Apa yang Harus Diketahui Dokter tentang Obat ?

PENGERTIAN OBAT

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, obat adalah bahan yang  digunakan untuk mengurangi, menghilangkan penyakit, atau menyambuhkan seseorang dari penyakit

Menurut Wikipedia Indonesia, obat adalah benda yang dapat digunakan untuk merawat penyakit, membebaskan gejala, atau memodifikasi proses kimia dalam tubuh.

Menurut Kamus Kedokteran ‘Dorlan’, drug adalah setiap substansi  pengobatan.

Dalam buku obat-obat penting, obat merupakan semua zat baik kimiawi, hewani maupun nabati yang dalam dosis layak dapat menyembuhkan, meringankan atau mencegah penyakit berikut gejalanya.

BENTUK SEDIAAN OBAT

Bentuk sediaan obat dapat digolongkan menjadi :

1. Padat, dapat berupa :

  • Tablet : tablet kunyah, tablet salut, dan tablet efervesen
  • Kapsul : kapsul gelatin keras dan kapsul gelatin lunak
  • Pil
  • Serbuk : serbuk terbagi, serbuk tak terbagi dan serbuk efervesen

2.   Semisolid, dapat berupa :

  • Salep adalah sediaan setengah padat untuk dipakai pada kulit.
  • Krim adalah sediaan setengah padat yang mengandung banyak air.
  • Pasta adalah suatu salep yang mengandung serbuk yang banyak seperti amilum dan ZnO. Bersifat pengering.
  • Jeli adalah suatu sediaan semi padat, kental, lekat dan dibuat dari gom yang hidrasu. Digunakan pada kulit atau membran mukosa untuk efek pelumas atau sebagai bahan pembawa obat.

3.   Cair, dapat berupa :

  • Eliksir adalah suatu larutan alkoholis dan diberi pemanis mengandung obat dan diberi bahan pembahu.
  • Sirup adalah suatu larutan obat dalam larutan gula yang jenuh, biasanya diberi esen.
  • Emulsi adalah suatu campuran dua zat cair yang tidak mau campur, biasanya minyak dan air, dimana zat cair yang satu terdispersi di dalam zat cair yang lain dengan bantuan emulgator.
  • Suspensi oral adalah suatu campuran obat berupa zat padat terbagi halus yang tterdispersi di dalam medium cairan. Biasanya cairan yang dipakai adalah air, dan harus dikocok dulu sebelum digunakan.

4.   Gas, contohnya oksigen.

CARA PEMBERIAN OBAT

Cara pemberian obat terbagi dua, yaitu :

1. Secara enteral, yaitu suatu cara atau rute pemberian obat yang melalui usus. Cara pemberian obat secara enteral ini dapat dibagi menjadi :

  • Per oral.

Penggunaan obat melalui oral bertujuan terutama untuk mendapatkan efek sistemik, yaitu obat beredar melalui pembuluh darah ke seluruh tubuh. Tetapi untuk obat cacing dikehendaki efek lokal. Obat mengalami perjalanan yang panjang dan waktu lebih lama untuk mencapai target organ.

Cara ini merupakan cara pemberian obat yang paling umum dilakukan karena mudah, aman dan murah. Kerugiannya ialah banyak faktor-faktor seperti sifat-sifat fisikokimia obat, formulasi obat, faktor penderita dan interaksi obat di saluran cerna dapat mempengaruhi bioavailabilitasnya, obat dapat mengiritasi saluran cerna, dan perlu kerja sama dengan penderita (tidak bisa dilakukan bila pasien koma atau muntah-muntah). Biasanya obat-obatan dalam bentuk sediaan padat dan sirup diberikan melalui cara ini.

  • Buccal.

Cara memakainya, obat dimasukkan di antara pipi dan gusi dalam rongga mulut. Absorpsi obatnya melalui selaput lendir mulut masuk ke peredaran darah sehingga obat tidak mengalami metabolisme lintas pertama di hati. Tablet akan hancur dan zat aktif akan dilepas secara perlahan serta larut dengan bantuan saliva. Kerugiannya adalah kemungkinan salah dalam cara pemakaian, yaitu obat tidak didiamkan terlebih dahulu di dalam mulut tapi langsung ditelan sehingga efek terapi sulit dicapai dan rasa dan bau kurang enak sulit dihindari.

  • Sublingual.

Cara memakainya, dimasukkan di bawah lidah. Absorpsi obatnya dapat terjadi walaupun permukaan absorpsinya tidak terlalu luas. Obat juga terhindar dari metabolisme lintas pertama di hati karena aliran darah dari mulut tidak melalui hati melainkan langsung ke vena cava superior. Bentuk obat yang biasa digunakan adalah tablet.

