Apa yang Harus Diberitahukan kepada Pasien ?

Artikel ini berisi tentang bagaimana komunikasi antara dokter dan pasien dalam penggunaan obat. Dokter di Indonesia khususnya sangat jarang memberikan informasi kepada pasien yang sedang menjalani pengobatan. Oleh karena itu sering terjadi kesalahpahaman dalam penggunaan obat yang  salah yang sering dilakukan oleh pasien. Hal ini disebabkan kelalaian dokter dalam memberikan pengarahan yang baik dan benar terhadap pasien dalam penggunaan obat tersebut.

Agar tidak terjadi kesalahan dalam terapi ada hal-hal yang harus  diberitahukan kepada pasien, yaitu :

  1. Pengertian obat (what is medicine?)
  2. Pengguna obat (who use medicines?)
  3. Alasan penggunaan obat (why do patients use medicine?)
  4. Waktu yang tepat dalam menggunakan obat (when do patients  use medicine?)
  5. Dimana Mendapatkan dan Menggunakan Obat (Where do patients  get and use  Medicine?)
  6. Bagaimana cara kerja obat (how do medicines  work?)

Berikut akan dijelaskan mengenai permasalahan tersebut.

1. Pengertian Obat  (What is medicine ?)

Pengertian obat yang harus diberitahukan kepada pasien  adalah bahan-bahan kimia yang digunakan untuk mencegah atau mengobati penyakit dan gejala penyakit yang ditimbulkan oleh penyakit tertentu. Obat yang diberikan oleh dokter dapat menyembuhkan penyakit dan menyelamatkan kehidupan seorang pasien.

Secara farmakologi, pengertian obat adalah

  1. substansi yang melalui efek kimianya membawa perubahan dalam fungsi biologis. Pada umumnya molekul obat tersebut akan berikatan dengan reseptor yang akan memberikan efek farmakoterapi kepada pasien,
  2. zat aktif yang dalam organisme dapat menimbulkan kerja biologis dapat berasal dari nabati, hewani, kimiawi alam maupun sintesis dalam dosis atau kadar tertentu dapat digunakan untuk preventif (profilaksis), rehabilitasi, terapi, diagnosa terhadap suatu keadaan penyakit pada manusia maupun hewan. Namun zat aktif tersebut tidak dapat dipergunakan begitu saja sebagai obat, terlebih dahulu harus disesuaikan bentuk sediaannya.

Obat yang digunakan oleh dokter adalah jenis obat modern yang efektif digunakan dalam penyembuhan apabila digunakan dalam pengobatan suatu penyakit dengan dosis dan waktu yang tepat. Seorang pasien yang mengkonsumsi obat dalam waktu dan dosis yang tidak tepat akan memberikan efek yang tidak sesuai dengan tujuan pengobatan.

  1. Bila pasien menggunakan obat melebihi dosis dan waktu yang salah dapat menimbulkan keracunan.
  2. Sebaliknya bila dosisnya lebih kecil maka akan sedikit atau tidak memperoleh penyembuhan.

2. Pengguna Obat (Who do use medicines?)

Manusia yang sakit biasanya akan menggunakan obat sebagai alat penyembuhannya. Pasien bisa  pada semua umur dengan mempertimbangkan dosis dan keadaan pasien itu sendiri. Pasien bisa berupa :

  1. anak-anak
  2. orang dewasa
  3. ibu hamil
  4. ibu menyusui
  5. orang tua

3. Alasan Penggunaan Obat (Why Do Patients Use Medicine?)

Dokter memberikan obat kepada pasien agar memperoleh indikasi suatu obat yang dinyatakan sesuai dengan patologik spesifik dimana obat itu digunakan.

Alasan obat digunakan karena mempunyai indikasi-indikasi sebagai berikut  :

  1. antibiotik merupakan obat yang  dapat menyembuhkan penyakit dengan membunuh sel-sel yang terinfeksi oleh virus dan bakteri
  2. obat-obat kanker bekerja dengan cara memusnahkan sel-sel kanker dan mencegah pembelahannya.
  3. Beberapa obat bekerja dengan cara menggantikan substansi kimia dalam tubuh manusia atau memperbaiki substansi kimia dalam tubuh yang mengalami kerusakan dengan vitamin atau hormon.
  4. Ada juga obat yang  berfungsi untuk menghilangkan rasa nyeri dan mengobati penyakit kronis.
  5. Penggunaan obat yang paling penting adalah imunisasi karena akan mencegah orang-orang dari sakit dengan cara melindungi tubuh dengan membentuk antibodi seperti imunisasi campak, BCG dan polio.

