Sinusitis Kronik

Kompleksitas dari anatomi sinus paranasal dan fungsinya menjadi topik yang menarik untuk dipelajari. Ada empat sinus paranasal yaitu sinus frontalis, sinus ethmoidalis, sinus maksilaris, dan sinus sphenoidalis. Sinus adalah suatu rongga berisi udara dilapisi mukosa yang terletak di dalam tulang wajah dan tengkorak. Perkembangan sinus-sinus ini sudah dimulai sejak dalam kandungan, terutama sinus maksilaris dan sinus ethmoidalis.

Perkembangan dari dinding lateral nasal dimulai dengan struktur yang lembut dan undiferensiasi. Perkembangan yang pertama adalah maksiloturbinal yang akan secepatnya menjadi turbinate inferior. Setelah itu, mesenchyme membentuk ethmoturbinal. Pertumbuhan ini diikuti oleh perkembangan sel nasi agger, processus uncinatus dan infundibulum ethmoidalis. Sinus kemudian berkembang.

Sinus resultan dari rongga, ostia dan processus adalah sistem kompleks dari struktur yang harus dipahami supaya penanganan yang berhubungan dengan operasi sinus dapat efektif dan aman. Anatomi, mikroskopik anatomi, fisiologi dan fungsi dari sinus akan dijelaskan selanjutnya.

ANANTOMI SINUS PARANASAL

1 Dinding Lateral Nasal

Dinding lateral nasal meliputi bagian os ethmoid, os maksila, os palatine, os larimal, lamina pterygoideus medial os sphenoid, os nasal dan turbinate inferior. Tiga dari empat turbin dari dinding supreme, superior dan medial menjadi proyeksi dari os ethmoid. Bagian inferior merupakan suatu struktur yang independen. Masing-masing dari struktur ini disebut dengan meatus. Tulang kecil dari proyeksi os ethmoid yang menutup, membuka ke samping menempatkan sinus maksilaris dan membentuks suatu palung dibelakang pertengahan turbinate. Sekat bertulang tipis ini dikenal sebagai suatu processus uncinatus. Dinding superior nasal terdiri dari ethmoid sel sinus terletak sebelah lateral dari epithelium olfaktorius dan cribiform plate yang mudah pecah. Bagian posterior superior dari dinding nasal lateral menjadi dinding anterior dari sinus sphenoidalis yang mendekap di bawah sella turcica dan sinus cavernosus.

2 Sinus Maksilaris

Perkembangan

Sinus maksilaris (Antrum Highmore) adalah sinus yang pertama berkembang, Struktur ini pada umumnya adalah berisi cairan pada kelahiran. Pertumbuhan dari sinus ini adalah biphasic dengan pertumbuhan selama 0-3 tahun dan 7-12 tahun. Sepanjang pneumatisasi kemudian menyebar ke tempat yang rendah dimana gigi yang permanen mengambil tempat mereka. Pneumatisasi dapat sangat luas sampai akar gigi hanya suatu lapisan yang tipis dari jaringan halus yan mencakup mereka.

Struktur

Sinus maksilaris orang dewasa adalah berbentuk piramida yang mempunyai volume kira-kira 15 ml (34 x 33 x 23 mm). Dasar dari piramida adalah dinding nasal dengan puncak yang menunjuk ke arah processus zygomaticum. Dinding anterior mempunyai foramen infraorbital berada pada bagian midsuperior dimana nervus infraorbital berjalan diatas atap sinus dan keluar melalui foramen itu. Saraf ini dapat dehisens (14%). Bagian yang tertipis dari dinding anterior adalah sedikit di atas fossa canina. Atap dibentuk oleh dasar dari orbita dan ditranseksi oleh nervus infraorbital. Dinding posterior tidak bisa ditandai. Dibelakang dinding ini adalah fossa pterygomaksilaris dengan arteri maksilaris interna, ganglion sphenopalatina dan saluran vidian. Nervus palatina mayor dan foramnen rotundum. Dasar dari sinus, seperti dibahas diatas, bervariasi tingakatannya. Sejak lahir sampai umur 9 tahun dasar dari sinus adalah diatas rongga hidung. Pada umur 9 tahun dasar dari sinus secara umum sama dengan dasar nasal. Dasar sinus berlanjut menjadi pneumatisasi sinus maksilaris. Oleh karena itu, berhubungan erat dengan penyakit pertumbuhan gigi yang dapat menyebabkan infeksi rahang dan pencabutan gigi dapat menyebabkan fistula oral-antral.

