Cabai, si pedas yg nikmat

13193-tips-menyimpan-cabai-segarCabai atau cabe merah atau lombok (bahasa Jawa) adalah buah dan tumbuhan anggota genus Capsicum. Buahnya dapat digolongkan sebagai sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana digunakan. Sebagai bumbu, buah cabai yang pedas sangat populer di Asia Tenggara sebagai penguat rasa makanan. Cabai atau lombok termasuk dalam suku terong-terongan (Solanaceae) dan merupakan tanaman yang mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi. Pada makalah ini akan dibahas tentang keuntungan dan kerugian dari zat aktif yang terdapat pada cabai yaitu Capsaicin, dimana zat inilah yang sering memberikan efek yang diinginkan oleh masyarakat sebagai obat tradisional.

Cabai sebagai fitofarmaka

Fitofarmaka adalah sediaan obat yang telah dibuktikan keamanannya dan khasiatnya, bahan bakunya terdiri dari simplisia atau sediaan galenik yang telah memenuhi persyaratan yang berlaku. Istilah cara penggunaannya menggunakan pengertian farmakologik seperti diuretik, analgesik, antipiretik dan sebagainya. Syarat suatu obat tradisional menjadi fitofarmaka adalah aman, klaim khasiat berdasarkan uji klinis, telah dilakukan standarisasi terhadap bahan baku yang dipergunakan, dan memenuhi persyaratan mutu yang berlaku. Sedangkan fitokimia adalah suatu bahan dari tanaman (phytos = tanaman), yang dapat memberikan fungsi-fungsi fisiologis untuk pencegahan penyakit. Bahan yang dimaksud adalah senyawa kimia (chemical = kimia) berupa komponen bioaktif yang dapat digunakan untuk pencegahan atau pengobatan penyakit. Dalam hal ini adalah Capsaicin yang terdapat dalam cabai.

Sekarang telah ditemukan mungkin 400 jenis cabai yang telah tumbuh dan merupakan cabai yang telah tumbuh paling luas di beberapa negara, diantaranya di bagian timur, china, jepang, thailand, dan indonesia sampai india sampai meksiko.

Faktanya cabai selain sering digunakan sebagai bumbu, ternyata cabai juga sering digunakan sebagai obat tradisional. Cabai mengandung Capsaicin yang memiliki banyak manfaat. Tidak perlu susah-susah diolah, hanya dengan dikonsumsi saja, cabai juga telah memberikan efek yang positif, salah satu diantaranya adalah cabai merupakan bahan yang banyak mengandung vitamin C, dimana cabai menempati urutan ke-2 setelah jambu.

Cabai banyak mengandung vitamin A dan C serta mengandung minyak atsiri capsaicin, yang menyebabkan rasa pedas dan memberikan kehangatan panas bila digunakan untuk rempah-rempah (bumbu dapur). Di dalam Cabai juga terdapat Bioflovanoid yang merupakan pigmen tumbuhan yang mampu mencegah kanker (antioksidan).

Kandungan Cabai antara lain:

  • Energi 31,00kal
  • Protein 71,00g
  • Lemak0,30g
  • Karbohidrat 7,30g
  • Kalsium 29,00mg
  • Fosfor 24,00mg
  • Serat 0,30g
  • Besi 0,50mg
  • Vit A 71,00RE
  • Vit B10.05mg
  • Vit B2 0,03mg
  • Vit C18,00mg
  • Niacin 0,20mg
  • Biji mengandung solanine, solamidine, solamargine, solasodine, solasomine, dan steroid saponin (kapsisidin)
  • Bioflavonoid

Jenis-jenis cabai diantaranya adalah:

  • Cabe manis

Cabai dengan ukuran 6-8 cm ini memiliki rasa pedas yang ringan bahkan bisa diberikan kepada anak-anak. Cabai ini berwarna kuning kehijauan

  • Cabe rawit

merupakan jenis cabai terkecil yang memiliki panjang sekitar 1-2 cm. Warna cabai bisa dari warna kuning ke orange dan merah. Rasa pedas dari cabai jenis ini sangat pedas dan kadang-kadang tidak berbiji. Umumnya di konsumsi oleh masyarakat Thailand, china, Indonesia, Malaysia, India atau spanyol

  • Cabai lonceng

Bentuk cabai ini menyerupai sebuah lonceng. Warna dari cabai ini adalah merah dan hijau. Warna merah memiliki rasa yang lebih pedas dibandingkan dengan warna hijau.

