Keracunan Insektisida

DEFINISI

Insektisida adalah racun serangga yang banyak dipakai dalam pertanian, perkebunan dan dalam rumah tangga. Keracuna insektisida biasanya terjadi karena kecelakaan, percobaan bunuh diri dan pembunuhan.

PENGGOLONGAN

Insektisida dapat dibagi menjadi 3 golongan :

  • Chlorinated hydrocarbon insecticides
  • Cholinesterase inhibitor insecticides
    • Organophospates insecticides
    • Carbamates insecticides
  • Miscellaneous pesticides

INSEKTISIDA HIDROKARBON TERKHLORINASI

Hidrokarbon terkhlorinasi adalah zat kimia sintetik yang stabil beberapa minggu sampai beberapa bulan setelah penggunaannya. Umumnya larut dalam lemak tetapi tidak larut dalam air.

Derajat toksisitas ( keracunan ) bahan-bahan hidrokarbon terkhlorinasi bervariasi tergantungt ukuran molekul, daya penguapan dan efeknya terhadap susunan syaraf pusat, baik menekan atau merangsang, tergantung keppada jenisnya dan dosisnya.

Yang termasuk golongan ini antara lain :

DDT ( Dichlorophenyl trichlorethane)

Dosis untuk manusia :

  • Toksik : 1 gr
  • Fatal : 30 gr

Dosis fatal pada binatang

  • Aldrin 2 – 5 gr
  • Dieldrin 2 – 5 gr
  • Endrin 10 mg / kg
  • Chlordane 6 gr
  • Lindane 15 – 30 gr
  • Methoxychlor 350 – 500 gr
  • Texaphene 2 – 7 gr
  • BHC ( Benzene hexa chloride ) hampir sama dengan DDT

Patofisiologi

Organochlorine bersifat neurotoksik terhadap serangga dan mamalia. Bahan ini sangat larut dalam lemak dan bisa terkumpul dijaringan tubuh yang tinggi kadar lemaknya, seperti otak dan hati. Akibatnya, kadar organochlorine yang berada didarah cenderung lebih rendah daripada jaringan lemak. Kecenderungan organochlorine yang lipofilik dapat menyebabkan gejala sistemik yang lebih lama akibat dosis yang berlebih.

Keracunan pada manusia terutama menimbulkan gejala-gejala pada SSP, jantung dan pernafasan. Cyclodiene, hexachlorodexane dan toxaphene menghambat kerja reseptor GABA dan mencegah chlorida masuk ke SSP. Hal ini meyebabkan agitasi, kebingungan dan kejang-kejang. Gejala-gejala pada jantung disebabkan tersensititasinya miokardium terhadap siklus katekolamin. Beberapa jenis hidrokarbon yang mudah menguap dapat terinhalasi atau tertelan zat racun ini dapat menimbulkan atelektasis, bronkospasme, hipoksia dan pneumonitis akibat bahan kimiawi. Pada beberapa kasus yang lebih berat, dijumpai edema paru, perdarahan dan nekrosis jaringan paru. Dalam bentuk cairan, bahan-bahan beracun ini mudah diabsorpsi melalui kulit dan saluran cerna.

Gejala keracunan

Manifestasi utama keracunan adalah muntah-muntah, tremor dan kejang-kejang

  • Keracunan ringan : merasa lelah, berat dan sakit pada tungkai, sakit kepala, parestesi pada lidah, bibir dan muka serta gelisah
  • Keracunan berat : dizzines, gangguan keseimbangan, kebingungan, midriasis, baal pada jari-jari, tremor, nausea, vomitus, fibrilasi, kejang klonik dan tonik dan kemudian disusul dengan koma.

Diagnosis Keracunan

  • Anamnesis
  • Gejala-gejala keracunan
  • Pemeriksaan laboratorium
    1. Elektrolit
    2. Faal ginjal
    3. Faal hati
    4. AGDA
    5. Urinalisis
    6. Foto thorax pada kasus aspirasi
    7. Kristalografi
    8. Thin Layer Chromatografi ( TLC )
    9. Spektrofotometri
    10. Gas chromatography

Keracunan kronis

Biopsy lemak badan yang diambil pada perut setinggi garis pinggang, sebanyak paling sedikit 50 mg lemak dan sample dimasukkna kedalam botol bermulut lebar dengan penutup dari gelas dan ditimbang teliti sampai 0,1 mg. kebanyakan orang, dalam lemak badannya terdapat insektisida hidrokarbon terkhlorinasi < 15 ppm

Pengobatan

Keracunan akut

Tindakan darurat medik :

  1. Bilas lambung dnegan air hangat 2-4 liter
  2. Emetik, sirup ipekak 15 ml, kemudian diberi minum air, susu atau sari buah. Bila dalam 15 menit tidak timbul muntah segera ulang kembali dengan takaran yang sama.
  3. Kulit yang terkontaminasi dicuci dengan air dan sabun. Pakaian yang terkena harus dilepaskan.
  4. Berikan pernafasan buatan dengan oksigen bila terdapat gangguan pernafasan.