Perdarahan

Cabang dari arteri maksilaris interna mendarahai sinus ini. Termasuk infra orbital (yang berjalan dengan nervus infraorbital), cabang lateral dari sphenopalatina, palatine mayor, vena aksilaris dan vena jugularis sistem dural sinus.

Persyarafan

Sinus maksila disarafi oleh cabang dari V.2 yaitu nervus palatine mayor dan cabang dari nervus infraorbital.

Struktur yang terkait

Duktus nasolakrimalis mengalir ke kantong lakrimalis dan berjalan dari fossa lakrimalis dibawah orbita setalah posterior dari dinding penunjang rahang yang vertical dan kosong di sebelah depan dari meatus inferior. Saluran ini berada sangat dekat dengan ostium maksila, rata-rata berada pada 4-9 mm di depan ostium.

a.Ostium Alami.

Ostium maksilaris terletak di bagian superior dari dinding medial sinus. Intranasal biasanya terletak pada pertengahan posterior infundibulum ethmoidalis, atau disamping 1/3 bawah processus uncinatus. Tepi posterior dari dewasa dini berlanjut dengan lamina paprycea sekaligus ini menjadi tanda untuk batas lateral dari diseksi pembedahan. Ukuran ostium ini rata-rata 2,4 mm tetapi dapat bervariasi antara 1-17 mm. Ostium ini jauh lebih kecil disbanding defek pada tulang sebab mukosa mengisi area ini dan menggambarkan tingkat dari pembukaan itu.

b. Fontanela anterior dan posterior ostium accessories

Dua tulang dehisens dari dinding nasal/ dinding medial sinus maksilaris kadang-kadang ada satu dehisens tulang yang besar, pada umumnya ditutup oleh mukosa, Beberapa individu dimana fontanella anterior atau posterior mungkin tetap terbuka mangakibatkan terdapat suatu ostium assesori. Ostium ini biasanya tidak berfungsi, mengalirkan sinus jika ostium yang alami dihalangi dan adanya tekanan/gravitasi gerak intrasinus dari ostium itu. Ostium akasesori pada umumnya ditemukan pada fontanella posterior.

3 Sinus Ethmoidalis

Perkembangan

Sinus ethmoidalis merupakan struktur berisi cairan pada bayi yang baru dilahirkan. Selama masih janin perkembangan pertama sel anterior diikiuti oleh sel posterior. Sel tumbuh secara berangsur-angsur sampai dewasa berumur 12 tahun. Sel ini tidak dapat dilihat dengan sinar X sampai berumur 1 tahun. Septa yang berangsur-angsur tipis dan pneumatisasi berkembang sesuai usia. Sel ethmoid bervariasi dan sering ditemukan di atas orbita, sphenoid lateral, keatap maksila dan sebalah anterior diatas sinus frontal. Sel ini disebut sel supraorbital dan ditemukan 15% dari pasien. Penyebaran ke turbinate medial disebut konka bulosa. Sel yang berada pada dasar sinus maksila (infraorbita) disebut Haller’s sel dan dijumpai pada 10% populasi. Sel-sel ini dapat menyumbat ostia maksila dan membatasi infundibulum mengakibatkan gangguan dari fungsi sinus. Sel yang meluas ke lateral anterior sinus sphenoid disebut onodi sel. Variasi dari sel ini penting pada saat preoperative untuk memperjelas anatomi pasien secara individu.