  • Cabai hijau

merupakan cabai hijau dengan panjang lebih kurang 6-8 cm dengan ujung tajam.rasa pedasnya tidak terlalu pedas sehingga bisa di konsumsi oleh orang yang tidak biasa mengkonsumsi cabai

  • Cabai merah

Memiliki ukuran yang sama dengan cabai hijau, namun lebih menyengat.

  • Cabai mexico

salah satu dari cabai terpedas. Warna dari cabai adalah hijau terang, dan memiliki panjang sekitar 6-8cm, dan memiliki ujung tajam.

  • Cabai jalapeno

memiliki warna merah tua atau hijau. Cabai ini memiliki daging yang tebal dan ujung yang tumpul. Ini juga merupakan salah satu cabai yang pedas dan cabai yang terkenal paling pedas di dunia dan tercatat di Guinness book of records yaitu Red savina habanero dengan ukuran 577 ribu unit Namun sekarang telah dikalahkan oleh Naga jolokia yang mencapai 855 ribu Scoville.

Capsaicin merupakan zat alami yang terkandung dalam cabai pedas dari golongan Capsicum.

Capsaicinoid

Capsaicin adalah capsaicinoid yang utama didalam cabai yang diikuti oleh dihydrocapsaicin. Dua campuran ini juga adalah capsaicinoids yang dua kali lebih panas dari nordihydrocapsaicin, homodihydrocapsaicin, dan homocapsaicin.

Jenis Capsaicinoid Abbrev. Persentase
kandungan
rata-rata
Skala
Scoville
Capsaicin C 69% 15,000,000
Dihydrocapsaicin DHC 22% 15,000,000
Nordihydrocapsaicin NDHC 7% 9,100,000
Homodihydrocapsaicin HDHC 1% 8,600,000
Homocapsaicin HC 1% 8,600,000

Tidak larut dalam air

Capsaicin adalah zat nonpolar, tidak bisa dicampur air, persis seperti minyak. Jadi jika terasa pedas tidak akan sembuh dengan meminum air karena Capsaicin tidak larut, bahkan dengan air Capsaicin bisa merata di dalam rongga mulut. Cara terbaik menghilangkan pedas adalah dengan lemak atau minyak, alkohol dan asam. Kedua zat itu melarutkan Capsaicin sehingga mudah lenyap dari dalam mulut.

Farmakokinetik Capsaicin

Capsaicinoid diabsorbsi di lambung dan dimetabolisme didalam hati. Dalam penelitian secara in vitro dan in vivo, Capsaicinoid dimetabolisme dalam beberapa cara, diantaranya:

  1. Dihidrolisis oleh ikatan asam amida dan deaminasi oksidatif dari
  2. Dihidroksilasi oleh cincin vanillyl, kemungkinan melalui epoksidasi.
  3. 1 elektron dioksidasi oleh cincin hidroksil membentuk radikal phenoxy dan dimer
  4. Dioksidasi pada sisi terminal rantai karbon.

Dalam 48 jam setelah diberikan pada tikus, 8,7% diekskresikan dalam bentuk tidak berubah di urin dan 10% pada feses. Metabolit yang ditemukan pada urin diantaranya vanillylamine (4.7%), vanillin (4.6%) vanillyl alcohol (37.6%) dan vanillic acid (19.2%) dalam bentuk bebas atau sebagai glucuronides

Farmakodinamik Capsaicin

Capsaicin memberikan rasa panas dengan cara meningkatkan permeabilitas membrane terhadap kation seperti kalsium dan natrium. Secara spesifik Capsaicin berikatan dan mengaktifkan serat A-delta bermielin, dan serat C yang tidak bermielin.

Capsaicin berinteraksi dengan reseptor Vanilloid (VR1) pada saraf afferen sensorik. VR1 merupakan gerbang kanal kation dari famili TRP (Transient Receptor Potential), diregulasi oleh rangsangan yang berbahaya. TRP Pemaparan yang berkepanjangan terhadap Capsaicin merangsang dan mendesintesis kanal ini. Capsaicin juga menyebabkan deplesi lokal dari substansi P pada ujung saraf sensorik, yang merupakan neuropeptida endogen dimana substansi P ini terlibat dalam persepsi sensorik dan transmisi rasa sakit. Dengan kata lain, aplikasi lokal Capsaicin akan mengurangi rasa sakit dengan cara memberikan rangsangan yang berlebihan dan merusak nociseptor dimana Capsaicin itu berikatan.2

Namun penelitian terbaru mengatakan bahwa yang menghilangkan rasa sakit bukanlah Capsaicin melainkan suatu zat yang disebut QX-314. Pada mulanya Capsaicin hanya berfungsi untuk membuka pori-pori yang disebut TRPV1 kanal pada membran dari sel saraf, kemudian QX-314 masuk dan menghambat aktivitas elektrik sel secara selektif. TRPV1 bertindak sebagai reseptor untuk menanggapi cannabinoid endogen.

