lain-lain. Namun suatu kultur kaku dan terjalin erat atau kuat akan kecil kemungkinannya untuk melakukan suicide. Sebaliknya ikatan keluarga yang longgar dan kondisi mobilitas geografis yang tinggi (pada masyarakat modern) menunjukan suatu peningkatan untuk resiko anomic suicide, terutama pada orang tua.1

b. Faktor Psikologik

Konsep ini dipelopori oleh S.Freud. Menurut beliau terjadinya suicide karena instink agresif yang dibalikkan kedalam dirinya sendiri. Pada paper nya tahun 1997 yang berjudul “Mourning and Melancholia”, Freud mengatakan bahwa suicide muncul sebagai agresi yang muncul untuk melawan suatu introjeksi dan  ambivalensi. Freud menduga bahwa suicide didahului keinginan untuk membunuh seseorang. Menninger melanjutkan konsep Freud, Karl Menninger dalam “Man Against Himself” menyatakan bahwa suicide merupakan pembunuhan yang retroflexi, inverted homicide sebagai hasil kemarahan penderita kepada orang lain, dimana dilakukan kepada diri sendiri sebagai hukuman. Beliau memaparkan komponen dari suicide yaitu keinginan untuk membunuh, keinginan untuk dibunuh dan keinginan untuk mati.1

c. Faktor Biologis

Faktor Genetik

Studi Adoption menunjukkan insides suicide sebesar 4 persen pada saudara yang memiliki ikatan pertalian biologis yang melakukan suicide. Sedangkan studi Twin menunjukkan kemungkinan insiden suicide sebesar 13,2 persen pada kembar monozygot dan 0,7 persen pada kembar dizygot.4

Faktor Biokhemis

Ada berbagai penemuan biokemis yang berhubungan dengan suicide. Salah satu contohnya adalah pada 5-HT system, dimana didapati keadaan sebagai berikut:

  • Rendahnya konsentrasi 5-HIAA pada CSF pada korban attempted suicide.
  • Rendahnya konsentrasi serotonin atau 5-HIAA pada otak korban suicide.
  • Tingginya frekuensi alel U tryptophan hidroxylase pada korban attempted suicide.
  • Meningkatnya reseptor serotonin terutama reseptor 5-HT2 di neocortex dan platelet sejalan dengan menurunnya aktivitas serotonin di presynaptic.
  • Meningkatnya reseptor 5HT2A di platelet pada korban suicide.5

6.  Potensialitas Individu untuk Tindakan Suicide

Ada 3 faktor yang penting dalam penentuan terhadap kemungkinan potensialnya seeorang untuk melakukan tindakan suicide, yaitu :

a. Faktor Personal

Yaitu meliputi usia, jenis kelamin, penyakit jiwa (depresi, skizofrenia, alkoholism), putus asa, impulsivity, fantasi-fantasi dan pikiran suicide, ambivalensi terhadap kehidupan, dan lain-lain.1

b. Faktor Sosial dan Riwayat Sebelumnya

Yaitu meliputi kehilangan status sosial, sosial withdrawal, riwayat keluarga dengan suicide dan terjadinya usaha-usaha suicide sebelumnya.1

c. Karekteristik Tindakan Suicide yang Dilakukan

Yaitu meliputi perencanaannya, tipe dari agent yang dipergunakan, intensitas dari efek dan derajad ambivalensi terhadap tindakan tersebut dan lain-lain. Ada studi yang mendapatkan tentang hubungan jenis kelamin dan gambaran kepribadian individu dengan tipe agent ataupun cara yang dipakai untuk suicide yaitu laki-laki dengan cara yang lebih keras seperti gantung diri, menembak, lompat, sedangkan wanita lebih sering dengan cara over dosis ataupun tenggelam. Kepribadian dependent dan fiksasi fose oral lebih cenderung melakukan suicide dengan memakan obat dosis tinggi. Kepribadian dengan fiksasi fase anal lebih cenderung melakukan suicide dengan melakukan inhalasi agent toksik. Mereka dengan konflik fase oedipal lebih cenderung melakukan suicide dengan memakai pisau. Pasien fobia lebih cenderung melakukan suicide melompat dari tempat yang tinggi. Pasien homoseks lebih cenderung melakukan suicide dengan menembak atau menikam diri sendiri.4

7. Terapi

Apakah seorang pasien dengan suicide perlu dihospitalisasi adalah bergantung pada diagnosis gangguan jiwa yang mendasarinya, keparahan depresinya, keparahan ide-ide suicidenya, kesanggupan pasien dan keluarganya untuk melawan dan menghambat ide suicide tersebut, situasi kehidupan pasien, adanya sokongan sosial dan apakah ada faktor resiko untuk suicide.1

Tindakan terapi yang dapat dilakukan bisa berupa individual psychotheraphy dan family psychotheraphy serta farmakoterapi dan E.C.T. Khusus untuk farmakoterapi, hal ini bergantung pada diagnosis penyakit yang mendasarinya, misalnya bila oleh karena gangguan depresi maka diberikan Anti depressant. Sedangkan untuk E.C.T., hal ini diberikan pada suicide dengan    gangguan depresi berat. Selain itu bisa juga dilakukan manipulasi lingkungan yaitu bisa berupa lingkungan keluarga pasien, misalnya dengan dimintakan pada keluarga pasien untuk memberikan sokongan terhadap problem yang dihadapi pasein.1

8. Pencegahan

Menurut Schneidman, patokan pencegahan praktis yang dapat dilaksanakan pada suicide dengan mengurangi perasaan sakit psikologik dengan memodifikasi lingkungan stress pasien, misalnya dengan meminta pengertian dari pasangannya, temannya atau lingkungan pekerjaannya. Memberikan sokongan realistik dengan mengatakan bahwa pasien mungkin memiliki suatu keluhan yang dapat dipahami oleh orang lain serta mengusahakan tindakan alternatif terhadap suicide tersebut.4

DAFTAR PUSTAKA

  1. Sadock, BJ. Kaplan and Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatri, edisi ke 7, volume ke 2. Lippincott Williams and Wilkins Publisher, USA, 2000, hal 4400-4422.
  2. Gelder, MG. New Oxford Textbook of Psychiatri, Oxford University Press, 2003, hal 2196-2208.
  3. Baldwin, DS. An Atlas of Depression, The Parthenon Publishing Group, USA, 2002, hal 22-24.
  4. Jacobson, JL. Psychiatric Secrets, edisi ke 2, Hanley and Belfus, 2001, hal 851-861.
  5. Janicak, PG. Principles and Practice of Psychopharmacotherapy, edisi ke 3, Lippincott Williams and Wilkins Publisher, USA, 2001, hal 243-300.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s