Struktur

Gabungan sel anterior dan posterior mempunyai volume 15 ml (3,3 x 2,7 x 1,4 cm). Bentuk ethmoid seperti pyramid dan dibagi menjadi multiple sel oleh sekat yang tipis. Atap dari ethmoid dibentuk oleh berbagai struktur yang penting. Sebelah anterior posterior agak miring (15º). 2/3 anterior tebal dan kuat dibentuk oleh os frontal dan faveola ethmoidalis. 1/3 posterior lebih tinggi sebelah lateral dan sebelah medial agak miring ke bawah kea rah cribiform plate. Perbandingan antara tulang tebal sebelah lateral dan plate adalah sepersepuluh kuat atap sebelah lateral. Perbedaan berat antara atap medial dan lateral bervariasi antara 15-17 tahun. Sel ethmoid posterior berbatasan dengan sinus sphenoid. Dinding lateralnya adalah lamina paprycea orbita.

Perdarahan

Sinus ethmoid mendapat aliran darah dari arteri karotis eksterna dan interna. Arteri sphenopalatina dan juga arteri ophtalmica mendarahi sinus. Pembuluh vena mengikuti arterinya dan dapat menyebabkan infeksi intracranial.

Persyarafan

Disarafi oleh nervus V.1 dan V. Nervus V.1 mensarafi bagian superior sedangkan sebelah inferior oleh nervus V.2. Persarafan parasimpatis oleh nervus vidian, sedangkan persarafan simpatis melalui ganglion symphatetic cervical dan berjalan bersama pembuluh darah menuju mukosa sinus,

4 Sinus Frontalis

Perkembangan

Sinus frontalis sepertinya dibentuk oleh pergerakan ke atas dari sebagian besar sel-sel ethmoid anterior. Os frontal masih merupakan selaput (membrane) pada saat kelahiran dan tulang mulai mengeras sekitar usia 2 tahun, Secara radiologi jarang bisa terlihat struktur selaput (membrane) ini, Perkembangannya mulai usia 5 tahun dan berlanjut sampai usia belasan tahun.

Struktur

Volume sinus ini sekitar 6-7 ml (28 x 24 x 20 mm). Anatomi sinus frontalis bervariasi tetapi secara umum ada dua sinus yang terbentuk seperti corong dan berbentuk point menaik. Kedalaman dari sinus berhubungan dengan pembedahan untuk menentukan batas yang berhubungan dengan pembedahan. Kedua bentuk sinus frontal mempunyai ostia yang bergantung dari rongga itu (posteromedial). Sinus ini dibentuk dari tulang diploe. Bagaimanapun, dinding posterior (memisahkan sinus frontal dari fosa cranium anterior) lebih tipis. Dari sinus ini juga berfungsi sebagai bagian dari atap rongga mata.

Perdarahan

Sinus frontalis mendapat perdarahan dari arteri ophthalmica melalui arteri supraorbita dan supratrochlear. Aliran pembuluh vena melalui vena ophthalmica superior menuju sinus kavernosus dan melalui vena-vena kecil di dalam dinding posterior yang mengalir ke sinus dural.

Persarafan

Sinus frontalis dipersarafi oleh cabang nervus V.1. Secara khusus nervus-nervus ini meliputi cabang supraorbita dan supratrochlear.

5 Sinus Sphenoidalis

Perkembangan

Sinus sphenoidalis adalah unik oleh karena tidak dibentuk dari kantong rongga hidung. Sinus ini dibentuk di dalam kapsul rongga hidung dari hidung janin. Tidak berkembang hingga usia 3 tahun usia 7 tahun pneumatisasi telah mencapai sela turcica. Usia 18 tahun, sinus sudah mencapai ukuran penuh.