  • Rektal

Digunakan supositoria berbentuk seperti torpedo dimasukkan ke dalam rectum. Biasanya obat supositoria ini meleleh pada temperatur badan.

Efek yang diperoleh adalah lokal dan sistemik. Efek lokal digunakan untuk obat heaemorroid, sedangkan untuk analgetika-antipiretika dan antikonvulsi memberikan efek sistemik. Sering dipergunakan pada penderita yang muntah-muntah, tidak sadar dan pascabedah. Metabolisme lintas pertama di hati lebih sedikit dibandingkan dengan pemberian per oral karena hanya sekitar 50% obat yang diabsorpsi dari rectum akan melalui sirkulasi portal. Namun banyak obat mengiritasi mukosa rectum. Bentuk obat yang biasa digunakan adalah larutan, salep dan supositoria.

  • Vaginal.

Digunakan ovula, bentuknya oval seperti telur. Efek yang diperoleh adalah lokal. Biasanya mengandung obat hormon atau antiseptik. Bentuk obat yang digunakan dapat berupa larutan, salep, tablet dan ovula. Tujuan pemberian adalah untuk membasmi mikroorganisme, terutama jamur dan sekaligus menghilangkan bau tidak enak.

2. Secara  parenteral, yaitu suatu rute atau cara pemberian obat yang tidak melalui usus. Perjalanan obat singkat, cepat sampai pada organ target, tetapi penuh resiko. Cara pemberian obat secara parenteral ini terdiri dari :

  • Intravena (IV).

Pemberian secara IV tidak mengalami absorpsi, maka kadar dalam obat diperoleh secara cepat, tepat dan dapat disesuaikan langsung dengan respons penderita. Larutan yang iritatif dapat diberikan dengan cara ini karena dinding pembuluh darah relatif tidak sensitif dan bila disuntikkan perlahan-lahan, obat segera diencerkan oleh darah. Kerugiannya adalah efek toksik mudah terjadi karena kadar obat yang tinggi segera mencapai darah dan jaringan. Di samping itu, obat yang telah disuntikkan tidak dapat ditarik kembali. Untuk infus yang merupakan volume cairan yang besar mengandung elektrolit, substansi nutrisi yang esensial diberikan hanya melalui cara ini.

  • Intrakutan.

Merupakan skin test. Digunakan untuk tujuan diagnosa yaitu menentukan penyakit dan dapat digunakan sebagai tes alergi dan tes imunitas seluler. Pemberian melalui kulit untuk tujuan sistemik dengan jalan menempelkan sediaan yang diberi penyanggah kain atau kasa, misal obat jantung (nitradisc, nicotinell fluc).

  • Subkutan

Disuntikkan di bawah kulit ke dalam alveola. Hanya boleh digunakan untuk obat yang tidak mengiritasi jaringan. Absorpsi biasanya terjadi secara lambat dan konstan sehingga efeknya bertahan lama. Obat dalam bentuk suspensi diserap lebih lambat daripada dalam bentuk larutan, sedangkan obat dalam bentuk padat yang ditanamkan di bawah kulit dapat diabsorpsi selama beberapa minggu atau beberapa bulan.

  • Intramuskular (IM)

Kelarutan obat dalam air menentukan kecepatan dan kelengkapan absorpsi. Obat yang larut dalam air diserap lebih cepat. Absorpsi lebih cepat terjadi di deltoid daripada di gluteus maximus. Obat yang terlalu iritatif untuk disuntikkan secara subkutan kadang-kadang dapat diberikan secara IM.

  • Intratekal

Disuntikkan ke dalam ruang subaraknoid spinal. Dilakukan bila diinginkan efek obat yang cepat dan setempat pada selaput otak, seperti anestesi spinal atau pengobatan infeksi susunan syaraf pusat yang akut.

  • Intraperitoneal.

Disuntikkan langsung ke dalam rongga perut. Jarang dipakai karena bahaya infeksi terlalu besar.

  • Inhalasi.

Dapat dilakukan untuk obat yang berbentuk gas atau cairan yang mudah menguap dan untuk obat yang dapat diberikan dalam bentuk aerosol. Keuntungannya, absorpsi terjadi secara cepat karena permukaan absorpsinya luas, terhindar dari metabolisme lintas pertama di hati dan pada penyakit paru-paru seperti asma bronkial, obat dapat diberikan langsung pada bronkus. Kerugiannya adalah diperlukan alat dan metode khusus yang agak sulit mengerjakannya, sukar mengatur dosis dan obatnya sering mengiritasi epitel paru.