 Tindakan umum ;

  1. Antikonvulsan, luminal 100 mg subkutan tiap jam sampai kejang teratasi atau pemberian luminal telah mencapi 500 mg. Bila kejang hebat beri sodium petobarbital 100-500 mg intra vena, kemudian berikan luminal 100 mg subkutan.
  2. Stimulan tidak boleh diberikan sperti epinefrin, karena akan menimbulkan fibrilasi ventrikel, mengingat bahwa pada keracunan insektisida golongan ini menyebabkan miokardium menjadi sensitif.

Keracunan kronis

  1. Pindahkan korban dari lingkungan pekerjaan agar tidak ter5kontak lagi dengan racun
  2. Diet tinggi karbohidrat, vitamin dan kalsium untuk mencegah nekrosis hati
  3. Bila ditemukan tremor beri luminal per oral.
  4. Untuk mencegah infeksi beri antibiotik

Keracunan ringan akan sembuh dengan sempurna. Sedangkan pada keracunan berat dengan kejang-kejang hebat dan lama penyembuhannya sukar diramalkan. Penyembuhan mungkin memerlukan waktu 2-4 minggu.

INSEKTISIDA GOLONGAN INHIBITOR KOLINESTERASE

Kebanyakan dipakai dalam pertanian, perkebunan dan rumah tangga untuk mengontrol serangga bertubuh lunak.

Terdiri dari dua komponen kimia yang berbeda yaitu ;

  • Organofosfat
  • Karbamat

Cara kerja racun

Farmakokinetik

Inhibitor kolinesterase diabsorpsi secara cepat dan efektif melalui oral, inhalasi, mukosa dan kulit.

Setelah diabsorbsi sebagian besar dieksresikan melalui urin, hampir seluruhnya dalam bentuk metabolitnya. Metabolit dan senyawa aslinya di dalam darah dan ajringan terikat pada protein. Enzim-enzim hidrolitik dan oksidatif terlibat dalam metabolisme senyawa organofosfat. Selang waktu antara absorsi dan eksresi bervariasi.

Farmakodinamik

Setelah masuk kedalam tubuh akan mengikat enzim asetil kolinesterase (AchE) sehingga AchE menjadi inaktif dan terjadi akumulasi asetilkolin.

Keadaan ini menimbulkan efek yang luas :

  1. Potensiasi aktifitas post ganglionik parasimpatis
  2. Kontraksi pupil, stimulasi otot-otot saluran pencernaan, stimulasi saliva dan kelenjar keringat , kontraksi otot bronkial, kontraksi vesika urinaria, cardiac sinus dihambat, AV Node di blok
  3. Depolarisasi yang menetap pada otot-otot skeletal, akibatnya mula-mula fasikulasi yang disusul dengan blok neuromuskular dan paralisis.
  4. Mula-mula stimulasi yang disusul dengan depresi pada sel CHS, akibatnya menghambat pusat pernafasan dan pusat kejang.
  5. Stimulasi dan blok yang bervariasi pada gangglion sehingga tekanan darah dapat turun dan aniki atau midriasis dan miosis pupil.

Kematian dapat disebabkan :

  • Kegagalan pernafasan
  • Blok jantung

Kerja asetilkolin pada :

  1. Gangglion simpatik dan parasimpatik
  2. Reseptor-reseptor parasimpatik
  3. Neuromuskular junction
  4. Medula kelenjar suprarenal
  5. Neurotransmitter sel-sel saraf

Takaran fatal untuk golongan organofosfat :

  • Malathion 1-5 gr
  • Parathion 10 mg/kg BB
  • Systox 100 mg
  • Tetraetilpirofosfat 0,4 mg/kg BB

Takaran fatal untuk golongan karbamat :