Kegunaan Capsaicin

Capsaicin oleh FDA telah terbukti digunakan sebagai neuralgia posterapi, sakit sendi dan otot (seperti arrhitmia)1, oral mucositis, herpes (shingles), nyeri atipikal pada wajah dan kronik diabetik neuropati yang sangat menyakitkan, walaupun efektifitas untuk menghilangkan rasa sakit masih diperdebatkan.2 famili capsicum ini memiliki kadar vitamin C yang tinggi. Famili ini ternyata juga terbukti dalam menjaga kemungkinan terjadinya pengerasan pembuluh darah (atheriosclerosis), sehingga mengurangi resiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah. Karena Capsaicin juga dapat menurunkan tingkat oksidasi lipoprotein dalam serum darah. Bioflovanoid yang merupakan pigmen tumbuhan yang mampu mencegah kanker (antioksidan).

Kerugian Capsaicin

Capsaicin terbukti meningkatkan kasus kanker gaster di mexico dalam studi case-controlnya. Mexico merupakan salah satu negara terbesar yang mengkonsumsi cabai dalam jumlah banyak. Selain itu di India, pengkonsumsi cabai dalam jumlah banyak ini juga meningkatkan faktor resiko dari kanker rongga mulut, faring, esofagus, dan laring. Dalam penelitiannya secara in vivo pada tikus, marmut dan binatang percobaan lainnya, ataupun secara in vitro, ternyata Capsaicin dapat menyebabkan genotoksisitas, dan karsinogenisitas.

  1. Pada akut toksisitas tikus mengalami paralisis otot-otot pernafasan dan kerusakan berat pada mukosa duodenum.
  2. Pada subakut/ subkronik toksisitas, Capsaicin menyebabkan hiperemesis ringan pada hepar, dan penebalan pada mukosa saluran cerna, kemudian kerusakan pada hepar semakin memburuk dan berlanjut ke sirosis hepatis.
  3. Pada kronik toksisitas/ karsinogenisitas, sirosis hepar tersebut berubah menjadi hepatomas, multiple cystic cholangiomas, solid adenomas atau adenocarcinomas pada kantung empedu, selain itu pada saluran cerna, berkembang menjadi benign polypoid adenomas pada caecum. Dan dampak buruk pada renal berupa renal cell adenoma.

Setelah melalui beberapa penelitian, terbuktikan bahwa Capsaicin merupakan promoter terbentuknya:

  • diethylnitrosamine, enzim yang menginduksi terbentuknya kanker pada hati,
  • methyl-acetoxy methylnitrosamine dan benzene hexachloride, enzim yang menginduksi terbentuknya kanker pada lambung dan hati
  • N-methyl-N-nitrosoguanidine yang menginduksi terjadinya kanker lambung.

Capsaicin memberikan efek sensasi panas dan iritasi lokal pada kulit.

Capsaicin dapat memperburuk batuk-batuk yang dipicu oleh obat anti hipertensi ACE-inhibitor2.

Pemanfaatan Tanaman Cabai

Cabai didalam masyarakat sering digunakan sebagai bumbu, namun bukan berarti cabai tidak memliki kerugian. Selain sifatnya yang merusak nociseptor, ternyata cabai dalam hal ini biji cabai ternyata dapat menyebabkan appendicitis, hal tersebut dikarenakan biji cabai tidak dapat dicerna oleh tubuh, hal ini terbukti bahwa ternyata biji cabai masih terdapat pada feses. Diameter biji cabai yang kecil tersebut dapat masuk kedalam lumen appendix dan menyebabkan obstruksi yang kemudian berlanjut kepada reaksi peradangan akut, kemudian peradangan tersebut berlanjut dan menyebar menjadi appendicitis.

Cabai juga dipercaya dapat menghilangkan gatal-gatal, rasa panas yang ditimbulkannya menutupi rasa gatal seperti tumpang tindih.