  • Topical

Pemakaian obat secara topical artinya penggunaan sediaan melalui kulit pada superfisial epidermis dengn tujuan lokal. Obat diberikan untuk mempercepat penyembuhan, bila pemberian oral tidak mencapai superfisial epidermal yang miskin pembuluh kapiler. Penggunaan kurang tepat bila kulit rusak, karena kemungkinan besar akan terjadi efek iskemik untuk obat tertentu.

PERJALANAN OBAT DALAM TUBUH

1. FARMAKOKINETIK

Farmakokinetik adalah aspek farmakologi yang mencakup nasib obat dalam tubuh yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresinya.

Absorpsi

Adalah merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian. Dalam melintasi sel membran obat melakukan dengan dua cara, yaitu transfer pasif dan transfer aktif. Absorpsi dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti :

  • Kelarutan obat
  • Kemampuan difusi melintasi sel membran
  • Konsentrasi obat
  • Sirkulasi pada letak absorpsi
  • Luas permukaan kontak obat
  • Bentuk obat
  • Rute pemakaian obat.

Tetapi secara klinis, yang lebih penting adalah bioavailabilitas, yaitu jumlah dan kecepatan diserapnya bentuk aktif obat oleh tubuh. Faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah:

  • Faktor bentuk sediaan, yaitu sifat fisik obat dan sifat sediaan
  • Faktor fisiologi, yaitu pengaruh cairan usus, masa transit usus, tempat penyerapan, metabolisme lintas pertama di dinding usus, hati, kulit, faktor farmakogenetik yang mempengaruhi laju metabolisme di hati, keadaan patologi dan flora usus.

Distribusi

Distribusi obat dilakukan di dalam susunan syaraf pusat dan melalui sawar darah-otak. Distribusi khususnya melalui peredaran darah, obat yang telah melalui hati bersamaan dengan metabolitnya disebarkan secara merata keseluruh jaringan tubuh. Melalui kapiler dan cairan ekstra sel obat diangkut ketempat kerjanya di dalam sel (cairan intra sel), yaitu organ atau otot yang sakit. Tempat kerja ini hendaknya memiliki penyaluran darah yang baik, karena obat hanya dapat melakukan aktivitasnya bila kosentrasi setempatnya cukup tinggi selama waktu yang cukup lama. Obat dapat terakumulasi dalam sel jaringan karena ditransport secara aktif, atau lebih sering karena ikatannya dengan komponen intrasel, yaitu protein, fosfolipid, atau nukleoprotein.

Metabolisme (biotransformasi)

Adalah proses perubahan struktur kimia obat yang terjadi dalam tubuh dan dikatalisis oleh enzim. Reaksi biokimia yang terjadi dapat dibedakan atas reaksi fase I ialah oksidasi, reduksi dan hidrolisis. Reaksi ini mengubah obat menjadi metabolit yang lebih polar, bersifat inaktif, kurang aktif atau lebih aktif daripada bentuk aslinya. dan reaksi fase II (reaksi sintetik), merupakan konjugasi obat atau metabolit hasil reaksi fase I dengan substrat endogen. Ada obat yang hanya mengalami reaksi fase I saja atau reaksi fase II saja.

Enzim yang berperan dalam biotransformasi obat dapat dibedakan berdasarkan letaknya dalam sel, yaitu enzim mikrosom yang terdapat di retikulum endoplasma halus, dan enzim non-mikrosom. Keduanya terdapat di sel hati, ginjal, paru, epitel saluran cerna dan plasma. Enzim mikrosom mengkatalisis reaksi konjugasi glukoronid, sebagian besar reaksi oksidasi obat, serta reaksi reduksi dan hidrolisis. Sedangkan enzim non-mikrosom mengkatalisis reaksi konjugasi lainnya.

Ekskresi

Ginjal merupakan organ yang paling penting untuk eksresi obat. Obat yang diekskresikan bersama feses berasal dari:

  • Obat yang tidak diabsorpsi dari penggunaan oral
  • Obat yang diekskresikan melalui empedu dan tidak direabsorpsi dari usus.

Obat dapat diekskresikan melalui paru-paru, air ludah, keringat atau dalam air susu. Eksresi obat melalui ginjal menurun pada gangguan fungsi ginjal sehingga dosis perlu diturunkan atau interval pemberian diperpanjang.