Struktur

Usia belasan tahun sinus ini sudah mencapai ukuran penuh dengan volume 7,5 ml (23 x 20 x 17 mm). Pneumatisasi sinus ini, seperti sinus frontalis, sangat bervariasi. Secara umum merupakan struktur bilateral yang terletak posterosuperior dari rongga hidung, Pneumatisasi dapat meluas sejauh clivus, ala parva dan ala magna os sphenoid sampai ke foramen magnum. Dinding sinus sphenoidalis bervariasi ketebalannya, dinding anterosuperior dan dasar sinus paling tipis (1-1,5 mm), dinding yang lain lebih tebal. Bagian yang paling tipis dari dinding anterior adalah 1 cm dari fovea ethmoidalis. Letak dari sinus oleh karena hubungan anatominya tergantung dengan tingkat pneumatisasi. Sinus bia terletak jauh di anterior atau dengan seketika di bawah sella turcica (conchal, presellar, sellar atau postsellar). Kebanyakan posisi posterior dapat menempatkan sinus bersebelahan ke struktur yang penting seperti arteri carotid, nervus optikus, nervus maksilaris cabang dari  nervus trigeminal, nervus vidian, pons, sella turcica dan sinus kavernosus. Struktur ini sering dikenali seperti lekukan di atap dan dinding sinus. Dalam  presentase kecil akan mempunyai dehisens tulang di atas struktur yang penting seperti nervus opticus dan arteri carotid. Hati-hati ketika memperbaiki septa sinus ini mungkin di dalam kesinambungan dengan carotid dan kanalis opticus yang dapat mengakibatkan kematian dan kebutaan.

Ostium sinus sphenoidalis bermuara ke resesus sphenoethmoidalis. Ukurannya sangat kecil (0,5-4 mm) dan letaknya sekitar 10 mm diatas dasar sinus. 30 derajat ke bawah dari dasar hidung anterior mendekati letak ostium di atas dinding posterosuperior hidung, merupakan garis tengah persambungan antara 1/3 atas dan 2/3 bawah dari dinding anterior sinus. Biasanya sebelah medial ke turbinate superior dan hanya beberapa millimeter dari cribiform plate. Ostium ini, seperti sinus maksilaris, mempunyai tulang dehisens yang lebih besar yang dibatasi oleh sebuah septum membrane.

Perdarahan

Arteri ethmoid posterior mendarahi atap sinus sphenoidalis. Bagian lain dari sinus mendapat aliran darah dari arteri sphenopalatina. Aliran vena melalui vena maksilaris ke vena jugularis dan pleksus pterigoid.

Persyarafan

Sinus sphenoidalis disarafi oleh nervus V.1 dan V.2. Nervus nasoiliaris (cabang nervus V.1) berjalan menuju ethmoid posterior dan mensarafi atap sinus. Cabang-cabang nervus sphenopalatina (V.2) mensarafi dasar sinus.

MIKROSKOPIK ANATOMI

Sinus-sinus ini dilapisi oleh epitel pseudostratified ciliated columnar yang berkesinambungan dengan mukosa di rongga hidung. Epitel sinus ini lebih tipis dari epitel hidung. Ada 4 tipe sel dasar, yaitu epitel ciliated columnar, non ciliated columnar, sel basal dan sel goblet. Sel-sel ciliated memiliki 50-200 silis per sel dengan struktur dari mikrotubulus dengan dynein lengan. Data penelitian menunjukkan sel ini berdetak 700-800 kali per menit, pergerakan mukosa pada suatu tingkat 9 mm per menit.

Sel-sel yang non ciliated ditandai dengan mikrovili yang menutupi daerah apikal sel dan bertugas untuk meningkatkan area permukaan (mungkin memudahkan pembasahan dan kehangatan dari udara inspirasi). Ini penting untuk meningkatkan konsentrasi (sampai 50%) dari ostium sinus. Fungsi sel basal belum diketahui, sangat bervariasi dalam bentuk dan jumlah. Beberapa teori menjelaskan bahwa sel basal dapat bertindak sebagai suatu stem sel yang dapat membedakan jika dibutuhkan. Sel goblet ini disarafi oleh saraf simpatis dan parasimpatis. Rangsangan saraf parasimpatis menghasilkan mukus yang lebih kental dan dengan perangsangan saraf simpatis menghasilkan mukus yang encer.

Lapisan epitel disokong oleh suatu basement membran yang tipis, lamina propia dan periosteum. Keduanya baik kelenjar serous dan mucinous mengalir ke dalam lamina propia. Studi anatomi menunjukkan tentang sel goblet dan kelenjar submukosal di sinus dibandingkan di mukosa hidung. Pada studi tersebut, sinus maksilaris mempunyai sel goblet yang paling tinggi. Ostia dari rahang, sphenoid dansinus ethmoid meningkat dalam jumlah submukosal yang mengandung serous dan mucinous.

