Gigitan Ular Berbisa

Di Indonesia data pasti mengenai gigitan ular berbisa belum ada  dan penelitian tentang ular dan bisanya belum berkembang sehingga banyak jenis ular dan bisanya belum diketahui sifat bisanya , seperti ular ular yang terdapat di Irian.

Ular termasuk :   kelas reptilia , ordo squamata, sub ordo serfentes.

Jenis ular berbisa 5 famili

  • Elapidae
  • Viperidae
  • Hydropidae
  • Crotalidae
  • Colubridae hanya terdapat di Afrika

Bisa Ular

  • Berasal dari modifikasi kelenjar ludah
  • Masuk kedalam tubuh korban melalui alur yang terdapat dalam taring atau disemprotkan .
  • Cairan jernih s/d dengan keruh.
  • BD.1,03-1,12 .
  • Viskositas 1,5-2,5
  • PH 5,5 – 7.
  • Tetap aktif bila disimpan dlm suhu kamar

Dua komponen kimia bisa ular yang penting

Komponen enzym

  • Proteinase memp.efek anti koagulan
  • Hyaluronidase mempermudah penetrasi zat zat toksin
  • Kholinesterase mencegah penumpukan acetylcholin pada neuromuscular junction
  • Fosfolipase terjadinya hemolisa dan pengeluaran histamin bertambah dan bersifat neurotoksin.
  • Efek komponen enzym tidak mematikan.

Komponen protein dan polipeptida

  • Hemotoksin menyebabkan terjadinya perdarahan
  • Neurotoksin terjadinya paralyse otot rangka
  • Cardiotoksin kerusakan membrana basalis dari otot jantung ,otot polos dan otot rangka .
  • Sitotoksin  pengeluaran histamin bertambah
  • Miotoksin terjadinya rhabdomyolisis mengakibatkan  myoglobinuri dan gagal ginjal
  • Efek komponen protein dan polpeptida mematikan

Gejala klinik tergantung pada efek bisa ular apakah efek :  hemotoksin atau neurotoksin

Bisa ular jenis hemotoksin :

  • Lokal : terjadi perdarahan terus menerus pada luka gigitan disertai oedem dan Erytem, kemudian  timbul bulla dan gangren.
  • Gejala sistemik : spt.demam ,hipotensi ,batuk darah ,muntah darah, melena ,hematurie, dan gagal ginjal akut .

Klasifikasi Parrish membagi 4 grade untuk menentukan jumlah SABU yang diberikan

Grade 0 oedem dan erytem 12 jam pertama     dibawah   2,5 cm
Grade I ——————————————-     2,5 cm  –  12,5 cm
Grade II ——————————————     15 cm  –   30  cm
Grade III —————————————–     diatas 30 cm
Grade IV —————————————-      melewati satu extremitas..
Sabu yang diberikan : Grade 0 tidak diberikan
Grade I —- Sabu 10 cc
Grade II — Sabu  30 – 40 cc
Grade III dan IV – Sabu –diatas  50 cc

Bisa ular jenis neurotoksin

  • Terdapat pada ular Hidropidae , -Elapidae
  • Gejala lokal :  Rasa sakit minimal dan oedem sedikit
  • Gejala sistemik : Ptosis bilateral, sulit bicara dan menelan, -salivasi,  diplopia , -mual dan muntah, paralisa otot otot pernafasan dan terjadilah  gagal nafas.

Diagnosa gigitan ular berbisa
Ular dapat ditangkap

  • Pupil makin bulat tidak berbisa
  • Bertaring berbisa

Bentuk luka gigitan

  • Semisirkuler tidak berbisa
  • Vulnus punctum dan luka robek berbisa

Penanggulangan  gigitan ular berbisa

1. Menghambat masuknya bisa ular ke sirkulasi darah

  • Pembalutan proksimal dari luka gigitan dengan elastik verban ,dengan torniquet dengan tekanan antara sistol dan diastol.
  • Istirahat total bagian yang digigit
  • Pendinginan dengan Es
  • Insisi dan penghisapan  bermanfaat bila dibawah 30 menit

2.  Menetralisir dengan SABU

SABU polivalen untuk :

  • ular kobra
  • ular tanah
  • bungarus fasciatus
  • bungarus candidus.

Kapan SABU diberikan ? bila ada :

  • Adanya Ptosis bilateral
  • Oedem dan Erytem  berdasarkan Parriss klasifikasi
  • Gejala keracunan sistemik
  • Dosis Sabu yang diberikan
  • Bisa bersifat neurotoksin : diberikan SABU 20 cc dan dapat diulang  setiap 4 jam, tergantung dari keadaan penderita
  • Bisa bersifat hemotoksin : berdasar kan klasifikasi Parrish .

Cara pemberian SABU

  • Perinfus  intra vena  dilarutkan dalam cairan Na Cl 0,9 % atau Dextrose 5 % perbandingan 1 : 10  atau 1 : 50
  • Skin test dulu —> Alergi  diberikan adrenalin 0,5 mg subcutan dan hidrokortison 100 mg iv.

3.  Mengatasi Efek Lokal dan sistemik

  • Awasi kardiovaskuler, pernafasan, status neurologi
  • Laboratoriun : Hb, Ht, faktor pembekuan, elektrolit darah , fungsi ginjal.
  • Pemberian kortikosteroid 100-150 mg hidrokortison  mencegah oedem dan hipotensi.
  • Analgeltik dan sedatif
  • Fasciotomi
  • Resusitasi pernafasan bila terjadi gagal nafas, pemberian cairan infus,
  • Antibiotik, ATS dan Toksoid.
  • Transfusi bila terjadi penurunan Hb
  • Pemberian diuretika  ,Hemodialise bila terjadi gagal ginjal
  • Pemberian anti koagulan bila terjadi DIC.

One thought on “Gigitan Ular Berbisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s