2. FARMAKODINAMIK

Farmakodinamik adalah cabang ilmu yang mempelajari efek biokimiawi dan fisiologi obat serta mekanisme kerjanya. Tujuannya ialah untuk meneliti efek obat utama, mengetahui interaksi obat dengan sel dan mengetahui urutan peristiwa serta spektrum efek dan respon yang terjadi.

Mekanisme kerja obat yang kini telah diketahui dapat digolongkan sebagai berikut :

  1. Secara fisis, misalnya anastetika inhalasi, laksansia dan diuretika osmotis. Pencahar osmotis (magnesium dan natrium sulfat) lambat sekali direabsorbsi usus dan melalui osmosis menarik air dari sekitarnya. Volume isi usus bertambah besar sehingga merangsang secara mekanis dinding usus untuk memicu peristaltik dan mengeluarkan isinya.
  2. Secara kimiawi, misalnya antasida lambung. Antasida, seperti natrium bikarbonat dapat mengikat kelebihan asam lambung melalui reaksi netralisasi kimiawi.
  3. Melalui proses metabolisme, misalnya antibiotika yang mengganggu pembentukan sel kuman, sintesis protein atau metabolisme asam nukleat.
  4. Secara kompetisi (saingan), di mana dapat dibedakan dua jenis, yakni kompetisi untuk reseptor spesifik atau enzim.

EFEK PENGGUNAAN OBAT

Umumnya obat mempunyai lebih dari satu aksi atau efek. Kegunaan terapi suatu obat tergantung selektivitas aksinya, sedemikian hingga merupakan efek yang paling menonjol dan hanya pada suatu kelompok sel atau fungsi organ.

1. Efek terapi adalah efek yang digunakan untuk terapi.

Dapat dibedakan menjadi tiga jenis pengobatan, yaitu:

  1. Terapi kausal, dimana penyebab penyakit ditiadakan, khususnya pemusnahan kuman, virus atau parasit. Contoh: kemoterapeutika.
  2. Terapi simptomatis, hanya gejala penyakit yang diobati dan diringankan, penyebabnya yang lebih mendalam tidak dipengaruhi, misalnya kerusakan pada organ atau syaraf. Contoh: analgetik pada reumatik atau sakit kepala.
  3. Terapi substitusi, obat menggantikan zat yang lazimnya dibuat oleh organ yang sakit misalnya insulin pada diabetes.

Efek terapeutis obat tergantung dari beberapa faktor, antara lain dari cara dan bentuk pemberiannya, sifat fisikokimiawinya yang menentukan reabsopsi, biotransformasi dan ekskresinya dalam tubuh. Begitu pula dari kondisi fisiologi dari si pemakai (fungsi hati, ginjal, usus dan peredaran darah). Faktor individual lainnya, misalnya etnik, kelamin, luas permukaan badan dan kebiasaan badan juga dapat memegang peranan penting.

2.   Efek obat yang tidak diinginkan :

  1. Efek samping, menurut definisi WHO (1970) adalah segala sesuatu khasiat yang tidak diinginkan untuk tujuan terapi yang dimaksudkan pada dosis yang dianjurkan. Seperti CTM efek sampingnya adalah menidurkan. Efek samping pada suatu saat mungkin merupakan kerja utama yang diinginkan pada keadaan lain. Misalnya antihistaminika yang efek sedatifnya semula dianggap sebagai efek samping yang tidak diinginkan.
  2. Idiosinkrasi adalah peristiwa dimana suatu obat memberikan efek yang secara kualitatif total berlainan dari efek normalnya. Umumnya hal ini disebabkan oleh kelainan genetis pada pasien bersangkutan, seperti pada penderita anemia hemolitis setelah pengobatan malaria dengan primaquin atau derivatnya.
  3. Alergi. Bila seseorang diberikan Penicillin pertama kali secara topikal sebagian kecil akan direabsorpsi oleh kulit dan di dalam darah bergabung dengan salah satu protein. Penicillin disebut hapten dan kompleks penicillin-protein dinamakan antigen, yang mendorong tubuh untuk membentuk zat-zat penangkis tertentu, yaitu antibodi. Pasien ini telah disensitasi dan menjadi hipersensitif. Bila pada kesempatan lain ia diberi penicillin lagi, kemungkinan besar akan terjadi reaksi khusus antara antigen dan antibodi tersebut, yang dinamakan reaksi alergi. Gejalanya yang sering tampak pada kulit adalah urtikaria (gatal dan bentol-bentol) serta rash (kemerah-merahan). Pada umumnya gejala alergi sudah ditimbulkan oleh dosis yang amat kecil dan tidak dapat dikurangi dengan menurunkan dosisnya.
  4. Fotosensitasi adalah kepekaan berlebihan untuk cahaya akibat penggunaan obat terutama secara lokal. Untuk menghindarkan sebanyak mungkin timbulnya alergi kontak, dianjurkan agar jangan menggunakan secara lokal alergen-alergen kontak terkenal, yaitu “lima A” : antibiotik, antiseptik, anestesi lokal, antimikotika, antihistaminika.
  5. Efek toksis adalah aksi tambahan yang lebih derajatnya dibanding efek samping. Pada umumnya, hebatnya reaksi toksis berhubungan langsung dengan tingginya dosis: bila dosis diturunkan, maka efek toksis dapat dikurangi pula.
  6. Efek teratogen adalah efek dari obat yang pada dosis terapeutik untuk ibu, mengakibatkan cacat pada janin.