Pada suku jawa ternyata cabai dipercaya dapat meningkatkan kualitas sex, terutama untuk cabai jawa.

Pengkonsumsi Cabai memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat dibandingkan dengan yang tidak mengkonsumsinya. Hal ini dikarenakan cabai memiliki vitamin C yang tinggi. Namun tetap saja kualitas cabai bergantung pada beberapa faktor yang mempengaruhi tanamannya, seperti lingkungannya.dan juga hygine dari buah cabai harus diperhatikan, karena bisa memungkinkan parasit untuk berkesempatan menginfeksi manusia.

Buah Cabai juga digunakan untuk :

  • menambah nafsu makan,
  • menormalkan kembali kaki dan tangan yang lemas,
  • batuk berdahak,
  • melegakan rasa hidung tersumbat pada sinusitis
  • pembersih paru
  • pengobatan bronchitis
  • pengobatan masuk angin
  • kejang perut, muntah-muntah, perut kembung, mulas,
  • disentri, diare,
  • sukar buang air besar pada penderita penyakit hati,
  • sakit kepala, sakit gigi,
  • batuk, demam,
  • hidung berlendir,
  • lemah syahwat,
  • sukar melahirkan,
  • neurastenia, dan
  • tekanan darah rendah

Bagian akar dapat digunakan untuk:

  • kembung, pencernaan terganggu,
  • tidak dapat hamil karena rahim dingin,
  • membersihkan rahim setelah melahirkan,
  • badan terasa lemah,
  • stroke,
  • rematik, gout, dan nyeri pinggang.

Daun dapat digunakan untuk mengatasi:

  • kejang perut dan
  • sakit gigi.

REFERENSI :

(1). Powers AC, Diabetes Mellitus. In: Kasper, Hauser, Braunwald, Longo, Fauci, Jameson, editors. Harrison’s principles of internal medicine. 16thEd. United States of America: Mc Graw-Hill Companies, Inc; 2005. p. 2044, 166.

(2). Fox LP, Merk HF, Bickers DR, Dermatology Pharmacology. In: Goodman and Gilman’s The Pharmacological Basic of Theurapeutics. Brunton LL, Lazo JS, Parker KL, editors. 11thEd. United States of America: Mc Graw-Hill Companies, Inc; 2006. p. 322, 809, 1703.

(3). Chrousos GP. Adrenocorticosteroids and Adrenocortical Antagonists. In: Katzung BG. Basic & Clinical Pharmacology. 9thEd. United States of America: Mc Graw-Hill Companies, Inc; 2004. p. 85.

(4). Capsaicin. Wikimedia Foundation, Inc. Last Updated: 2008 January 14. Available from: http://id.wikipedia.org/wiki/Capsaicin.

(5). Davidson MW. Capsaicin. Florida State University. Last Updated: 2004 March 04. Available from: “

(6). Opinion of the Scientific Committee on Food on Capsaicin. EUROPEAN COMMISSION HEALTH & CONSUMER PROTECTION DIRECTORATE-GENERAL. Last Updated: 2002 February 26. Available from: “http://ec.europa.eu/food/fs/sc/scf/out120_en.pdf

(7). Colin Nickerson. That lively pepper may help dull the pain Ingredient is central to new anesthetic. The New York Times Company. Last Updated: 2007 October 4. Available from: “http://www.boston.com/yourlife/health/articles/2007/10/04/that_lively_pepper_may_help_dull_the_pain/

(8). Wolf. Chilli peppers may be the best pain-busters. Vijay Technologies. Last Updated: 2000-08. Available from: “www.andhranews.net

(9). Solomon C. Chilli. New Holland Publishers. Last Updated: 1998. Available from: http://www.asiafood.org/glossary_2.cfm?wordid=3359.

(10).Blumenthal M. Effect of Chilli Pepper Ingestion on Lipoprotein Oxidation in Men and Women. American Botanical Council; Last Updated: 2007 March 30. Available from: “http://content.herbalgram.org/wholefoodsmarket/herbclip/review.asp?i=44826.

(11).Laksmiarti T, Maryani H. Tetap Sehat di Usia Lanjut Dengan Gizi Sehat. Horison: Available from: “http://www.tempointeraktif.com/medika/arsip/092002/hor-1.htm

(12).Best B.Phytochemicals as Nutraceuticals. Last Updated: 2005. Available from: “http://www.benbest.com/nutrceut/phytochemicals.html.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s