4. Waktu Yang Tepat Dalam Menggunakan Obat (When do patients  use medicine?)

Untuk mencapai efek terapeutik yang paling optimal (disamping menghilangkan, atau sekurang-kurangnya mengurangi efek samping obat yang mengganggu) harus ditetapkan waktu yang tepat sesuatu obat digunakan. Waktu penggunaan obat ini juga tercantum pada resep, yang tertulis diwadah obat yang diterima pasien dari apoteker.

Apabila ketidakpatuhan atau ketidaktertiban menggunakan obat sering kali tidak disadari sepenuhnya oleh penderita maupun oleh dokter yang mengobatinya. Faktor ketidakpatuhan penderita ini oleh dokter perlu dipertimbangkan dalam hal respons obat tidak sebagaimana yang diharapkan. Ada kemungkinan obat digunakan kurang dari semestinya, atau sebaliknya digunakan lebih dari semestinya.

1. Apabila obat kurang dari semestinya

Apabila obat yang kurang dari semestinya akan merugikan pasien, karena ia tidak mungkin mendapatkan keuntungan terapeutik sebagaimana yang dimaksudkan oleh dokter, karena kadar obat dalam darah/plasma tidak mencapai kadar minimum efektif. Hal ini dapat mengakibatkan :

  • ­Bertambah parahnya penyakit atau cepat kambuhnya penyakit
  • ­Kalau obatnya berupa antibiotika kemungkinan timbulnya mikroorganisme yang resisten terhadap antibiotika yang bersangkutan.
  • ­Kalau ”dosis” yang kurang dirasakan kurang efektif, maka kemungkinan penderita akan meminum dosis yang lebih besar sehingga kemungkinan intoksikasi akan lebih besar pula, terutama bila obat yang diminum mempunyai batas terapi yang sempit.
  • ­Kalau dirasa obat yang diminum ”kurang efektif” maka penderita akan memilih obat lain yang potent.

2. Penggunaan obat lebih dari semestinya

Bila penderita menggunakan obat lebih dari semestinya, maka resiko reaksi atau efek samping yang berlebihan dan bisa mengakibatkan keracunan yang merupakan bahaya bagi penderita. Problem ini seringkali semulanya disebabkan oleh hal yang sederhana saja; hanya oleh karena penderita kurang berpikir panjang, seperti :

  • ­Penderita lupa meminum obat pada waktu yang ditentukan, maka pada waktu berikutnya ia meminum dua kali lebih banyak.
  • ­Ada penderita yang secara simplitis berpikir, kalau minum satu tablet lebih baik, maka minum dua tablet sekaligus akan lebih baik lagi.

Seorang dokter cenderung mengubah terapi, seorang dokter sebaiknya terlebih dahulu meneliti mengapa penderitanya tidak memberikan respon yang diharapkan terhadap obat yang diberikan, antara lain apakah obat telah diminum sesuai dengan petunjuk.

Oleh karena itu perlu diberitahukan kepada pasien mengenai waktu penggunaan obat yang tepat sesuai dengan resep yang tertulis. Hal ini perlu diberitahukan karena apoteker terkadang lupa/tidak memberitahukan bagaimana waktu penggunaan obat yang tepat. Adapun waktu penggunaan obat yang tepat sesuai resep itu antara lain :

1. Sebelum makan      :  ante coenam, pada resep disingkat dengan a.c (antara lain obat untuk menambah nafsu makan.
2. Sesudah makan : post coenam, pada resep disingkat dengan p.c (antara lain untuk Acetosal, preparat Fe, digitalis dan lain-lain yang memberikan iritasi pada lambung).
3. Sedang/waktu makan : durante coenam, pada resep disingkat dengan d.c (antara lain  obat yang digunakan untuk membantu pencernaan biasanya berupa enzim).
4. Malam/sebelum-tidur : ante coenam, pada resep disingkat dengan a.n  antara lain digunakan untuk obat hipnotika.
5. Pagi hari : mane, pada resep ditulis mane antara lain:

  • ­Untuk laxans seperti Magnessi Sulfas dengan “onset of action” cepat
  • ­Diuretika dengan “onset of action” 10-12 jam

6.  Sesudah buang air besar : post defaecatio, pada resep disingkat dengan post defaec (antara lain untuk supposutoria anal).

Penggunaan obat yang tepat sesuai resep  penting untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang bisa memperlambat/menghilangkan kerja obat. Contohnya :

  1. Obat untuk diuretika dan laxans apabila obat tersebut digunakan pada malam hari akan sangat menggangu ketenangan tidur penderita.
  2. Obat untuk supposutoria anal apabila digunakan sebelum defekasi, maka kemungkinan obat belum sempat bekerja sudah dikeluarkan melalui tinja pasien.