DOSIS OBAT

Dosis obat diberikan untuk menghasilkan efek yang diharapkan. Obat biasa diberikan dalam dosis biasa atau dosis rata-rata, yang cocok untuk sebagian besar penderita. Untuk penderita lainnya, dosis biasa ini terlalu besar sehingga menimbulkan efek toksis atau terlalu kecil sehingga tidak efektif. Faktor-faktor yang mempengaruhi respon penderita terhadap obat:

1. Umur

Umur dapat mempengaruhi pengikatan obat terhadap reseptor. Pengikatan obat terhadap albumin di plasma rendah pada neonatus dibandingkan dengan orang dewasa karena pengikatan terhadap alpha-1-acid glycoprotein (“reaktan pada fase akut” yang dilepaskan sebagai respon terhadap peradangan dan trauma).

Pembersihan obat-obatan oleh ginjal biasanya juga dipengaruhi oleh umur. Fungsi ginjal pada saat baru lahir rendah, terutama pada kelahiran prematur dan biasanya meningkat pada dua minggu setelah lahir. Pada usia 65 tahun, fungsi ginjal menurun 30%.

Umur juga mempengaruhi metabolisme obat di hati. Pada saat lahir, kebanyakan obat memiliki enzim metabolisme tetapi aktivitas enzim tersebut rendah, sehingga bisa menyebabkan kumulasi obat dan menjadi toksis.

2. Berat Badan

Beberapa dosis obat dipengaruhi oleh berat badan pasien, yang dinyatakan dalam mg/kg. Tetapi pemberian obat pada penderita obesitas dan malnutrisi tidak disadari pengaruhnya. Jika obat yang larut dalam air, akan mengalami distribusi yang terbatas ke dalam lemak begitu juga dengan volumenya. Total berat badan akan lebih relevan untuk obat yang larut dalam lemak. Kegunaan total berat badan menentukan regimen dosis obat yang dapat menyebabkan efek toksis pada penderita obesitas.

3. Jenis kelamin

Dosis dapat berbeda jika obat yang diberikan pada indikasi jenis kelamin tertentu. Contohnya, buserelin untuk endometriosis (300μg intranasal 3 kali sehari) atau untuk kanker prostat (200μg intranasal 6 kali sehari).

4. Fungsi Ginjal

Karena banyak obat sebagian atau keseluruhannya diekskresikan oleh ginjal sehingga fungsi ginjal yang menurun dapat mengurangi ekskresi dan metabolit obat aktif sehingga meningkatkan kadar dalam darah dan jaringan sehingga menimbulkan efek toksis. Di samping itu, dapat mengurangi kadar protein plasma (sindrome nefrotik) atau mengurangi ikatan protein plasma sehingga meningkatkan kadar obat bebas dalam darah, mengubah keseimbangan elektrolit dan asam basa, meningkatkan sensitivitas jaringan terhadap beberapa obat dan mengurangi atau menghilangkan efektivitas beberapa obat.

5. Fungsi Hati

Tidak seperti pada penyakit ginjal, dimana perkiraan bersihan kreatinin memberi petunjuk untuk perubahan dalam pemberian dosis obat, indikator penyakit hati, seperti tingginya enzym hati, konsentrasi albumin dalam serum rendah dan pembekuan yang abnormal, tidak berhubungan langsung terhadap bersihan obat. Sekalipun demikian, pasien dengan chirosis berat, akan membutuhkan bersihan obat secara hepatik yang rendah untuk menghindari toksis.

