Efek Monosodium Glutamate (MSG) pada Ibu Hamil

Monosodium Glutamate (MSG) atau yang biasa disebut vetsin atau michin, seringkali digunakan masyarakat tanpa tahu efek sampingannya yang berbahaya bagi kesehatan tubuh terutama kesehatan anak-anak.1

Diduga, akumulasi terus menerus dalam dosis rendah ini yang perlu diwaspadai. Di sisi lain, sebenarnya berusaha beralih ke penyedap rasa alami, memang lebih baik. Meski begitu, bagi yang sudah terbiasa memang tidak mudah, karena ada semacam kecanduan terhadap efek MSG ini terhadap reseptor di otak pemberi rasa sedap.2

Mensikapi hasil penelitian yang masih diliputi kontroversi, ada satu kekhawatiran bahwa efek MSG ini memang bersifat lambat. Seperti pada penelitian terhadap hewan, efek tidak terjadi dalam jangka pendek, tetapi setelah konsumsi jangka panjang meski dalam dosis rendah. Sayang penelitian jangka panjang tentu saja sulit dilakukan pada manusia.2

Artikel ini bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang efek MSG terhadap wanita hamil, di mana MSG akan membawa efek buruk jika dikonsumsi oleh manusia secara berlebihan.

GLUTAMATE

Glutamate adalah sejenis asam amino yang juga berfungsi sebagai neurotransmitter eksitotorik. Ia sebenarnya merupakan suatu neurotransmitter yang penting di mana fungsinya membolehkan komunikasi antara neuron dan sel-sel di otak. Terdapat reseptor glutamate di setiap organ penting di tubuh manusia, dan paling banyak terdapat di otak.8

Glutamate alami terdiri dari dua asam amino – asam glutamate dan glutamine, yand terikat kepada molekul protein di makanan. Di dalam tubuh manusia, protein ini dimetabolisme perlahan-lahan dan diabsorpsi secara perlahan.8

MSG ( Monosodium Glutamate, yang merupakan garam natrium berasaskan glutamate) buatan manusia mengandung kadar glutamate yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan yang wujud secara alami di makanan seharian kita. MSG tidak terikat kepada molekul protein – ia bebas dan oleh karena itu ia diabsorpsi oleh tubuh kita pada kadar yang lebih cepat dari glutamate alami.8

Apabila konsumsi glutamate berlebihan, tubuh biasanya mempompa glutamate berlebihan ini keluar dari neuron, ke sel-sel pembantu yang dil luar – astrosit. Walaubagaimanapun, jika kadar glutamate adalah terlalu tinggi, seperti yang berlaku apabila kita menkonsumsi MSG, tubuh tidak bisa mempompa glutamate berlebihan ini, dan neuron-neuron yang terstimulasi secara berterusan ini akan mati. (eksitotoksik)8

Efek ini sangat menonjol di hipotalamus dan lobus temporalis di otak manusia. Inilah bagian otak yang mengontrol fungsi tubuh seperti memori, fungsi kognitif, sikap, emosi, imunitas, hormonal, pubertas, dan lain-lain.8

Jadi konsumsi MSG ini secara tidak langsung dapat mengefek seluruh tubuh manusia, dan haruslah diberi perhatian yang serius.

MONOSODIUM GLUTAMATE (MSG)

Monosodium Glutamate adalah sejenis garam natrium berasaskan glutamate yang dipergunakan sebagai sejenis bahan tambahan makanan dan dipasarkan secara umum sebagai “penambah perisa”. Nama-namanya yang lain termasuk :

  • natrium glutamat
  • penambah perisa 621
  • Kod bahan tambahan makan EU: E621
  • Kod HS: 29224220
  • Nama IUPAC: Natrium (2S)-2-amino-5-hidroksil-5-okso-pentanoat

MSG ditemui dan dipatenkan pada tahun 1909 oleh Perbadanan Ajinomoto di Jepun. Dalam bentuk tulennya, ia merupakan sejenis serbuk berhablur putih, tetapi apabila dilarut di dalam air (atau air liur), ia berpisah dengan pantas menjadi ion-ion natrium dan glutamat yang bebas. Glutamat ialah anion asid glutamik, sejenis asam amino yang wujud secara semula jadi.