FUNGSI SINUS PARANASAL

Fisiologi dan fungsi dari sinus banyak menjadi penelitian. Sampai saat ini belum ada persesuaian pendapat mengenai fisiologi sinus paranasal. Ada yang berpendapat bahwa sinus paranasal ini tidak mempunyai fungsi apa-apa, karena terbentuknya sebagai akibat pertumbuhan tulang muka.

Beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi dari sinus paranasal antara lain:

  • Sebagai pengatur kondisi udara (air connditioning).

Sinus berfungsi sebagai ruangan tambahan untuk memanaskan dan mengatur kelembaban udara inspirasi. Keberatan terhadap teori ini ialah karena ternyata tidak terdapat pertukaran udara di dalam sinus dan rongga hidung. Volume pertukaran dalam ventilasi sinus kurang lebih 1/1000 voulume sinus tiap kali bernafas, sehingga dibutuhkan beberapa jam untuk pertukaran udara total dalam sinus. Lagipula mukosa sinus tidak mempunyai vaskularisasi dan kelenjar yang sebanyak mukosa hidung.

  • Sebagai penahan suhu (thermal isolators)

Sinus paranasal berfungsi sebagai penahan (buffer) panas, melindungi orbita dan fossa serebri dari suhu rongga hidung yang berbeda-beda. Akan tetapi kenyataannya sinus-sinus tidak terletak diantara hidung dan organ-organ yang dilindunginya.

  • Membantu keseimbangan kepala.

Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka. Akan tetapi bila udara dalam sinus diganti dengan tulang, hanya akan memberikan pertambahan sebesar 1% dari berat kepala, sehingga teori ini dianggap tidak bermakna.

  • Membantu resonansi suara.

Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan mempengaruhi kualitas suara. Akan tetapi ada yang berpendapat, posisi sinus dan ostiumnya tidak memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif. Lagipula tidak ada korelasi antara resonansi suara dan besarnya sinus pada hewan-hewan tingkat rendah.

  • Peredam perubahan tekanan udara.

Fungsi ini berjalan jika ada perubahan tekanan yang beasar dan mendadak, misalnya pada waktu bersin dan mebuang ingus.

  • Membantu produksi mukus untuk membersihkan rongga hidung.

Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal jumlahnya kesil bila dibandingkan dengan mukus yang dihasilkan dari rongga hidung, namun efektif untuk membersihkan partikel yang turut masuk dengan udara inspirasi karena mukus ini keluar dari meatus media, tempat yang paing strategis.

SINUSITIS

Sinusitis adalah suatu peradangan pada sinus yang terjadi karena alergi atau infeksi virus, bakteri maupun jamur. Sinusitis bisa terjadi pada salah satu dari keempat sinus yang ada (maksilaris, ethmoidalis, frontalis dan sfenoidalis).

Apapun fungsi asli dari sinus  (tak pernah ada ketentuan yang pasti), sinus paranasal merupakan lanjutan langsung dari bagian traktus respiratorius bagian atas dan karenanya sering terlibat infeksi bagian tersebut. Tidak ada mikroorganisme yang khusus untuk infeksi sinus, mekipun sinus sering merupakan tempat sisa infeksi yang menahun dari infeksi respiratorius yang umum. Tidaklah jelas mengapa hal ini terjadi, tetapi faktor lokal dapat merupakan faktor etiologik yang penting.

Semua keadaan anatomik atau fisiologik yang dapat menimbulkan sumbatan drainase dari sinus, menyebabkan statis sekret, dan hal ini menimbulkan infeksi.

Penyebab lokal lainnya yang merupakan predisposisi terjadinya sinusitis adalah adalnya polip alergi dengan lokasi yang tidak mnguntungkan. Mungkin yang terutama adalah piolip yang berlokasi dekat dengan hiatus semilunaris, karena menyebabkan sumbatan relatif terhadap drainase dari sinus kelompuk anterior.