6. Faktor genetik

Polimorfisme genetik memegang peranan penting untuk memproduksi isoenzym yang aktivitasnya rendah atau tidak ada sama sekali, atau untuk memperbanyak jumlah enzym dengan aktivitas tinggi memberi variasi dalam pemberian dosisi obat yang dieliminasi melalui metabolisme di hati. Sebagai tanda utama adalah isoenzym sitokrom P4502D6 (CYP2D6) yang mengkatalisis metabolisme dari obat antiaritmia, anidepresan, antipsikotik.

FARMAKOGENETIK adalah cabang ilmu farmakologi klinik yang mempelajari perubahan respon terhadap obat yang disebabkan oleh faktor genetik. Dan bertujuan mengidentifikasi perbedaan-perbedaan       respon, mengetahui sebabnya pada tingkat molekuler, dan mengembangkan cara-cara sederhana untuk mengenali orang-orangnya sehingga dosis obat yang sesuai dapat diberikan.

PENGGOLONGAN OBAT

1. MENURUT UNDANG-UNDANG

Untuk mengawasi penggunaan obat serta untuk menjaga keamanan dan ketepatan penggunaannya, maka pemerintah menggolongkan obat menjadi 4 golongan, yaitu:

  1. Obat Bebas, yaitu obat-obatan yang dapat dibeli langsung tanpa resep dokter. Obat bebas ditandai dengan lingkaran hitam dengan warna hijau di dalamnya dan juga terdapat brosur yang berisi nama obat, nama dan isi zat berkhasiat, indikasi, dosis, no. Batch dan nomor register, nama pabrik dan alamatnya, cara menyimpannya. Contohnya: tablet multivitamin.
  2. Obat Bebas Terbatas, yaitu obat keras dengan batasan jumlah dan kadar isi berkhasiat dan harus ada tanda peringatan (P) boleh dijual bebas dan disertai tanda lingkaran berwarna biru. Contoh: Antimo, tablet atau kapsul vit. E 120mg, tablet Bisacodylum (Dulcolax 10 mg)
  3. Obat Keras yaitu obat berkhasiat keras yang untuk memperolehnya harus dengan resep dokter. Terdapat lingkaran merah pada kemasan. Contoh: semua obat injeksi, antibiotika (misalnya Penicillin, tetracyclin, ampicillin dll), vitamin K, dll.
  4. Obat Narkotik. Untuk memperolehnya harus dengan resep dokter, tidak boleh diulang dan apotik diwajibkan melaporkan jumlah dan macamnya. Contoh: opium dan sediaannya (tinctura, extractum), morfin, kodein, obat bius sintetis (misalnya Dolantin, Amidon dll).

2. MENURUT SUMBER OBAT

Berdasarkan sumbernya, obat digolongkan dalam:

  1. Obat alamiah yaitu obat yang terdapat di alam baik pada tanaman, hewan maupun alam. Contoh: minyak ikan, hormon mineral (S, KCl, NaCl), vit.B1, C, dll.
  2. Obat semisintetik yaitu hasil sintesis yang bahan bakunya terdapat di alam. Contoh: Morfin diubah menjadi heroin atau kodein. Penicillin diubah menjadi ampicillin dan amoxisillin.
  3. Obat sintesis murni yaitu obat yang bahan dasarnya tidak berkhasiat, tapi setelah disintesis akan didapat senyawa dengan khasiat farmakologi tertentu. Contoh: golongan analgetik-antipiretik, antihistamin dan antidiuretika.

KADALUARSA OBAT

Obat memilki masa kadaluarsa, maksudnya obat akan efektif kerjanya   pada masa tertentu. Kebanyakan obat memiliki masa kadaluarsa 2 tahun setelah diproduksi jika disimpan sesuai dengan petunjuk penyimpanan obat. Jika obat tidak disimpan sesuai yang dianjurkan, maka masa kadaluarsa obat semakin cepat.

Jika obat telah dibuka atau disimpan di tempat yang bersuhu tinggi atau di lingkungan yang kelembabannya tinggi, maka obat lebih baik dibuang. Jenis antibiotik Tetracycline dapat menyebabkan keracunan yang serius jika dikonsumsi setelah masa kadaluarsa. Obat cair kurang stabil dibandingkan tablet/bubuk/kapsul.

Namun, tidak semua orang setuju bahwa obat yang telah kadaluarsa tidak aman untuk dikonsumsi. Ada 2002 artikel kesehatan yang terdapat di Medical Letter, yang isinya dinyatakan bahwa obat yang disimpan pada  kelembaban yang tinggi atau pada keadaan buruk lainnya, obat masih baik untuk digunakan selama 1,5 sampai 9 tahun setelah masa kadaluarsa obat tersebut. Banyak juga obat yang disimpan pada kondisi yang baik, 90% potensi obat tersebut bertahan selama 5 tahun setelah masa kadaluarsa obat  tersebut.