  • Aldicarb 0,9 – 1 mg / kg BB
  • Propoxur 95 mg / kg BB

Gejala-gejala keracunan

Manifestasi utama keracunan adalah gangguan pengelihatan, gangguan pernfasan dan hiperaktif gastrointestinal

Gejala keracunana akut :

Gejala-gejala timbul 30-60 menit dan mencapai maksimum dalam 2-8 jam

  1. Keracunan ringan : anoreksi, sakit kepala, pusing, lemah, ansietas, tremor pada lidah dan kelopak mata, miosis dan pengelihatan kabur.
  2. Keracunan sedang : nausea, salivasi, lakrimasi, kram perut, muntah-muntah, keringatan, nadi lambat dan fasikulasi otot.
  3. Keracunan berat : diare, pin point pupil, pupil tidak bereaksi, sukar bernafas, edema paru, sianosi, kontrol spingter menghilang, kejang-kejang, blok jantung dan koma.

Keracunan kronis

Penghambatan kolineseterase akan menetap selama 2-6 minggu (organofosfat). Untuk karbamat ikatan dengan AchE hanya bersifat sementara dan akan terlepas kembali setelah beberapa jam. Keracunan kronis untuk karbamat tidak ada.

Gejala-gejala bila ada menyerupai keracunan akut yang ringan. Tetapi bila eksposure lagi dalam jumlah yang kecil dapat menimbulkan gejala-gejala yang berat.

Diagnosis

  1. Anamnesa
  2. Gejala-gejala keracunan yang berat
  3. Laboratorium :
    1. TLC dll
    2. Kadar AchE dalam darah dan plasma ;
  • Cara Edson ( tintometer )
  • Cara Acholest ( paper-strip )

Cara Edson :

Prinsipnya berdasarkan perubahan pada pH darah

            AcHE —>  Cholin + Asam Asetat

Ambil darah korban, ditambahkan indikator brom-thymolblue, didiamkan beberapa saat, maka akan terjadi perubahan warna. Warna tersebut dibandingkan dengan warna standard pada comparator disc, maka dapat ditentukan kadar AchE dalam darah

% aktifitas AChE darah Interprestasi
75 % – 100 % dari normal Tidak ada keracunan
50 % – 75 % dari normal Keracunan ringan
25 % – 50 5 dari normal Keracunan sedang
0 % – 25 % dari normal Keracunan berat

Cara acholest

Diambil serum darah korban diteteskan pada kertas acholest, bersamaan dengan kontrol serum darah normal.

Kertas acholest sudah terdapat Ach dan indikator perubahan warna kertas tersebut dicatat waktunya. Perubahan warna harus sama dengan perubahan warna pembanding ( serum normal ) yaitu warna kuning telur ( yolk ).

Interprestasi :

  1. Kurang 18 menit , tidak ada keracunan
  2. 20 – 35 menit, keracunan ringan
  3. 35-150 menit, keracunan berat

Pengobatan

Keracunan Akut

Tindakan darurat medik

  1. Beri sulfat atropin dalam dosis tinggi
  2. Pernafasa buatan dan oksigen
  3. Kulit yang terkontaminasi dicuci dengan air dan sabun, dilakukan sebelum timbul gejala atatu telah terkontrol oleh atropin
  4. Kumbah lambung atau emesis. Bila gejala-gejala belum timbul, lakukan kumbah lambung dengan air muntah atau induksi muntah dengan sirup ipekak
  5. Laxane, Mg Sulfat 25 gr dalam segelas air, castrol oil merupakan kontra indikasi, karena memudahkan larutnya racun.

Antidotum

Sulfat atropin 2 mg ( IM ), dapat diulang setiap 3-6 menit sampai timbulnya atropinisasi ( wajah merah, mulut kering, pupil dilatasi, nadi cepat ). Pertahankan atropinisasi dengan mengulangi pemberian atropin 2 mg. Dikatakan pemberian atropin sebanyak 12 mg dalam 2 jam pertama adalah aman. Terapi atropin yang terputus akan disusul degera dengan fatal pulmonary edema atau kegagalan pernafasan.

Dosis untuk anak-anak adalah 0,04 mg / kg BB. Bila terdapat takikardi hebat dapat diberikan propanolol.

Kolinesterase reaktivator:

Hanya dipakai untuk keracunan organofosfat, berbahaya untuk jenis karbamat. Dibertikan setelah terjadi atropinisasi penuh.

Berikan pralidoxime ( Protopam, Pyridin-2-aldoxim methochloride, 2-PAM). 1 gr dalam larutan aqua ( IV ) perlahan-lahan, dapat diulang setelah 30 menit bila pernafasan tidak membaik. Dosis dapat diberikan 2 kali 24 jam.