Yang jelas, infeksi apikal dari akar gigi yang menonjol ke dalam dasar sinus maksila dapat menyebabkan infeksi. Hal ini terutama terjadi jika gigi yang terinfeksi seperti ini diangkat dan terjadi fistel ke dalam sinus maksila, atau jika bagian dari akar gigi secara tidak sengaja hilang didalam lumen sinus.

Aktivitas silia yang rusak dapat mengganggu pembersihan sinus yang menyebabkan infeksi sisa yang berkepanjangan. Sebagai tambahan efek buruk dari merokok dan polusi udara terhadap aktivitas mukosiliar, deviasi septum dapat mengubah arus konveksi alran udara inspirasi sedemikian rupa, sehingga terdapat daerah kering yang dapat merusak aktivitas silia. Dengan demikian menimbulkan rangkaian keadaan, mulai dari statis sekret dan berakhir dengan infeksi.

Pada organ yang menderita sinusitis setelah berenang, mungkin terkena infeksi dari kuman patogennya sendiri, yang secara mekanik masuk ke dalam rongga akibat tekanan air. Untuk mencegah keadaan ini hindari berenang pada saat menderita penyakit respiratorius yang aktif atau laten.

SINUSITIS KRONIS

Sinusitis kronis adalah sinusitis yang berlangsung lebih dari 3 bulan. Sinusitis kronis berbeda dari sinusitis akut dalam berbagai aspek, umumnya sukar disembuhkan dengan medikamentosa saja. Harus dicari faktor penyebab dan faktor predisposisinya.

Polusi bahan kimia menyebabkan silia rusak, sehingga terjadi perubahan mukosa hidung. Perubahan mukosa hidung dapat juga disebabkan oleh alergi dan defisiensi imunologik. Perubahan mukosa hidung akan mempermudah terjadinya infeksi dan infeksi menjadi kronis apabila pengobatan pada sinusitis akut tidak sempurna. Adanya infeksi akan menyebabkan edema konka, sehingga drainase akan terganggu. Drainase sekret yang terganggu dapat menyebabkan silia rusak dan seterusnya.

Gejala subyektif

Gejala subyektif sangat bervariasi dari ringan sampai berat, terdiri dari :

  • Gejala hidung dan nasofaring, berupa sekret pasca nasal (post nasal drips).
  • Gejala faring, yaitu rasa tidak nyaman dan gatal di tenggorok.
  • Gejala telinga, berupa pendengaran terganggu karena tersumbatnya tuba eustachius.
  • Adanya nyeri/sakit kepala.
  • Gejala mata oleh karena penjalaran infeksi melaui duktus nasolakrimalis.
  • Gejala saluran nafas berupa batuk dan kadang-kadang terdapat komplikasi di paru, berupa bronchitis atau bronchiectasis atau asma bronchial, sehingga terjadi penyakit sinobronkhial.
  • Gejala di saluran cerna, oleh karena muko-pus yang tertelan menyebabkan gastroenteritis, sering pada anak.

Kadang-kadang gejala sangat ringan hanya terdapat sekret di nasofaring yang mengganggu pasien. Sekret pasca nasal yang terus-menerus akan mengakibatkan batuk kronis.

Nyeri kepala pada sinusitis kronis biasanya terjadi pada pagi hari, dan akan berkurang atau hilang setelah siang hari. Penyebabnya belum diketahui dengan pasti tetapi mungkin karena pada malam hari terjadi penimbunan ingus dalam rongga hidung dan sinus serta adanya statis vena.

Gejala Obyekif

Pada sinusitis kronis, temuan pemeriksaan klinis tidak seberat sinusitis akut dan tidak terdapat pembengkakan pada wajah. Pada rinoskopi anterior dapat ditemukan sekret kental purulen dari meatus medius atau meatus superior. Pada rinoskopi posterior ditemukan sekret purulen di nasofaring atau turun ke tenggorok.

Pemeriksaan Mikrobiologik

Biasanya merupakan infeksi campuran oleh bermacam-macam mikroba, seperti kuman aerob S.aureus, S.viridans, H.influenza dan kuman anaerob Peptostreptokokus dan Fusobakterium.