CARA PEMAKAIAN DAN PENYIMPANAN OBAT

Beberapa aturan pemakaian obat dan artinya:

Diminum setelah makan, artinya jangan minum obat ini dengan perut kosong karena dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pada lambung. Jika anda    belum makan,   makan beberàpa buah biskuit atau beberapa potong roti dulu, kemudian baru minum obat anda.

Diminum sebelum makan, artinya minum obat ini 1 atau 2 jam sebelum makan.

Diminum tiga kali sehari, artinya obat diminum setiap 8 jam (24 jam dibagi    3 kali). Misalnya, anda minum satu tablet pada jam 07.00 Wib, berarti anda harus minum dosis berikutnya pada jam 15.00 Wib dan dosis terakhir pada jam 23.00 Wib. Hal ini perlu dilakukan karena dapat mempengaruhi efektifitas   obat tersebut pada penyakit yang sedang dialami.

Diminum dua kali sehari, artinya obat diminum setiap 12 jam (24 jam dibagi 2 kali). Contohnya, anda minum satu tablet pada jam 07.00 Wib maka satu   lagi pada jam 19.00 Wib.

Diminum setiap 4-6 jam, sesuai kebutuhan biasanya aturan ini ditulis untuk obat yang berguna dalam menghilangkan gejala-gejala penyakit, seperti batuk, pilek atau nyeri. Minum obat tersebut bila anda memerlukannya, tapi jarak    waktu anda minum obat tersebut minimal harus 4-6 jam dari waktu terakhir anda minum obat tersebut. Jika gejala-gejala tidak muncul lagi, mungkin anda  tidak perlu meminumnya lagi.

Cara menyimpan obat yang benar perlu diketahui oleh konsumen karena cara penyimpanan obat yang salah dapat menyebabkan obat mengalami perubahan kimiawi. Oleh karena itu, konsumen perlu membaca petunjuk penyimpanan yang ada dalam setiap kemasan obat. Petunjuk penyimpanan obat yang benar adalah:

  • Simpanlah obat terpisah dari bahan makanan, jangan sampai memindahkan tempat obat ke bekas tempat makanan.
  • Simpanlah obat di botol aslinya karena kemasan botolnya memang telah dirancang sedemikian rupa agar obat yang ada di dalamnya tidak rusak oleh cahaya. Untuk mencegah perubahan kimiawi, setiap obat perlu tempat tersendiri dari plastik atau gelas, warna gelap atau terang. Apabila tempat tidak sesuai, obat akan rusak.
  • Hindarkan dari panas, sinar, dan keadaan lembab (misal: jauh dari lampu, sinar matahari langsung, dapur, dan kamar mandi).
  • Jangan disimpan di kulkas, kecuali sesuai petunjuk.
  • Jangan menyimpan bermacam-macam jenis obat dalam satu tempat, meskipun bila tempat aslinya memang dari bahan yang sama. Setiap obat harus disimpan dalam tempat aslinya lengkap dengan labelnya.
  • Simpanlah obat-obat yang diminum terpisah dari obat-obat luar (tidak melalui mulut).
  • Simpanlah di luar jangkauan anak-anak (misalnya, di rak lemari yang tinggi, rak terkunci, atau di botol yang tidak bisa dibuka oleh anak-anak). Jangan menaruh obat-obatan yang secara rutin digunakan (misal: untuk diabetes, darah tinggi, atau kontrasepsi) di sebelah tempat tidur atau lemari hias, dimana anak-anak bisa dengan mudah mendapatkannya.
  • Bila obat dalam kemasan botol telah dibuka, maka batas kadaluarsa obat yang tertera pada kemasan, sudah tidak berlaku lagi. Jangan terlalu lama menyimpan obat yang telah dibuka. Obat yang telah dikeluarkan jangan dituang kembali ke dalam botolnya.
  • Usahakan obat yang steril tetap terjaga kesterilannya, misalnya untuk obat tetes mata janganlah ujung penetes obat mengenai bola mata saat kita meneteskannya.

HARGA OBAT

Dokter yang arif selalu berusaha menulis resep yang padu kesesuaian-keserasian  antara keampuhan obat menyembuhkan dengan ekonomi pasien penerima resep. Untuk keluhan dan penyakit yang sama buat pasien yang berbeda, resep boleh saja tidak sama dalam hal harga.