Pemberian 2-PAM harus secepatnya, karena dapat timbul “ aging phenomene” yaitu dimana ikatan insektisida dengan AchE telah mengalami delakilasi, maka pemberian 2-PAM tidak dapat melepaskan ikatan tersebut. Hal ini berbahaya karena atropin tidak dapat memperbaiki paralise otot-otot pernafasan.

Tindakan umum

Sekresi jalan nafas dikerluarkan dengan postural drainage atau dengan kateter penyedot. Jauhkan morfin, aminofilin, barbiturat, fenotiazin dan penekan pusat pernafasan lainnya. Kejang-kejang dapat diatasi dengan anti kejang.

Keracunan kronis

Dapat diketahui dengan penentuan kadar AchE dalam darah, nila ada indikasi ( keracunan ringan ), maka pasien perlu diistirahatkan, berarti pasien tidak kontak lagi dengan insektisida.

Prognosis

Saat krisis adalah 4-6 jam pertama, pada keracunan akut. Pengobatan yang adekuat memnentukan akan hidupnya pasien.

PESTISIDA LAINNYA

Yang termasuk ini adalah barium, denitrofenol, kresol, nikotin, tiosianat dll. Sekarang sudah jarang dipakai, tidak dibicarakan lagi.

PENENTUAN RACUN INSEKTISIDA

Kristalografi

Bahan yang dicurigai, sisa makanan/minuman, muntahan, isi lambung, dimasukkan kedalam beker glas, dipanaskan dalam pemanas air sampai kering, kemudian dilarutkan dengan aceton dan disaring dengan kertas saring. Filtrat yang diperoleh diteteskan dalam gelas arloji dan dipanaskan sampai kering, lihat dibawah mikroskop. Bila terlihat seperti kristal-kristal seperti sapu, ini adalah insektisida golongan hidrokarbon terkhlorinasi

Thin Layer Cromatography

Kaca berukuran 20 x 20 cm, dilapisi dengan absorben silikat gel atau aluminium oksida. Lalu dipanaskan dalam oven 110° C selama 1 jam.

Filtrat yang akan diperiksa ( hasil ekstraksi dari darah, jaringan korban ) diteteskan dengan mikropipet pada TLC dan disertai dengan tetesan lain yang diketahui golongannya dan jenisnya serta konsentrasinya sebagai pembanding. Lalu kaca TLC dicelupkan ujungnya pada pelarut, biasanya n-hexan, celupan tidak boleh mengenai tetesan tersebut diatas. Dengan daya kapilaritas maka pelarut akan ditarik keatas sambil melarutkan filtrat-filtrat tadi. Setelah itu kaca TLC dikeringkan. Semprot dengan reagentia palladim clorida 0,5% dalam HCl Pekat, kemudian dengan diphenylamin 0,5% dalam alkohol.

Hasilnya:

Warna hitam ( dark ) –> golongan hidrokarbon terkhlorinasi

Warna hijau dengan dasar pink –> golongan organofosfat

Untuk menentukan jenisnya dalam golongan dapat diukur :

Rf = Jarak yang ditempuh oleh filtrat/ Jarak yang ditempuh oleh pelarut

Angka yang didapat dicocokkan dengan standar, maka dapat ditentukan jenisnya. Dengan membandingkan besarnya bercak dan intensitas warna dengan pembanding, maka dapat diketahui konsentrasinya.

Spektrofotometri

Gas Chromatography

PEMERIKSAAN POST MORTEM

Tidak ditemukan tanda-tanda khas pada keracuna akut, hanya ditemukan tanda-tanda asfiksia, edema paru, dan perbendungan organ-organ tubuh. Mungkin yang tercium adalah pelarutnya, misalnya terbau minyak tanah.

Pada keracunan kronis dalam percobaan pada binatang ditemukan :

  • Nekrosis sel-sel hati yang bersifat sentral dan bengkak keruh
  • Fakuolisasi, retikulasi basofilik yang jelas pada otak dan medula spinalis.
  • Perlemakan pada miokardium jantung.
  • Degenerasi pada sel tubuli ginjal.
  • Untuk pemeriksaan toksikologi diambil darah, jaringan hati, limpa, paru-paru dan lemak badan.

 ASPEK MEDIKOLEGAL

  1. Homicide
  2. Suicide
  3. Accidental

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s