Diagnosis sinusitis kronis

Dibuat berdasarkan anamnesis yang cermat, pemeriksaan rinoskopi anterior dan posterior serta pemeriksaan penunjang berupa transiluminasi untuk sinus maksila dan sinus frontal, pemeriksaan radiologik, pungsi sinus maksila, sinuskopi sinus maksila, pemeriksaan histopatologik dari jaringan yang diambil pada waktu dilakukan sinuskopi, pemeriksaan meatus medius dan meatus superior dengan menggunakan naso-endoskopi dan pemeriksaan CT-Scan.

Diagnosis Banding

Sinusitis kronis dapat didiagnosis banding dengan ozaena, keganasan, benda asing dan rhinitis kronik infeksi.

Terapi

Pada sinusitis kronis perlu diberikan terapi antibiotika untuk mengatasi infeksinya dan obat-obatan simptomatis lainnya. Antibiotika diberikan selama sekurang-kurangnya 2 minggu. Selain itu dapat juga dibantu dengan diatermi gelombang pendek selama 10 hari di daerah sinus yang sakit.

Tindakan lain yang dapat dilakukan adalah tindakan untuk membantu memperbaiki drainase dan pembersihan secret dari sinus yang sakit. Untuk sinusitis maksila dilakukan pungsi dan irigasi sinus, sedangkan untuk sinusitis ethmoid, frontal atau sfenoid dilakukan tindakan pencucian Proetz. Irigasi dan pencucian sinus ini dilakukan 2 kali dalam seminggu. Bila setelah 5 atau 6 kali tidak ada perbaikan dan klinis masih tetap banyak sekret purulen, berarti mukoasa sinus sudah tidak dapat kembali normal (perubahan irreversible), maka perlu dilakukan operasi radikal.

Untuk mengetahui perubahan mukosa masih reversible atau tidak, dapat juga dilakukan dengan pemeriksaan sinuskopi, yaitu melihat antrum (sinus maksila) secara langsung dengan menggunakan endoskop.

Pembedahan Radikal

Bila pengobatan konservatif gagal, dilakukan terapi radikal, yaitu mengangkat mukosa yang patologik dan membuat drainase dari sinus yang terkena. Untuk sinus maksila dilakukan operasi Caldwell-Luc, sedangkan untuk sinus ethmoid dilakukan ethmoidektomi yang bisa dilakukan dari dalam hidung (intranasal) atau dari luar (ekstranasal).

Drainase sekret pada sinus frontal dapat dilakukan dalam hidung (intranasal) atau dengan operasi dari luar (ekstra nasal) seperti pada operasi Killian. Drainase sinus sphenoid dilakukan dari dalam hidung (intranasal).

Pembedahan Tidak radikal

Akhir-akhir ini dikembangkan metode operasi sinus paranasal dengan menggunkan endoskop yang disebut Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BESF). Prinsipnya ialah membuka dan membersihkan daerah kompleks ostia-meata yang menjadi sumber penyumbatan dan infeksi, sehingga ventilasi dan drainase sinus dapat lancar kembali melalui ostium alami. Dengan demikian mukosa sinus akan kembali normal.

Komplikasi

Komplikasi sinusitis telah menurun secara nyata sejak ditemukannya antibiotika. Komplikasi biasanya terjadi pada sinusitis akut atau pada sinusitis kronis dengan eksaserbasi akut.

Komplikasi yang dapat terjadi ialah :

Osteomielitis dan abses subperiostal

Paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya ditemukan pada anak-anak. Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral.

Kelainan orbita

Disebabkan oleh sinus paranasal yang berdekatan denngan mata (orbita). Yang paling sering adalah sinusitis ethmoid, kemudian sinusitis frontal dan maksila. Penyebaran infeksi terjadi melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum. Kelainan yang dapat timbul ialah edema palpebra, selulitis orbita, abses subperiostal, abses orbita dan selanjutnya dapat terjadi trombosis sinus kavernosus.

Kelainan intrakranial

Dapat berupa meningitis, abses ekstradural atau subdurak, abses otak dan trombosis sinus kavernosus.