Monosodium Glutamate adalah zat penambah rasa pada makanan yang dibuat dari hasil fermentasi zat tepung dan tetes dari gula beet atau gula tebu. Ketika MSG ditambahkan pada makanan, ia memberikan fungsi yang sama seperti Glutamate yaitu memberikan rasa sedap pada makanan. MSG sendiri terdiri dari air, sodium dan Glutamate.3

SIFAT KIMIA

Di bawah keadaan-keadaan suhu dan tekanan yang piawai (SATP), MSG secara amnya merupakan sejenis sebatian yang stabil, tetapi tidak serasi dengan agen-agen pengoksida yang kuat. Bagaimanapun, membakar MSG menghasilkan karbon monoksida, karbon dioksida, dan oksida-oksida nitrogen. Terdapat dua jenis isomer enantiomer kiral untuk monosodium glutamat, tetapi hanya L-glumat yang wujud secara semula jadi dipergunakan sebagai penambah perisa.4

FARMAKOKINETIK

Pada konsumsi MSG, asam glutamat bebas yang dihasilkan sebagian akan terikat di usus, dan selebihnya dilepaskan ke dalam ke darah. Selanjutnya menyebar ke seluruh tubuh termasuk akan menembus sawar darah otak dan terikat oleh reseptornya. Asam glutamat bebas ini bersifat eksitotoksik sehingga dihipotesiskan akan bisa merusak neuron otak bila sudah melebihi kemampuan otak mempertahankannya dalam kadar rendah.2

Hasil penelitian menunjukkan, glutamat hanya akan menembus placenta bila kadarnya dalam darah ibu mencapai 40 – 50 kali lebih besar dari kadar normal. Itu artinya mustahil kecuali glutamat diberikan secara intravena. Sementara kalau ibu menyusui menyantap MSG 100 mg/kg berat badan, mungkin kadar glutamat dalam darahnya akan naik, tetapi tidak dalam ASI.5

FARMAKODINAMIK

MSG merangsangkan reseptor-reseptor yang terletak di tunas rasa, umpamanya reseptor T1R1/T1R3 asid amino atau reseptor-reseptor glutamat yang lain seperti reseptor-reseptor metabotropik (mGluR4 dan mGluR1) yang mencetuskan rasa yang dikenali sebagai umami, salah satu daripada lima rasa asas. Perkataan umami merupakan kata pinjaman daripada bahasa Jepun yang juga dirujuk sebagai “tidak manis” (bahasa Inggeris: savoury) atau “berisi” (bahasa Inggeris: meaty).4

DOSIS

Glutamate

Glutamate adalah asam amino (amino acid) yang secara alami terdapat pada semua bahan makanan yang mengandung protein. Misalnya, keju, susu, daging, ikan dan sayuran. Glutamate juga diproduksi oleh tubuh manusia dan sangat diperlukan untuk metabolisme tubuh dan fungsi otak. Setiap orang rata-rata membutuhkan kurang lebih 11 gram Glutamate per hari yang didapat dari sumber protein alami.1

MSG

Di Amerika Serikat glutamat bebas yang dimakan sebagai MSG setiap hari kira-kira 1/1000 kali dari jumlah glutamat yang berada dalam tubuh termasuk yang terdapat dalam protein tubuh. Konsumsi individual berkisar antara 0.5 – 1 gram/hari. Tambahan asupan glutamat dari makanan dalam bentuk protein adalah kurang lebih 20 gram.6

Batasan aman yang pernah dikeluarkan oleh badan kesehatan dunia WHO (World Health Organization), asupan MSG per hari sebaiknya sekitar 0-120 mg/kg berat badan. Jadi, jika berat seseorang 50 kg, maka konsumsi MSG yang aman menurut perhitungan tersebut 6 gr (kira-kira 2 sendok teh) per hari. Rumus ini hanya berlaku pada orang dewasa. WHO tidak menyarankan penggunaan MSG pada bayi di bawah 12 minggu.5