5. Dimana Mendapatkan dan Menggunakan Obat (Where do patients  get and use  Medicine?)

a.   Dimana Mendapatkan obat

Pasien setelah mendapatkan pelayanan kesehatan biasanya dokter yang melayani akan memberikan resep kepada pasiennya dan resep ini akan diambil oleh pasien di apotek.

Apotek ialah suatu unit kesehatan tempat penderita/pasien mengambil obatnya. Ada dua macam apotek, yaitu :

  • ­Apotek rumah sakit :  hanya melayani resep-resep dari para dokter Rumah Sakit yang bersangkutan.
  • ­Apotek Umum : apotek swasta yang melayani tidak saja resep pribadi tetapi semua resep dokter dan kalau perlu bisa digunakan untuk melayani kertas resep Rumah Sakit bila kebetulan Apotek Rumah Sakit tersebut tidak memiliki obat yang diresepkan oleh dokter. Apotek umum juga melayani juga dapat melayani penjualan “obat bebas” dan “obat bebas terbatas” yang untuk mendapatkannya tidak perlu resep dokter.

b. Dimana Menggunakan Obat

  1. Entera : digunakan dengan cara dimakan melalui mulut pasien
  2. Parenteral : penggunaan obat selain melalui mulut bisa berupa :
  • ­  pemberian suntikan :  dengan cara injeksi baik melalui otot atau menembus kulit pasien.
  • ­  rektum (anus) : dengan cara memasukkan obat tersebut melalui anus pasien.
  • ­  vagina :  dengan cara memasukkan obat tersebut melalui (vagina) organ genital perempuan
  • ­  mata : biasa berupa obat tetes yang diteteskan ke mata pasien
  • ­  hidung : biasa berupa obat tetes yang diteteskan ke mata pasien.

Dimana penggunaan obat yang tepat sangat penting untuk diberitahukan kepada pasien untuk menghindari kesalahan-kesalahan aneh yang pernah terjadi, karena penderita tidak memahami pemakaian obatnya, misalnya suppositoria merupakan obat yang digunakan untuk pengobatan pada anus pasien, tetapi ditelan melalui oral.

6. Obat (How medicine workss?)

Obat bereaksi didalam tubuh bergantung pada bagaimana obat tersebut dikonsumsi oleh pasien. Ada 2 cara penggunaan obat yaitu :

1. Enteral

Cara enteral merupakan rute yang paling sering digunakan; cara ini yang paling mudah bagi pasien, karena obat melalui saluran yang sudah ada dan biasanya tidak begitu merusak jaringan. Adapun penggunaan obat ini dengan cara mengkonsumsi melalui oral (mulut).

Obat-obat yang bisa digunakan dengan enteral adalah dalam bentuk sirup, kapsul, tablet, dan pil.

Obat yang digunakan enteral ini akan melewati mulut, tenggorokan, lambung, usus halus. Obat akan diserap dilambung dan di usus lalu akan memasuki pembuluh darah dan akan bersirkulasi menuju target organ.

2. Parenteral

Cara parenteral yaitu penggunaan obat selain melalui oral bisa berupa pemberian suntikan, rektum (anus), vagina, mata, dan hidung. Obat-obat yang digunakan dengan suntikan, pengobatan pada mata dan hidung biasanya berupa cairan, sedangkan obat untuk vagina dan anus biasanya berupa tablet semisolid.

Obat yang digunakan parenteral ini tidak mengalami penyerapan didalam lambung atau usus. Pemberian suntikan akan langsung dapat menuju target organ karena obat sudah masuk ke pembuluh darah. Sedangkan obat untuk mata, vagina, dan rektum merupakan obat yang berfungsi sebagai obat lokal yang akan bekrja spesifik didaerah dekat pemberian obat tersebut.

Referensi

  1. James R. Hildebrand III, PharmD. Understanding Medications And What They D.o. Http://Kidshealth.Org/meds.html
  2. Katzung, Katzung, Bertram G. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 6. Jakarta:  EGC;1998
  3. Moh, Anief. 2000. Prinsip Umum Dan Dasar Farmakologi. Cetakan II. Gadjah mada University Press : Yogyakarta.
  4. Joenoes, Z nanizar.1994. Ars Prescribendi (1).  Airlangga university Press : Surabaya
  5. Joenoes, Z nanizar.2002. Ars Prescribendi (3).  Airlangga university Press : Surabaya.
  6. Jas, admar. 2004. Perihal Obat dengan berbagai bentuk sediaannya. USU Press : medan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s