Kelainan paru

Seperti bronchitis kronik dan bronkhiektasis. Adanya kelainan sinus paranasal dengan kelainan paru disebut sinobronkitis. Selain itu dapat juga timbul asma bronchial.

KESIMPULAN

Sinusitis adalah suatu peradangan pada sinus yang terjadi karena alergi atau infeksi virus, bakteri maupun jamur. Sinusitis bisa terjadi pada salah satu dari keempat sinus yang ada (maksilaris, ethmoidalis, frontalis dan sfenoidalis).

Sinusitis kronis adalah sinusitis yang berlangsung lebih dari 3 bulan. Sinusitis kronis berbeda dari sinusitis akut dalam berbagai aspek, umumnya sukar disembuhkan dengan medikamentosa saja. Harus dicari faktor penyebab dan faktor predisposisinya.

Gejala sinusitis kronis meliputi gejala subyektif yang bervariasi dari berat hingga sangat ringan serta gejala obyektif dengan temuan klinis yang tidak seberat sinusitis akut.

Diagnosis sinusitis kronis meliputi anemnesis, pemeriksaan rinoskopi anterior maupun posterior, pemeriksaan radiologik, CT scan dan pemeriksaan penunjang lainnya.

Terapi sinusitis kronis dapat berupa medikamentosa, pungsi, irigasi dan pencucian sinus maupun tindakan pembedahan baik yang radikal maupun tidak radikal yaitu dengan Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BESF).

Komplikasi dari sinusitis kronik cukup berbahaya meliputi osteomielitis, komplikasi orbita, intrakranial dan paru. Oleh karena itu sinusitis kronik merupakan penyakit yang perlu perhatian dan penganganan yang serius.

SARAN

Praktisi kesehatan agar lebih memahami mengenai sinusitis agar sinusitis akut dapat tertangani dengan tuntas sehingga tidak jatuh menjadi sinusitis kronis serta tidak terjadi komplikasi yang lebih lanjut.

Selain itu sinusitis merupakan salah satu penyakit dengan alergi sebagai penyebabnya,  oleh karena itu diperlukan edukasi bagi pasien agar menghindari faktor alergennya sehingga tidak terjadi kekambuhan.

REFERENSI

  1. Al-fatih II M. 2009. Sinusitis Kronik. Diunduh dari http://hennykartika.wordpress.com/2007/12/29/sinusitis-kronik/.
  2. Anggraini DR. Anatomi dan Fungsi Sinus Paranasal. 2006. USU Respiratory. Diunduh dari http://library.usu.ac.id/download/fk/06001191.pdf.
  3. Ballinger, JJ. 1994 „Radiologi Sinus Paranasal“ dalam Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Jilid I. Edisi 13. Binarupa Aksara. Jakarta. Hal 4-10.
  4. Ballinger, JJ. 1994 „Radiologi Sinus Paranasal“ dalam Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Jilid I. Edisi 13. Binarupa Aksara. Jakarta. Hal 232-246.
  5. Mangunkusumo E, Rifki N. 2001. „Sinusitis“ dalam Efiaty AS, Nurbaiti dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Hidung Telinga Tenggorok Kepala dan Leher. Balai penerbit FK UI. Jakarta. Hal 120-124.
  6. Mercandetti, Michael. Sinusitis Ethmoid, Acute, Surgical Treatment, Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/862183-media.
  7. Sinusutis Kronis. Diunduh dari http://ilmu kedokteran.net/pdf/Ilmu-Penyakit-Telinga-Hidung-Tenggorokan/sinusitis-kronis.pdf
  8. Sinusitis, Penyakit yang Menyerupai Gejala Flu. 2009. Diunduh dari http://medicastore.com/artikel/280/Sinusitis_Penyakit_yang_Menyerupai_Gejala_Flu%E2%80%A6.html
  9. Sinusitis. Diunduh dari http://medicastore.com/penyakit 55/Sinusitis.html
  10. Soetjipto D, Mangunkusumo E. 2007. „Sinus pranasal“ Dlam Efiaty AS, Nurbaiti dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Hidung Telinga Tenggorok Kepala dan Leher. Balai penerbit FK UI. Jakarta. Hal 145-149.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s