Keracunan Sianida

Cyanida (CN) merupakan racun yang sangat toksik, karena hanya dalam jumlah kecil garam sianida yang diperlukan untuk dibawa oleh seseorang yang ingin meninggal dengan cepat, seperti yang pernah dilakukan oleh tokoh Nazi Herman Goering.

Kematian akibat racun CN biasanya ditemukan pada kasus-kasus bunuh diri dan pembunuhan, kemudian baru menyusul kasus-kasus kecelakaan dilaboratorium, penyemprotan (fumigation) dalam pertanian dan penyemprotan dalam gudang –gudang kapal.

Hydrogen Cyanida (HCN)

Sifat-sifat:

  • Cairan jernih yang bersifat asam, larut dalam air, alkohol dan eter.
  • Mempunyai titik didih 26,50 C sehingga mudah menguap dalam suhu ruangan.
  • Titik beku 140 C
  • Berbau khas bau amandel = Bitter almonds
  • Dipakai untuk sintesis kimia dan fumigation gudang-gudang kapal untuk membunuh tikus.

Sianida dapat dibuat dari reaksi garam CN dengan asam akan terbentuk HCN.

SUMBER – SUMBER SIANIDA

Dari mineral:

  • NaCN dan KCN dipakai dalam pengerasan besi dan baja, dalam penyepuhan emas, perak dan fotografi.
  • AgCN digunakan dalam pembuatan semir sepatu putih.
  • KFe++CN digunakan untuk fotografi.
  • Acrylonitrile untuk sintesis karet.
  • Ca Cyanimide untuk pupuk penyubur.
  • Cyanogen (C2N2) dipakai dalam sintesis kimiawi.

Dari biji tumbuh-tumbuhan :

            Yang mengandung Cyanogenetik glycoside atau Amigdaline yang dalam saluran pencernaan akan terlepas CN. Contohnya: singkong liar, umbi – umbian liar, temu lawak, cherry liar, plum, appricoat, Jetbery Bush, dll.

 ABSORPSI

  • Garam CN akan cepat diserap pada saluran pencernaan
  • Cyanogen dan uap HCN diserap melalui saluran pencernaan
  • HCN cair akan cepat diserap melalui kulit (glyconitrije, actonitrile) cepat diserap melalui kulit.

MEKANISME TOKSIKOLOGIK CN

Sianida masuk kedalam tubuh, dapat melalui oral, inhalasi dan kulit. Setelah diabsorpsi masuk kedalam darah sebagai CN bebas dan tidak dapat bereaksi dengan hemoglobin, kecuali dalam bentuk met-hemoglobin akan terbentuk cyano-methemoglobin (ini merupakan terapi dasar keracunan CN, dimana kita membentuk metHb. Cyano-metHb tidak bisa membawa oksigen tetapi cyano-metHb tidak toksik).

Sianida yang diabsorpsi dalam tubuh akan menginaktifkan secara radikal beberapa enzim oksidatif dari seluruh jaringan terutama cytochrome oxidase dengan mengikat bagian “Ferric heme group”nya. Dengan demikian akan mencegah “tissue utilization” dari oksigen yang dibawa oleh darah. Disamping itu sianida berefek penting, secara reflek merangsang pernafasan dengan kerjanya dibagian ujung saraf sensorik. Di “catoric body “(chemoreceptor) sehingga pernafasan bertambah cepat dan dalam hal ini menyebabkan gas racun yang diinhalasi makin banyak. Enzim cytochrome oxidase terdapat didalam mitokondria sel dan proses oksidasi dan reduksi.

Oleh karena itu, proses reaksi reduksi dalam sel tidak dapat berlangsung, Oxy-Hb berdisosiasi melepas O2 ke sel jaringan, maka akan terjadi anoksia jaringan (histotoksik anoksia). Ini adalah paradoks dimana orang meninggal akibat hipoksia, tetapi kaya akan oksigen dalam darahnya. Lebam mayat kasus keracunan CN berwarna merah terang karena didalam darah vena korban kaya akan Oxy-Hb.