Jika ada obat dengan harga lebih rendah dan efektivitasnya sama, kenapa harus menulis resep dengan harga lebih tinggi (Cost-benefit, cost-effectiveness). Pilihan menulis obat generik, misalnya. Obat generik    tidak selalu berarti obat kelas dua.

Citra kebanyakan orang terhadap obat generik yang menumbuhkan anggapan salah, sehingga resep yang ditebus dinilai murah, mungkin bisa saja berefek tidak menyembuhkan. Bukan karena kinerja obatnya yang rendah, melainkan lantaran boleh jadi pasien menyangsikan obatnya.

Unsur sugesti kuat peranannya dalam proses kesembuhan pasien. Dokter yang bijak terampil mencarikan obat dengan harga seringan mungkin dan memiliki khasiat paling jitu bagi pasien kurang mampu.

Untuk pasien kurang mampu yang diberi resep yang tak terjangkau keadaan ekonominya bisa menjadi malapetaka. Bisa juga malah membuat penyakitnya tambah parah memikirkan tak mampu menebus obat. Atau resep hanya bisa ditebus sebagian, sehingga sama-sama tidak sempurna menyembuhkan penyakitnya.

BAB III

PENUTUP

3.1.      KESIMPULAN

Dosis obat yang diberikan oleh dokter sesuai dengan resep akan sama dengan dosis yang diminum pasien apabila pasien patuh terhadap apa yang disampaikan dokter. Agar kadar yang diminum mencapai tempat kerja obat maka obat pertama kali akan diabsorpsi yaitu jumlah dan kecepatan diserapnya bentuk aktif obat oleh tubuh yang dipengaruhi oleh bentuk sediaan yakni sifat fisik obat dan sifat sediaan obat, kemudian didistribusikan melalui  peredaran darah-hati ke seluruh jaringan tubuh, obat selanjutnya mengalami metabolisme dan diekskresikan melalui ginjal dan sedikit melalui paru-paru, air ludah, keringat dan air susu. Untuk mendapat efek farmakologi yang diinginkan maka kadar obat di tempat kerjanya dipengaruhi oleh efek biokimiawi dan fisiologi obat serta mekanisme kerjanya untuk meneliti efek obat utama, mengetahui interaksi obat dengan sel dan mengetahui urutan peristiwa serta spektrum efek dan respon yang terjadi. Respon  pasien terhadap obat dapat berbeda-beda disebabkan oleh umur, berat badan, jenis kelamin, fungsi ginjal, fungsi hati dan faktor genetik.

3.2. SARAN

Seorang dokter hendaknya untuk memberikan resep atau dosis obat mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:

  • Harga dan manfaat, apabila harga obat dengan manfaat yang baik tidak terjangkau maka sebagai alternatif diberikan obat generik dalam resep. Namun obat ini harus diberikan dalam waktu yang cukup lama untuk mencapai efek terapi yang diinginkan.
  • Resiko dan manfaat, resiko yang terjadi akibat penggunaan obat yang tidak sesuai atau dengan kata lain menimbulkan efek yang tidak diinginkan dari pemberian obat sehingga dapat meminimalisir efek samping.
  • Terapi optimal dan reaksi yang tidak diinginkan. Kombinasi, dosis dan lama pemberian obat dapat mengatasi efek samping dalam pemberian obat agar efek optimal terapi tercapai dan efek samping diminimalisir.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Tanu, Ian. 2005. Farmakologi dan Terapi Fakultas kedokteran Universitas Indonesia, Edisi 4. Sulisti G. Ganiswara (Ed). Jakarta: Gaya baru.
  2. Anief, Moh. 1991. Apa yang Perlu Diketahui tentang Obat.Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press.
  3. Jas, Admar. 2004. Perihal Obat dengan Berbagai Bentuk Sediaannya. Medan: Universitas Sumatera Utara Press.
  4. Roger Howards, Roy Spector. 1990. Aids to Pharmacology. London: Churchill Livingston, alih bahasa. S. bustami Zunilda. Praktis Dalam Farmakologi. Jakarta : Binarupa Aksara
  5. Kirana Rahardja, Tan Hoan Tjay. 2002. Obat-obat penting khasiat, Penggunaan dan efek-efek sampingnya, Edisi 5. Jakarta: PT. Gramedia
  6. http://www.pjoneline.com
  7. http://www.wikipedia.org/pharmacogenetic
  8. http://www.info-sehat.com
  9. http://www.medicastore.com
  10. http://www.pdpersi.co.id
  11. http://www.kompas.com
  12. http://www.pfizerpeduli.com
  13. http://www.aurorahealth.org/article
  14. http://www.becomeyoungagain.com
  15. http://www.montereyherald.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s