MSG mempunyai efek negatif terhadap tubuh jika digunakan secara berlebihan. 12 gram MSG per hari dapat menimbulkan gangguan lambung, gangguan tidur dan mual-mual. Bahkan beberapa orang ada yang mengalami reaksi alergi berupa gatal, mual dan panas. Tidak hanya itu saja MSG juga dapat memicu hipertensi, asma, kanker serta diabetes, kelumpuhan serta penurunan kecerdasan.3

FOOD AND DRUG ADMINISTRATION (FDA)

Tahun 1970 FDA menetapkan batas aman konsumsi MSG 120 mg/kg berat badan/hari yang disetarakan dengan konsumsi garam. Mengingat belum ada data pasti, saat itu ditetapkan pula tidak boleh diberikan kepada bayi kurang dari 12 minggu.2

Di tahun 1986, Advisory Committee on Hypersensitivity to Food Constituent di FDA menyatakan, pada umumnya konsumsi MSG itu aman, tetapi bisa terjadi reaksi jangka pendek pada sekelompok orang. Hal ini didukung juga oleh laporan dari European Communities (EC) Scientific Committee for Foods tahun 1991. Untuk itu, FDA memutuskan tidak menetapkan batasan pasti untuk konsumsi MSG. Usaha penelitian masih dilanjutkan, bekerja sama dengan FASEB (Federation of American Societies for Experimental Biology) sejak tahun 1992.2

Dalam kontak tahun 1992 itu, pihak FDA telah meminta FASEB untuk membuat penelitian dan mencari jawaban untuk 18 soalan yang berkaitan dengan :

*Kemungkinan peranan MSG dalam memicu kompleks ‘MSG Simptom’

*Kemungkinan peranan glutamate dalam diet seharian yang menyebabkan lesi otak dan kerusakan sel saraf

*`Underlying conditions’ yang menpredisposisi efek samping MSG terhadap seseorang

*Jumlah konsumsi MSG dan factor lain yang bisa member efek terhadap respon seseorang terhadap MSG

*Kualiti data saintifik dan data penelitian sebelumnya

Pada 31 Juli 1995, pihak FASEB telah menghantar laporan akhir mereka ke FDA. Antara isi laporan tersebut adalah :

Ada sejumlah populasi yang tidak diketahui persentasenya yang akan memberikan reaksi terhadap MSG dan mendapat suatu keadaan yang disebut sebagai “MSG Symptom Complex”, yang ditandai dengan gejala-gejala sepertti berikut :

    • kederiaan panas pada tengkuk, lengan, dan dada
    • kederiaan kebas pada tengkuk yang terpancar ke lengan dan bahagian belakang
    • kederian-kederiaan sesemut, panas, dan kelemahan pada muka, pelipis, bahagian belakang atas, leher, dan lengan
    • tekanan atau ketegangan otot muka
    • sakit dada
    • sakit kepala
    • rasa loyo
    • denyutan jantung yang cepat
    • bronkospasma (kesulitan bernafas)
    • mengantuk
    • kelemahan

Tiada bukti bahawa MSG atau glutamate menyebabkan lesi otak atau kerusakan sel saraf, dan penyakit-penyakit yang berkait dengannya dalam jangka masa panjang.

KAJIAN TERHADAP HEWAN

Menurut Jurnal Brain Research, pemberian MSG 4 mg/g terhadap tikus hamil hari ke 17-21 menunjukkan bahwa MSG mampu menembus plasenta dan otak janin menyerap MSG dua kali lipat daripada otak induknya. Juga 10 hari setelah lahir, anak-anak tikus ini lebih rentan mengalami kejang daripada yang induknya tidak mendapat MSG. Pada usia 60 hari, keterampilan mereka juga kalah dari kelompok lain yang induknya tidak mendapat MSG.2

Pada binatang percobaan juga, terlihat sakarin (pemanis buatan) bersifat racun bagi janin. Meskipun hal ini masih perlu penelitian yang lebih intens, sebaiknya ibu hamil berhati-hati ketika memilih makanan atau minuman kemasan yang mengandung sakarin.7