KOSENTRASI TOKSIK

Peroral untuk

  • HCN : 60 – 90 mg
  • KCN/NaCN : 200 mg

Kosentrasi gas sianida dalam udara lingkungan dan lamanya inhalasi menentukan kecepatan timbulnya gejala – gejala dan kematian;

  • 10 ppm : TLV (Treshold Limit Value) = 11 mg percu M untuk HCN dan debu sianida TLV = 5 mh per cu M
  • 20 ppm : Gejala ringan setelah beberapa jam
  • 100 ppm : sangat berbahaya dalam 1 jam
  • 200 – 400 ppm : Meninggal dalam 30 menit
  • 2000  ppm : Meninggal seketika

Adakalanya orang keracunan sianida lebih dari lethal dosis, tetapi tidak meninggal.

Ini karena faktor – faktor :

  1. Toleransi individual, mempunyai daya detoksifikasi yang berlebih – lebihan dari tubuh untuk mengubah CN menjadi cyanate dan sulfocynate.
  2. An-aciditas asam lambung, menyebabkan garam CN yang ditelan tidak terurai oleh asam lambung menjadi HCN. Keadaan ini dikenal sebagai “Rasputi Immunity”. Tetapi hal ini sekarang telah dibantah, karena adanya air dalam lambung, garam sianida sudah dapat diurai menjadi HCN.
  3. Dalam penyimpanan, sianida sudah berubah menjadi garam karbonat,

Misalnya :

NaCN + udara —> Na2CO3 + NH3’

GEJALA – GEJALA KERACUNAN SIANIDA

AKUT :

  • Racun sianida yang ditelan cepat menyebabkan kegagalan pernapasan dan kematian dapat timbul dalam beberapa menit. Dalam interval yang pendek antara menelan racun sampai kematian dapat ditemukan gejala-gejala dramatis, pasien mengeluh merasa terbakar pada kerongkongan dan lidah, sesak nafas hipersalivasi, nausea dan muntah, sakit kepala, vertigo, fotofobia, tinitus, dizzines, dan kelelahan. Kita dapat menemukan sianosis pada muka, keluar busa dari mulut, nadi yang cepat dan lemah, pernapasan yang cepat dan kadang – kadang irregular, pupil dilatasi dan berefek lambat, hawa pernafasan dapat tercium bau amandel, juga dari muntahan tercium bau amandel. Menjelang kematian sianosis lebih nyata dan timbul twiching otot-otot kemudian kejang – kejang dengan inkontinensia urin.
  • Racun diinhalasi, pasien merasa palpitasi kesukaran bernafas, nausea, muntah, sakit kepala lakrimasi, iritasi pada mulut dan kerongkongan dan pusing, kelemahan ekstremitas dapat timbul dan kemudian pasien kolaps, kadang – kadang koma, dan mati.

KRONIK :

  • Pasien pucat, keluar keringat dingin, pusing, tidak enak dalam perut, mual dan kolik, dada rasa tertekan, pernafasan dirasakan sesak. Keracunan kronik sianida dapat menyebabkan goiter dan hipotiroidisme akibat terbentuknya sulfocyanate.

Calcium cyanide menghambat aldehid oksidase dan karena itu toleransi terhadap alkohol menjadi berkurang. Gejala keracunan berupa sakit kepala, vertigo, kesukaran bernafas dan meninggal akibat kegagalan pernafasan.

EKSKRESI RACUN SIANIDA

Sianida dioksidasi dalam tubuh menjadi cyanate dan sulfocanate, dan dikeluarkan dari tubuh bersama urin.

PENGOBATAN

Keracunan Sianida yang di inhalasi

  1. Tindakan emergensi
    • Pindahkan korban ke udara yang bersih.
    • Beri amilnitrit secara inhalasi,1 amp (0,2 cc, 3 menit) setiap 5 menit. Pemberian dihentikan bila tekanan darah sistolik 80 mmhg.
    • Beri pernafasan buatan dengan 100% untuk menjaga tension oksigen dalam darah tinggi. Dapat juga dipakai hyperbaric oxygen (resuscitasi mouth to mouth merupakan kontra indikasi).
  2. Antidote:
    • Sodium nitrit diberikan secepat mungkin, dalam larutan 3 % (IV) dengan kecepatan 2,5-5 cc / menit. Pemberian dihentikan bila tekanan darah sistolik 80 mmhg. Pemberian nitrit akan merubah Hb menjadi met Hb dan akan mengikat CN membentuk cyanmet Hb. Jumlah nitrit yang diberikan harus didasarkan level Hb dan berat badan orang yang diobati. Jumlah nitrit cukup merubah 26 % Hb menjadi met Hb. Pemberian nitrit harus didasarkan dari penentuan met Hb dan total met Hb tidak boleh melebihi 40% (met Hb tidak boleh mengangkut O2, bila terjadi kelebihan met Hb, beri reduktor vit C intravena). Bila tekanan darah sistolik turun pada pemberian nitrit, beri 0,1 mg levarterenol atau efinefrin intravena.
    • Sodium thiosulfate diberikan menyusul pemberian Na nitrite dalam larutan 25% (IV),dengan kecepatan 2,5 – 5 cc / menit. Thiosulfate merubah sianida menjadi thiosianat. Dosis thiosulfat harus di dasarkan pada Hb dan berat badan korban.
    • Hidrokso – kobalamin juga dianjurkan sebagai antidot terutama pada keracunan kronik. Ada yang mengatakan bahwa Cobalt EDTA sebagai “drug of choice” dengan dosis 300 mg (IV) yang akan mengubah sianida menjadi cobalt cyanida (CoCN6) yang larut dalam air.