KAJIAN TERHADAP MANUSIA

Sejauh ini, belum banyak penelitian langsung terhadap manusia. Hasil dari penelitian dari hewan, memang diupayakan untuk dicoba pada manusia. Tetapi hasil-hasilnya masih bervariasi. Sebagian menunjukkan efek negatif MSG seperti pada hewan, tetapi sebagian juga tidak berhasil membuktikan. Yang sudah cukup jelas adalah efek ke terjadinya migren terutama pada usia anak-anak dan remaja seperti laporan Jurnal Pediatric Neurology. Memang disepakati bahwa usia anak-anak atau masa pertumbuhan lebih sensitif terhadap efek MSG daripada kelompok dewasa. Sementara untuk efek terjadinya kejang dan urtikaria (gatal-gatal dan bengkak di kulit seperti pada kasus alergi makanan), masih belum bisa dibuktikan.2

Sampai saat ini juga belum ada dampak langsung (seketika) yang menunjukkan MSG berakibat buruk pada janin dalam kandungan. Namun, pada binatang percobaan terlihat sakarin (pemanis buatan) bersifat racun bagi janin. Meskipun hal ini masih perlu penelitian yang lebih intens, sebaiknya ibu hamil berhati-hati ketika memilih makanan atau minuman kemasan yang mengandung sakarin.7

BAHAYA KEPADA MANUSIA

Jika manusia menggunakan MSG secara berlebihan, berkemungkinan bisa mengakibatkan:

Kerusakan Sel Jaringan Otak

Hasil penelitan Olney di St. Louis. Tahun 1969 ia mengadakan penelitian pada tikus putih muda. Tikus-tikus ini diberikan MSG sebanyak 0,5 – 4 mg per gram berat tubuhnya. Hasilnya tikus-tikus malang ini menderita kerusakan jaringan otak. Namun penelitian selanjutnya menunjukkan pemberian MSG yang dicampur dalam makanan tidak menunjukkan gejala kerusakan otak.5

Kendati penelitiannya menunjukkan MSG aman asal dicampur dalam hidangan, Olney masih mengingatkan kita agar sesedikit mungkin menyantap MSG atau menghindarinya sama sekali di usia muda.5

Kanker

Bisa jadi pendapat MSG menimbulkan kanker betul adanya kalau kita melihatnya dari sudut pandang berikut. Glutamat dapat membentuk pirolisis akibat pemanasan dengan suhu tinggi dan dalam waktu lama. Pirolisis ini disebut-sebut sangat karsinogenik.5

Padahal masakan protein lain yang tidak ditambah MSG pun, kata pakar, bisa juga membentuk senyawa karsinogenik bila dipanaskan dengan suhu tinggi dan dalam waktu yang lama. Karena asam amino penyusun protein, seperti triptopan, penilalanin, lisin, dan metionin juga dapat mengalami pirolisis. Dari penelitian tadi jelas cara memasak amat berpengaruh.5

Kerusakan Retina

Pada MSG dosis normal memang tidak terlihat adanya akses glutamat yang berlebihan ke retina. Tetapi meski masih dipertanyakan, penelitian menunjukkan MSG yang berlebih dapat merusak retina.5

SARAN

Penelitian terbaru menunjukkan bahawa bawang putih mempunyai efek antioksidan untuk mengobati efek toksisitas MSG. Dipercayai bahwa zat-zat aktif bawang putih dapat sebagai penetralisir efek MSG. Jadi, pemakaian bawang putih pada makanan adalah digalakkan.9

Tanpa menggunakan MSG sekalipun, kita dapat menggunakan bahan pengganti lainnya agar masakan terasa sedap. Selain menggunakan bahan makanan yang bermutu baik dan masih segar, kita dapat memberi sedikit gula pasir pada masakan, karena gula pasir juga dapat memberi efek gurih pada masakan.3

KESIMPULAN

Sampai saat ini belum ada dampak langsung yang menunjukkan MSG berakibat buruk pada wanita hamil dan janin dalam kandungan. Tetapi sebaiknya ibu hamil berhati-hati ketika memilih makanan atau minuman kemasan yang mengandung MSG.

DAFTAR PUSTAKA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s