 Keracunan sianida yang ditelan.

  1. Tindakan emergency :
    • Inhalasi amilnitrit
    • Lavage lambung harus ditunda sampai telah diberikan antidot nitrit dan thiosulfat. Lavage lambung dengan Na thiosulfat 5% dan ditinggalkan 200 CC (10 gram) dalam lambung. Dapat juga dengan memakai Kalium Permanganas (PK) 0,1% atau H2O 2.3% yang diencerkan 1-5 kali atau dengan 2 sendok the animal charcoal atau”Universal Antidote” dalam satu gelas air dan kemudian dikosongkan lambung dengan dimuntahkan atau lavage.
    • Pernafasan buatan dengan 100% oksigen.
  2. Antidot: sda

Keracunan dengan menelan Ca sianamid

Antidot belum diketahui. Setelah lavage lambung diberikan pengobatan simptomatis. Antidot selain nitrit, dapat juga diberikan methylene blue 100%, sebanyak 50 cc (IV), yang merubah Hb menjadi met – Hb. Tetapi ternyata met-Hb yang terbentuk tidak dapat bereaksi dengan sianida dan kerjanya methylene blue sebagai antidot masih belum diketahui.

PROGNOSIS KERACUNAN SIANIDA

Pada keracunan akut, bila korban dapat hidup selama 4 jam maka pasien biasanya akan sembuh. Kadang – kadang terdapat gejala-gejala sisa berupa gejala -gejala neurologik.

KELAINAN – KELAINAN POSTMORTEM

Pemeriksaan Luar

  • Pathognomonic untuk keracunan sianida bila tercium bau khas bau amandel, dengan menekan dada mayat maka akan keluar gas dari mulut dan hidung. Kita harus cepat dapat mendeteksi bau tersebut karena indra penciuman kita cepat menjadi lumpuh. Harus diingat bahwa tidak semua orang dapat mencium bau tersebut, kemampuan untuk mencium bau khas tersebut adalah pada “sex-linked trait”.
  • Sianosis pada wajah dan bibir, busa pada mulut, lebam mayat berwarna merah terang (warna merah terang karena darah vena kaya akan oxy-Hb ). Ada yang mengatakan karena cyan met-Hb (A.Fatteh). Warna lebam yang merah terang tidak selalu ditemukan pada kasus keracunan dengan sianida, bisa juga seperti lebam mayat seperti biasa, livid. Hal ini tergantung pada keadaan dan derajat keracunan.

 Pemeriksaan dalam.

  • Dapat tercium bau khas bau amandel ketika membuka rongga dada, perut, otak serta lambung (bila racun per-oral).
  • Darah, otot-otot dan penampang organ-organ tubuh dapat berwarna merah terang .
  • Selanjutnya hanya ditemukan tanda – tanda asfiksia pada organ-organ tubuh. Kecuali bila racun garam alkali sianida dapat ditemukan kelainan pada mukosa pada lambung berupa korosi dan berwarna merah kecoklatan (karena terbentuk hematine alakli), perabaan pada muka licin seperti sabun. Korosi dapat mengakibatkan perforasi lambung yang dapat terjadi antemortal atau posmortal.

 Penentuan racun sianida

  1. Reaksi schonbein – pagenstecher (reaksi guajacol)
    • Masukkan 50 mg isi lambung/jaringan ke dalam botol erlemeyer. Kertas saring (panjang 3 – 4 cm, lebar 1- 2 cm) dicelupkan kedalam larutan guajacol 10% dalam alkohol, keringkan, lalu celupkan dalam air. 0,1% CuSO4 dalam air dan kertas saring digantungkan diatas jaringan dalam botol.
    • Bila isi lambung alkalis, tambahkan asam tatrat untuk gabus mengasamkan, agar KCN mudah terurai. Botol tersebut dihangatkan reaksi positif akan terbentuk warna biru – hijau. Kertas Saring pada kertas saring. Reaksi ini tidak spesifik, false positif akan terjadi dengan: hidrogen, amonia, khlorin, nitrogen, jaringan oksigen dan ozon.Jadi reaksi ini merupakan screening test.
  2. Test dengan kertas saring
    • Kertas saring dicelupkan kedalam lar, asam pikrat jenuh, keringkan setengah         basah. Teteskan satu tetes isi lambung atau darah korban, diamkan sampai agak kering, lalu teteskan Na2 CO3 1% satu tetes. Positif bila terbentuk warna lembayung.
    • Kertas saring dicelupkan kedalam lar. HJO3 1% kemudian kedalam larutan kanji 1% dan keringkan. Setelah itu kertas saring dipotong – potong seperti kertas lakmus. Kertas ini dipakai untuk pemeriksaan masal pada pekerja-pekerja yang kontak dengan sianida. Caranya dengna membasahkan kertas dengan ludah di bawah lidah, bila berubah warna menjadi biru, positif keracunan. Biru muda meragukan, bila tidak berubah warna (merah muda), keracunan negatif.
    • Kertas saring dicelupkan kedalam lar. KCI,dikeringkan dan dipotong kecil-kecil. Kertas tersebut dicelupkan kedalam darah korban,bila positif akan berubah menjadi merah terang karena terbentuk cyan-met Hb.
  3. Reaksi Prusian Blue (Biru Berlin)
    • Isi lambung / jaringan di destilasi dengan destilator, 5cc destilat + 1cc NaOH 50% + 3 tetes FeSO4 10% + 3 tetes FeCI3 5%, panaskan sampai hampir mendidih, lalu dinginkan dan ditambahkan HCl pekat tetes demi tetes sampai terbentuk endapan Fe(OH)3, teteskan terus sampai endapan larutan kembali dan warna biru berlin.
  4.  Cara Gettler – Goldbaum.
    • Digunakan flange, 2 buah dan diantara kedua flange dijepitkan kertas saring Whatman no.20 yang digunting sebessar flange. Kertas saring dicelupkan dalam lar FeSO4 10% selama 5 menit, keringkan lalu celupkan dalam larutan NaOH 20% selama beberapa detik. Letakkan kertas saring diantara kedua flange dan dijepit.
    • Kertas saring dalam flange diambil dan dicelupkan dalam lar. HCI pekat yang diencerkan ¼. Bila positif akan terbentuk warna biru, kemudian dicuci dengan aquades untuk menghilangkan garam – garam besi yang masih terdapat pada kertas. Reaksi ini sangat sensitif bila penampang lubang 8 mm maka dapat ditentukan konsentrasi 1 ug. Bila penampang 4 mm konsentrasi 0,2 ug. Dengan cara membandingkan intensitas warna dengan warna-warna dari larutan standard maka dapat ditentukan konsentrasinya.

Interpretasi pemeriksaan :

Orang normal dapat ditemukan 15 ug /100cc darah.

Intoksikasi :

  • Perinhalasi   – – – – >100ug/100cc darah.
  • Peroral         – – – ->1 mg/100cc darah.

Bahan-bahan yang diambil untuk pemeriksaan toksikologis :

  • Darah
  • Bagian tengah dari otak
  • Limpa
  • Paru-paru (bila racun perinhalasi)

Bagian tengah otak dan limpa bukanlah tempat penimbunan racun terbanyak disini tetapi lebih tahan terhadap penambahan racun sianida akibat proses pembusukan. Pada jaringan yang busuk dapat ditemukan 0,03 mg/100 gr jaringan.

Hal lain yang perlu diingat bahwa mayat akibat keracunan sianida yang diawetkan dengan formalin,akan merusak sianida sehingga tidak dapat ditentukan lagi.

Pada kebakaran dimana banyak bahan-bahan plastik yang ikut terbakar akan terbentuk sianida ,begitu juga bahan-bahan yang mengandung nitrogen seperti wol dan sutra atau celluid misalnya film fotografi yang mengandung nitro-cellulose.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s